Stabilitas Nilai Rupiah

Jumat, 05/12/2014

Oleh: Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

"Cinta Rupiah" adalah kampanye yang kembali dihidupkan Bank Indonesia (BI) secara masif kepada masyarakat luas agar dalam setiap transaksi menggunakan rupiah dan bukan mata uang negara lain, apalagi dollar Amerika Serikat. Langkah mulia ini perlu diapresiasi dengan tujuan untuk menghidupkan kembali nilai jual rupiah. Namun seperti kafilah berlalu, banyak pelaku usaha menilai menggunakan rupiah belum seksi dan terlebih bila bicara bunga pinjaman rupiah nilainya cukup besar ketimbang menggunakan dollar AS yang sebaliknya menawarkan bunga rendah.

Masih rendahnya daya tukar rupiah menjadi alasan pula masyarakat menggunakan dolar AS. Alhasil, terus berfluktuasinya rupiah membuat dampak yang berarti bagi pelaku usaha. Kondisi ini pula yang menjadi keraguan pelaku pasar modal terhadap sentiment positif laju indeks harga saham gabungan (IHSG) yang dihantui mata uang rupiah yang cenderung mengalami depresiasi terhadap US$. Padahal, pasar saham Indonesia baru saja mendapatkan sentimen positif dari kebijakan pemerintah yang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada 18 November lalu.

Betapa tidak, kebijakan itu diharapkan dapat memperbaiki defisit pada neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan Indonesia. Ironisnya, sentiment positif itu tidak memberikan jangka waktu yang lama karena terdepresiasinya mata uang rupiah terhadap US$ dapat mengkhawatirkan bagi industri pasar modal domestik. Imbasnya, banyak perusahaan yang menggunakan transaksi dan utang dalam bentuk dollar AS bakal tergerus kinerja keuangannya. Bukannya untung malah buntung karena rupiah yang tidak berdaya.

Di sisi lain, melemahnya rupiah cenderung membuat harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi lebih murah sehingga pelaku pasar asing akan cenderung masuk ke pasar saham domestik memanfaatkan kondisi itu. Bagaimanapun juga, masyarakat berharap rupiah tidak lagi loyo dan sebaliknya membawa daya saing yang tinggi. Terlepas banyak pula, sebagian pelaku usaha yang juga mengambil keuntungan di balik menguatnya nilai tukar dolar AS.

Menjaga kstabilan nilai tukar rupiah menjadi point penting yang tidak hanya sekedar kampanye "cinta rupiah", tetapi bagaimaa memperbaiki fondasi ekonomi dalam negeri dan inflasi yang terjaga. Tentunya, diharapkan, dengan nilai tukar rupiah yang bergerak stabil akan memacu minat investor lebih tinggi lagi karena memberikan rasa nyaman berinvestasi di dalam negeri.

Tidak hanya itu, kebijakan pemerintah yang kondusif dan iklim politik serta keamanan yang terkendali juga memberikan andil besar dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Padahal cerminan stabilitas ekonomi suatu negara juga bisa terlihat dari stabilitas nilai tukar mata uang. Jangan sampai, Indonesia sebagai negara yang besar ini mudah dikendalikan dan menjadi bulan-bulanan para spekulan yang mengambil untung dari melemahnya nilai tukar rupiah.

Disamping itu, pemerintah perlu membuktikan political will yang tegas dalam menerapkan kebijakan penggunaan rupiah dalam setiap transaksi, seperti konstruksi, sektor minyak dan gas dan pembiayaan lainnya, termasuk penerbitan obligasi untuk BUMN.