Harga Saham PGN Ikut Terkerek Naik

Kebijakan Konversi BBM Ke Gas

Senin, 08/12/2014

NERACA

Bandung – Kebijakan pemerintah yang terus mendorong optimalisasi konversi bahan bakar minyak (BBM) ke gas diyakini akan mendongkrak kenaikan harga saham PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) di 2015.

Presiden dan Pendiri PT Astronacci International, Gema Goeryadi menilai, konversi tersebut membuat PGAS akan dapat windfall,”Berdasarkan analisa finansial saham PGAS flat sebelum kenaikan harga BBM. Ke depannya, PGAS akan dapat windfall dari kenaikan BBM," ujarnya di Bandung, kemarin.

Menurutnya, pada Kuartal IV-2014 dan sepanjang 2015 permintaan terhadap energi di Indonesia akan meningkat sangat tinggi. Dia menyebutkan, peningkatan ini tidak terlepas dari sejumlah kebijakan Presiden Joko Widodo yang mengarah pada pengembangan infrastruktur,”Malaysia juga sudah menaikkan harga BBM-nya untuk mendorong pengembangan infrastruktur. Diperkirakan permintaan energi di kawasan ASEAN akan meningkat dua kali lebih cepat dari rata-rata permintaan global," jelasnya.

Dia mengungkapkan, menipisnya selisih harga BBM bersubsidi dengan harga keekonomian menjadi salah satu pemicu bagi sejumlah negara di ASEAN untuk mengaplikasikan kebijakan konversi BBM ke gas,”PGAS akan diuntungkan di sini, karena energi nuklir tidak mungkin diterapkan. Sehingga, gas dan batu bara yang diminati,”ungkapnya.

Bagi Ketua Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan, PT Perusahaan Gas Negara Tbk berperan penting dalam menyukseskan kebijakan pemerintah mengkonversi BBM ke bahan bakar gas (BBG),”ebagai perusahaan distribusi gas, PGN telah memiliki infrastruktur yang cukup baik," ujarnya.

Menurut dia, dengan konversi dari minyak ke gas maka akan menghemat biaya subsidi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)."Dengan demikian defisit transaksi berjalan membaik, dan rupiah menguat," ujarnya.

Dia menambahkan bahwa produksi gas saat ini kurang lebih sekitar 3 triliun kaki kubik per hari. Besarnya produksi gas itu bisa dijadikan pilihan pemerintah sebagai pendukung energi ke depan. "Biaya gas juga murah dan ramah lingkungan," kata Haryajid Ramelan.

Di tempat yang sama, Vice President Corporate Communication PGN Ridha Ababil mengatakan bahwa kebutuhan bahan bakar minyak di Indonesia sangat tinggi sehingga Indonesia harus mengimpor,”Untuk memenuhi kebutuhan BBM di dalam negeri, sebanyak 50% didapat dari impor. Dengan menggunakan bahan bakar gas, maka Indonesia bisa mengurangi 50% impor tersebut,”ungkapnya.

Selain itu, lanjutnya, kedepannya perseroan berharap ada peningkatan konsumsi gas untuk rumah tangga. Dirinya menjelaskan, dari sisi konsumsi saat ini, konsumsi rumah tangga masih kurang dari 2% volume yang dijual ke seluruh pelanggan,”Karena konsumsi saat ini masih terbatas dengan konsumsi kebutuhan dapur, dan belum berkembang ke kebutuhan lainnya,” jelasnya.(retno)