Harga Saham PGN Ikut Terkerek Naik - Kebijakan Konversi BBM Ke Gas

NERACA

Bandung – Kebijakan pemerintah yang terus mendorong optimalisasi konversi bahan bakar minyak (BBM) ke gas diyakini akan mendongkrak kenaikan harga saham PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) di 2015.

Presiden dan Pendiri PT Astronacci International, Gema Goeryadi menilai, konversi tersebut membuat PGAS akan dapat windfall,”Berdasarkan analisa finansial saham PGAS flat sebelum kenaikan harga BBM. Ke depannya, PGAS akan dapat windfall dari kenaikan BBM," ujarnya di Bandung, kemarin.

Menurutnya, pada Kuartal IV-2014 dan sepanjang 2015 permintaan terhadap energi di Indonesia akan meningkat sangat tinggi. Dia menyebutkan, peningkatan ini tidak terlepas dari sejumlah kebijakan Presiden Joko Widodo yang mengarah pada pengembangan infrastruktur,”Malaysia juga sudah menaikkan harga BBM-nya untuk mendorong pengembangan infrastruktur. Diperkirakan permintaan energi di kawasan ASEAN akan meningkat dua kali lebih cepat dari rata-rata permintaan global," jelasnya.

Dia mengungkapkan, menipisnya selisih harga BBM bersubsidi dengan harga keekonomian menjadi salah satu pemicu bagi sejumlah negara di ASEAN untuk mengaplikasikan kebijakan konversi BBM ke gas,”PGAS akan diuntungkan di sini, karena energi nuklir tidak mungkin diterapkan. Sehingga, gas dan batu bara yang diminati,”ungkapnya.

Bagi Ketua Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan, PT Perusahaan Gas Negara Tbk berperan penting dalam menyukseskan kebijakan pemerintah mengkonversi BBM ke bahan bakar gas (BBG),”ebagai perusahaan distribusi gas, PGN telah memiliki infrastruktur yang cukup baik," ujarnya.

Menurut dia, dengan konversi dari minyak ke gas maka akan menghemat biaya subsidi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)."Dengan demikian defisit transaksi berjalan membaik, dan rupiah menguat," ujarnya.

Dia menambahkan bahwa produksi gas saat ini kurang lebih sekitar 3 triliun kaki kubik per hari. Besarnya produksi gas itu bisa dijadikan pilihan pemerintah sebagai pendukung energi ke depan. "Biaya gas juga murah dan ramah lingkungan," kata Haryajid Ramelan.

Di tempat yang sama, Vice President Corporate Communication PGN Ridha Ababil mengatakan bahwa kebutuhan bahan bakar minyak di Indonesia sangat tinggi sehingga Indonesia harus mengimpor,”Untuk memenuhi kebutuhan BBM di dalam negeri, sebanyak 50% didapat dari impor. Dengan menggunakan bahan bakar gas, maka Indonesia bisa mengurangi 50% impor tersebut,”ungkapnya.

Selain itu, lanjutnya, kedepannya perseroan berharap ada peningkatan konsumsi gas untuk rumah tangga. Dirinya menjelaskan, dari sisi konsumsi saat ini, konsumsi rumah tangga masih kurang dari 2% volume yang dijual ke seluruh pelanggan,”Karena konsumsi saat ini masih terbatas dengan konsumsi kebutuhan dapur, dan belum berkembang ke kebutuhan lainnya,” jelasnya.(retno)

BERITA TERKAIT

Ini Penjelasan Harga Cabai Merah Stabil Tinggi

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan mencatat harga cabai merah keriting dan cabai merah besar di sejumlah pasar tradisional menunjukkan peningkatan…

Aneka Gas Bagikan Dividen Rp 9,97 Miliar

NERACA Jakarta - Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT Aneka Gas Industri Tbk (AGII) memutuskan untuk membagikan dividen sebesar…

BI akan Melakukan Penyesuaian Kebijakan Moneter

    NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai Bank Indonesia (BI) akan melakukan penyesuaian kebijakan moneter…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BPII Terima Dividen Tunai Rp 12,99 Miliar

PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII) pada tanggal 12 Juni 2019 memperoleh dividen tunai tahun buku 2018 sebesar Rp12,99 miliar…

Kerugian Steady Safe Susut Hingga 54%

Meskipun masih mencatatkan rugi di kuartal pertama 2019, PT Steady Safe Tbk (SAFE) mengklaim rugi bersih yang dibukukan senilai Rp1,809…

Volume Penjualan SMCB Masih Terkoreksi

Lesunya pasar semen dalam negeri dirasakan betul oleh PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB). Perusahaan yang dulunya PT Holcim Indonesia…