AirAsia Tunda Tambah Pesawat Baru

Imbas Anjloknya Rupiah

Selasa, 09/12/2014

NERACA

Jakarta – Masih berfluktuatifnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menjadi momok menakutkan bagi industri penerbangan tanah air. Pasalnya, sebagian besar transaksi masih memakai mata uang dollar seperti beli avtur dan pesawat baru. Hal inilah yang dialami maskapai penerbangan nasional PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) yang merugi akibat melemahnya nilai tukar rupiah.

Hal yang sama juga dialami PT AirAsia Indonesia, dimana imbas pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan mempengaruhi pembelian pesawat baru pada tahun depan. Akibatnya, AirAsia Indonesia hanya mendatangkan dua pesawat baru tipe Boeing A320 tahun depan,”Kita memang ingin tambah pesawat tetapi angkanya belum tahu. Karena ini tergantung kondisi makro kita. Enggak sampai lima pesawat. Kalau nambah mungkin dua pesawat. Tetap Airbus tipe yang sama,”kata CEO AirAsia Indonesia, Sunu Widyatmoko di Jakarta, Senin (8/12).

Sunu menjelaskan, hingga saat AirAsia melihat posisi Rupiah masih mengalami tren pelemahan. Hal ini lantaran perbaikan ekonomi AS yang berencana menaikkan suku bunganya tahun depan, pasalnya hal ini menjadi salah satu perhitungan dalam pembelian pesawat,”Trennya pun sekarang melemah karena kan dolar AS itu ada potensi menaikkan interest rate. Kita lihat dulu, saya belum tahu berapa angkanya. Ini yang harus kita lihat,”paparnya.

Meski demikian, Sunu mengatakan penambahan pesawat tersebut harus dikonsolidasikan dengan induk perusahaan yaitu PT AirAsia Bhd. Dikarenakan, pembelian pesawat tersebut merupakan wewenang dari induk perusahaan asal Malaysia tersebut,”Jadi gini, kita kalau order pesawat itu secara grup. Kita tidak sendiri. Kita konsolidasikan secara grup. Yang bisa saya sampaikan, Indonesia nambah tetapi masih tergantung itu tadi,”tandasnya.

Asal tahu saja, maskapai penerbangan berbiaya murah ini pernah menyatakan rencananya untuk melakukan penawaran umum saham perdana di pasar modal. Namun CEO AirAsia Tony Fernandes mengatakan, belum bisa memastikan kapan untuk go public atau IPO,”IPO di Indonesia menarik untuk dilakukan. Saat ini memiliki 100% saham Air Asia Indonesia. Kami harus membicarakannya dengan komisaris,”ujarnya.

Perusahaan asal Malaysia ini berencana untuk go public pada kuartal ketiga 2013. Dalam pernyataan sebelumnya, Tony mengaku penundaan ini bukan karena kondisi pasar modal Indonesia. Kemudian bicara soal target laba Air Asia pada tahun ini, Tony tidak mau menjelaskan. Dia menyatakan akan terus berusaha agar perusahaannya bisa berkembang dan tumbuh pesat pada tahun ini. "Saya tidak bisa bilang. Tapi saya berharap akan lebih baik pada tahun ini,”jelasnya.

AirAsia kembali menggenjot komposisi rute penerbangan regionalnya. Bila selama ini mengoperasikan rute internasional itu kembali memperkuat rute regionalnya. Kali ini membuka penerbangan langsung Singapura–Solo dan Singapura-Lombok. Diharapkan, dengan penambahan ini, porsi internasional di angka 60% dan porsi domestik di angka 40%.

Kata Direktur Komersial PT Indonesia Air Asia Andy, penambahan ini memang tidak terlalu banyak mengubah komposisi porsi rutenya. Dia beralasan karena perseroan juga terus melakukan penambahan rute domestik maka jarak porsi keduanya tidak terlalu jauh atau hampir sama.

Sementara mengenai pemilihan Singapura sebagai destinasi sendiri, menurutnya itu dilakukan karena memang negara tersebut merupakan salah satu negara tetangga yang paling dekat dan paling banyak dikunjungi. Kata dia, meski terjadi pelemahan terhadap mata uang rupiah tetapi kenyataannya masih banyak orang yang ingin pergi ke sana. (bani)