Pangkas Target Emiten, BEI Tidak Percaya Diri

Senin, 08/12/2014

NERACA

Bali – Keputusan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memangkas target emiten tahun 2015 dari 35 calon emiten menjadi 32 calon emiten, menuai kritik dari pelaku pasar dan termasuk dari Ketua Umum Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Franciscus Welirang yang menilai, keputusan BEI memangkas target calon emiten adalah bukti BEI tidak confident atau tidak percaya diri.

Menurutnya, Indonesia memiliki potensi pasar yang menjanjikan dan sangat disayangkan bila keputusan untuk pangkas target calon emiten,”Ini gambaran jelas BEI tidak confident, padahal Indonesia tidak kecil dan memiliki wilayah yang luas seluas Eropa,”tandasnya di Bali, Sabtu (6/12).

Ditempat terpisah, hal senada juga disampaikan Asosiasi Analis Efek Indonesia Haryajid Ramelan yang mengungkapkan kekecewaannya terhadap penurunan target perusahaan yang akan me-listing di PT Bursa Efek Indonesia. Kata Haryajid, dibandingkan negara lain di Asia, emiten yang masuk ke lantai bursa Indonesia masih sedikit,”Nah, ini yang jeleknya lagi ketika di negara lain seperti Shanghai sudah punya sekian ribu emiten, dan setiap tahun lebih dari seratus dua ratus emiten baru yang go public. Tapi di Indonesia malah target 35 saja dianggap kebanyakan," ujarnya.

Dia mengatakan, revisi yang dilakukan tersebut sangat disayangkan melihat dari beberapa tahun sebelumnya tidak pernah meningkat,”Ini malah direvisi targetnya, kemarin harus bikin 32 aja. Jangan, jangan, orang kita sepuluh tahun terkahir saja tidak sanggup untuk 25 emiten," katanya.

Dia menegaskan, target yang tinggi itu harus dan tidak perlu diturunkan. "Kenapa takut dikasih target tinggi terus kita jadi turunkan lagi? Kalau tidak kasih saja target yang tinggi misalnya 40 agar biar dia rajin. Kalau sudah dikasih target tinggi tapi diturunkan lagi kasian saya rasa perjuangan BEI," pungkasnya.

Di sisi lain, BKPM tahun depan rencananya akan menaikan aliran dana yang masuk ke pasar modal dari Rp450 triliun menjadi Rp534 triliun atau naik 15%. Sebelumnya, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Ito Warsito pernah bilang, target IPO tahun depan dipangkas karena ada permintaan dari OJK,”Kita diminta turunkan target IPO karena dinilai terlalu tinggi,”ungkapnya.

Menurutnya, sejauh ini OJK menilai target IPO sebanyak 35 perusahaan tersebut terlalu tinggi, sehingga ada potensi untuk kembali tidak tercapai. Namun demikian, jelas Ito, OJK sangat mendukung upaya-upaya BEI terkait peningkatan jumlah perusahaan yang listing di pasar modal domestik.

Selain itu, lanjutnya, dengan target revisi target IPO tersebut diyakini bisa tercapai karena ekonomi pada tahun depan diperkirakan akan lebih baik dibanding tahun ini. BEI, kata dia, akan terus mendorong makin banyak jumlah perusahaan tercatat.

Sebaliknya, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida membantah terhadap pernyataan Ito Warsito terkait arahan untuk menurunkan target 35 perusahaan yang akan melantai di bursa pada tahun 2015,”Kami belum berikan arahan apa pun kepada bursa soal penurunan target perusahaan untuk IPO di 2015,”tegasnya.

Nurhaida menuturkan, penurunan target 35 perusahaan yang akan masuk bursa tidak perlu meminta izin kepada OJK, target itu harus melihat makro ekonomi yang terjadi di dalam negeri pada tahun depan. Dia menjelaskan, bursa memiliki target sesuai asumsi yang ada, dengan melihat inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan lain-lainnya."Ada pembahasan semua asumsi itu yang dimasukkan dalam anggaran tahunan, dari hasil pembahasan akan disesuaikan,"paparnya. (retno/bani)