Bisnis Express Group Mulai Menuai Kerugian - Imbas Kriminalitas di Taksi

NERACA

Jakarta – Bicara bisnis transportasi darat, khususnya taksi tidak hanya mengandalkan rute yang strategis dan armada yang banyak untuk mendulang untung, tetapi juga kenyamanan dan keamanan menjadi penting. Pasalnya, bisnis transportasi yang satu ini mengandalkan pentingnya kenyamanan dan keamanan selain cepat sampai tujuan.

Namun pengalaman buruk soal kenyamanan taksi, seperti kasus perampokan menuai citra buruk bagi PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI), perusahaan yang menaungi armada taksi Express Group dirugikan adanya laporan RP, korban perampokan di dalam taksi berwarna putih.

Direktur Operasional Express Group, Herman Gozali mengatakan, kasus perampokan yang menimpa penumpang Express merugikan karena ada upaya kriminalisasi dari kasus perampokan yang melibatkan dua taksi Express dengan nomor pintu DP 8015 dan DP 8012,”Kasus ini sangat merugikan kami. Ada pengaruh terhadap penghasilan. Pendapatan lambat laun ada pengaruh jadi berkurang,”ujarnya di Jakarta, Kamis (4/12).

Maka guna menumbuhkan kepercayaan kepada public, pihak Express Group mempersilakan kepolisian memeriksa dua taksi serta sopir yang dicurigai terlibat perampokan itu. Namun armada taksi Express yang diketahui bernomor pintu DP 8015 dan DP 8012 tidak terbukti terlibat dalam dua peristiwa perampokan."Polisi sudah melakukan olah TKP, namun dinyatakan taksi bukan milik kami," tuturnya.

Herwan Gozali mengaku pihaknya tidak mengambil langkah hukum terkait laporan korban RP yang menuding Express Group. Sebagai informasi, kejadian pertama, terjadi kepada korban berinisial RW, di wilayah Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan pada Jumat (28/11). RW kehilangan sejumlah uang dan dua telepon genggam. Kemudian, dia diturunkan di daerah Menteng, Jakarta Pusat.

Sementara, kejadian kedua terjadi di kawasan SCBD Sudirman pada Senin (1/12). Kali ini, korban berinisial RP. Barang-barang pribadi diambil, lalu uang di ATM turut diambil. Dari penuturan korban kepada polisi, terjadi kemiripan antara kejadian pertama dan kedua."Terjadi kriminalisasi terhadap taksi berwarna putih," ujar Herwan Gozali.

Sementara itu, David Santoso, Direktur Keuangan Express Group mengaku, pelaku perampokan memanfaatkan kepopuleran taksi Express untuk berbuat aksi criminal,”Taksi itu bukan taksi Express. Kami mendukung upaya pihak kepolisian mengungkap kasus tersebut, dan menuntut pelaku. Mereka memanfaatkan kepopuleran taksi,”kata David.

Asal tahu saja, perseroan berhasil membukukan laba bersih di paruh pertama tahun ini sebesar Rp 79,10 miliar. Angka tersebut tumbuh 30,54% atau sekitar Rp 18,55 miliar dari pencapaian priode yang sama tahun lalu senilai Rp 60,59 miliar. Disebutkan, kenaikan laba bersih ini ditopang oleh kenaikan pendapatan Express Group di semester I tahun 2014 ini yang juga mengalami peningkatan cukup menggembirakan yaitu senilai Rp 408,98 miliar atau meningkat 23,41% dari periode yang sama tahun lalu.

Express Group juga telah mengumumkan rencana ekspansi lanjutan seperti penambahan 150 unit bus pariwisata dan 300 unit tambahan untuk taksi premium. Ekspansi ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah bagi para pemegang saham TAXI dan masyarakat pengguna Taksi Express. Perseroan berharap dengan penambahan 2.000 unit taksi reguler di 2014 ini, bisa meningkatkan laba bersih hingga mencapai 20% di akhir tahun. (bani)

BERITA TERKAIT

Kerugian Steady Safe Susut Hingga 54%

Meskipun masih mencatatkan rugi di kuartal pertama 2019, PT Steady Safe Tbk (SAFE) mengklaim rugi bersih yang dibukukan senilai Rp1,809…

Anak Usaha Lippo Group Siap Perkuat Lini Usaha Logistik

Anak Usaha Lippo Group Siap Perkuat Lini Usaha Logistik NERACA Jakarta - Lippo Group menggandeng Sumitomo Corporation untuk memperkuat bisnis…

Danai Ekspansi Bisnis - PTPP Bakal Terbitkan Obligasi Rp 1,5 Triliun

NERACA Jakarta – Tren perusahaan mencari pendanaan di pasar modal cukup marak pasca pemilihan presiden (Pilpres). Dimana salah satu perusahaan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BPII Terima Dividen Tunai Rp 12,99 Miliar

PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII) pada tanggal 12 Juni 2019 memperoleh dividen tunai tahun buku 2018 sebesar Rp12,99 miliar…

Kerugian Steady Safe Susut Hingga 54%

Meskipun masih mencatatkan rugi di kuartal pertama 2019, PT Steady Safe Tbk (SAFE) mengklaim rugi bersih yang dibukukan senilai Rp1,809…

Volume Penjualan SMCB Masih Terkoreksi

Lesunya pasar semen dalam negeri dirasakan betul oleh PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB). Perusahaan yang dulunya PT Holcim Indonesia…