Sepekan Pasar Obligas Rawan Terkoreksi

NERACA

Jakarta – Analis pasar modal PT Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada mengatakan, laju pasar obligasi pada pekan ini diprediksi memiliki potensi melemah jika tidak diimbangi sentimen positif lantaran banyaknya sentimen negatif yang berkembang di pasar,”Pasar obligasi pekan ini akan dipengaruhi oleh mulai adanya keinginan ambil untung (profit taking) yang didukung kurang kondusifnya sentimen dari dalam negeri terkait dengan pelemahan rupiah, penilaian akan kembali meningkatnya BI rate untuk meredam inflasi pasca kenaikan harga BBM, hingga penurunan cadangan devisa,”ungkap Reza yang juga kepala riset PT Woori Korindo Securities Indonesia di Jakarta, Senin (8/12).

Menurutnya, sentimen tersebut mempengaruhi pasar obligasi, sehingga berpotensi melemah jika tidak diimbangi oleh sentimen positif lainnya. Pasalnya, jika ada sentimen positif atau jika pelaku pasar memanfaatkan pelemahan sebelumnya untuk dapat kembali mengakumulasi, sehingga dapat menahan pelemahan yang terjadi maka dia mengestimasikan pasar obligasi dapat bergerak menguat dengan minimal perubahan harga obligasi rerata sebanyak 15-25 basis points (bps).

Tetapi, jika sentimen negatif dan aksi profit taking masih berlanjut maka harga obligasi akan berpotensi melemah hingga minimal rerata 45-60 bps. "Untuk itu, tetap cermati perubahan dan antisipasi sentimen yang ada," saran Reza.

Sementara laju pasar obligasi sepanjang pekan kemarin berbalik melemah seiring aksi jual setelah merespon sentimen yang ada. Salah satunya terkait dengan adanya kenaikan harga BBM yang memberikan imbas pada kenaikan harga sejumlah barang, sehingga berpengaruh pada lonjakan inflasi.

Pelaku pasar sempat menilai dan khawatir jika nantinya kembali terjadi inflasi maka diperkirakan oleh mereka bahwa BI nantinya akan kembali menaikkan suku bunganya. Perkiraan ini yang mempengaruhi minat transaksi dan terjadi aksi lepas obligasi. Tetapi, efek negatif tersebut makin tereduksi dengan tercatatnya surplus neraca perdagangan bulan Oktober.

Masih berlanjutnya laju rupiah yang cenderung tertekan dengan kembali menguatnya dollar AS membuat pelaku pasar khawatir akan pergerakan rupiah ke depannya, sehingga pelaku pasar cenderung melepas obligasinya yang beberapa minggu sebelumnya terapresiasi. Asal tahu saja, tahun depan pasar obligasi di Indonesia diprediksi menggembirakan. Walaupun akan sedikit terganggu pada kuartal I-2015, dan mulai menanjak di kuartal II-2015.

Direktur PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), Wahyu Trenggono pernah bolang, tahun depan kelihatannya menggembirakan, “Kalau kita lihat dari kenaikan BBM tahun ini, biasanya akan diikuti kenaikan inflasi, yang secara historis kita lihat efeknya adalah sekitar 3-4 bulan setelah kenaikan BBM,”ujarnya.

Dia melanjutkan, sesudah masa itu, baru lah inflasi akan stabil. Begitu pula dengan suku bunga yang akan stabil sesudah empat bulan. Ini berarti, investor dapat berharap banyak bahwa pada kuartal I-2015 akan sedikit terganggu, namun setelah kuartal II-2015 penerbitan obligasi akan marak.

Oleh karena itu, bukan tidak mungkin di tahun depan pasar obligasi Indonesia akan mengalami banyak tantangan. Mengingat kondisi perekonomian di Indonesia saat ini sedang sedikit 'bergejolak' usai kenaikan harga BBM. (bani)

BERITA TERKAIT

Volume Penjualan SMCB Masih Terkoreksi

Lesunya pasar semen dalam negeri dirasakan betul oleh PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB). Perusahaan yang dulunya PT Holcim Indonesia…

BEI Delisting Pencatatan Efek SIAP di Pasar

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin menghapus pencatatan efek saham milik PT…

Perbesar Pasar Ekspor - Sritex Bidik Pendapatan US$ 1,19 Miliar

NERACA Jakarta – Seiring dengan upaya memperbesar pasar ekspor, PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex tahun ini mengincar…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BPII Terima Dividen Tunai Rp 12,99 Miliar

PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII) pada tanggal 12 Juni 2019 memperoleh dividen tunai tahun buku 2018 sebesar Rp12,99 miliar…

Kerugian Steady Safe Susut Hingga 54%

Meskipun masih mencatatkan rugi di kuartal pertama 2019, PT Steady Safe Tbk (SAFE) mengklaim rugi bersih yang dibukukan senilai Rp1,809…

Volume Penjualan SMCB Masih Terkoreksi

Lesunya pasar semen dalam negeri dirasakan betul oleh PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB). Perusahaan yang dulunya PT Holcim Indonesia…