Struktur Modal Kuat, Bank Siap Bersaing

Selasa, 09/12/2014

NERACA

Jakarta - Peneliti Institute for Development Economy and Finance, Berly Martawardaya, menilai bank-bank BUMN harus memperkuat struktur permodalannya agar dapat menghadapi persaingan dengan bank-bank asing pada Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) lima tahun ke depan.

"Bank-bank di Indonesia harus konsolidasi, termasuk bank-bank BUMN, harus merger. Saat ini aset bank terbesar Indonesia masih kalah jauh dibandingkan Bank DBS Singapura, apalagi dari sisi permodalannya," ujar Berly di Jakarta, Senin (8/12).

Data Statistik Perbankan Indonesia menunjukkan, selama periode Desember 2010 hingga September 2014, penguasaan pangsa pasar aset bank-bank asing dan campuran terhadap total aset perbankan nasional semakin membesar, yakni dari 12,37% menjadi 12,88%.

Sedangkan pada saat yang sama, penguasaan pangsa pasar aset bank-bank BUMN semakin tergerus, yakni dari 37,07% menjadi tinggal 34,29% terhadap total aset industri perbankan. Berly khawatir pangsa pasar bank-bank asing akan semakin membesar jika industri perbankan nasional tidak berupaya meningkatkan daya saingnya.

Menurut Berly, guna menghadapi persaingan dengan bank-bank asing, industri perbankan nasional, termasuk bank-bank BUMN, harus melakukan efisiensi (cutting cost). Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan efisiensi adalah melakukan merger.

"Direksi bisa menjadi lebih kecil. Bayangkan satu orang direksi saja dibayar Rp1 miliar-Rp2 miliar setahun. Belum penghematan dari sisi operasional cabangnya," kata Berly. Dia juga menambahkan, konsolidasi bank diperlukan untuk meningkatkan modal perbankan yang lebih besar sehingga siap memasuki era liberalisasi perbankan ASEAN.

Sejumlah negara-negara ASEAN saat ini, seperti Malaysia dan Singapura, sudah memiliki pasar perbankan yang efisien dan mengikat (captive), sehingga marjinnya menjadi lebih kecil. Selain itu, bank-bank asing juga cepat mengembangkan produk-produk perbankan yang beragam dibandingkan bank-bank BUMN.

Ke depan, Indonesia harus bisa memiliki bank berskala global dengan melakukan ekspansi ke negara-negara Malaysia, Singapura, ataupun negara-negara ASEAN lainnya yang dinilai memiliki prospek bisnis yang baik. Melalui konsolidasi, Berly yakin bank-bank BUMN dapat menjadi pemain besar yang diperhitungkan di kawasan ASEAN dan mampu berekspansi ke negara-negara ASEAN.

Saat ini, jawara perbankan ASEAN masih dipegang oleh DBS Group dengan aset mencapai 321 miliar dolar AS, OCBC Bank 270 miliar dolar AS, dan UOB Bank Singapura sebesar 227 miliar dolar AS. Di posisi keempat adalah Maybank dengan aset mencapai 172 miliar dolar AS, CIMB Group 114 miliar dolar AS, dan Bank Publik 94 miliar dolar AS.

Dari sisi permodalan, bank dengan modal terbesar di ASEAN adalah Bank DBS Singapura, yakni sebesar 26,5 miliar dolar AS, disusul Bank UOB 19,2 miliar dolar AS, dan OCBC senilai 18 miliar dolar AS. Sementara itu, modal Bank Mandiri baru mencapai 7,3 miliar dolar AS, BRI 6,5 miliar dolar AS, dan BCA 5,3 miliar dolar AS. [ardi]