Bisnis Group Bakrie Dinilai Tidak Taat GCG

Hilangnya Kepercayaan Investor

Senin, 08/12/2014

NERACA

Bandung - Saham perusahaan-perusahaan grup Bakrie yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) terlihat semakin memburuk dari waktu ke waktu. Kata Presiden dan Pendiri PT Astronacci International Gema Merdeka Moeryadi, hal tersebut terjadi dikarenakan masing-masing perseroan tidak menerapkan tata kelola perusahaan dengan baik,”Para pemimpin perusahaan yang tergabung dalam grup Bakrie merupakan penyebab utama hilangnya kepercayaan investor dan bukan karena sektor atau bisnis yang dijalankannya,”ujarnya di Bandung, kemarin.

Menurutnya, seharusnya jika emiten mencari modal darimarketjagalah kepercayaan masyarakat dan jangan membuatcorporate governanceyang tidak benar. Oleh karena itu, dirinya berharap seluruh direksi yang ada di perusahaan grup Bakrie diganti oleh orang-orang yang lebih mampu membangun kepercayaan investor.

Dia menilai, hilangnya kepercayaan investor terlihat dari aksi korporasi yang dilakukan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) saat melakukan penerbitan saham baru, tetapi tidak ada yang membeli saham tersebut,”Investor kurang percaya dengan BUMI. Sekarang tuh investor sudah terkoneksi dengan dunia luar. Mereka sudah bisa menilai. Jadi, harus ada transformasi besar-besaran,”tandasnya.

Sementara menurut Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan, anjloknya saham Group Bakrie dipicu karena dari anjloknya saham PT Bumi Resources Tbk. Pasalnya, saham sektor pertambangan ini merupakan motor penggerak saham-saham perusahaan Group Bakrie lainnya yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI),”Jika saham BUMI mengalami pelemahan, akan berimbas pada kinerja saham perusahaan lainnya,”ungkapnya.

Tercatat, beberapa saham group Bakrie saat ini berada di level Rp 50 per saham, seperti PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), PT Bakrie Sumatra Plantation Tbk (UNSP), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), PT Darma Henwa (DEWA). Sementara, saham BUMI saat ini di level Rp 78 per saham.

Haryajid menuturkan, restrukturisasi berlarut dan lama dilakukan, maka kepercayaan investor akan berkurang,”Dulu BUMI bagus, sekarang drop. Ini agak riskan membawa saham Bakrie yang lain. Satu motornya BUMI, kalau motornya jelek (BUMI), maka akan jelek," ujarnya.

Dia mengatakan, keterpurukan itu menyusul sepakterjang manajemen tidak kunjung membaik. Tata kelola perusahaan berjalan timpang. Efeknya, kini perseroan terjerat utang sekitar US$ 3,7 miliar atau setara Rp 45 triliun.

Menurut Haryajid, agak susah untuk membalikkan saham BUMI kembali ke arah positif karena investor kebanyakan melihat orang di belakang group Bakrie yakni Aburizal Bakrie,”Saat ini belum terlihat dampak yang positif bagi investor saham BUMI. Meski nama Bakrie kembali bagus, tapi mereka melihat orang yang di belakang group Bakrie," tegasnya.

Tidak disangkal, BUMI tampil sebagai katalisator saham-saham Bakrie Group. Tetapi, pelahan namun pasti, daya pikat saham BUMI mulai memudar. Pada periode 2007 lalu, saham BUMI masih ditransaksikan di posisi Rp 7.000. Tetapi, sejalan peredaran waktu, emiten batu bara terbesar di Indonesia itu, kini sahamnya tersungkur di posisi Rp 78 per lembar saham. (retno)