Tahun Depan, Garuda Janjikan Keuntungan

Proyeksi Harga Avtur Turun

Jumat, 05/12/2014

NERACA

Jakarta – Bila hingga akhir tahun ini PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) masih merugi, maka di tahun depan perusahaan maskapai penerbangan milik pemerintah ini optimis akan mendulang untung dengan pertimbangan kondisi ekonomi dunia membaik, investasi yang mulai menuai hasil, harga avtur yang diprediksi turun dan program efisiensi yang terus di jalankan.

Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk, Emirsyah Satar mengatakan, tahun depan optimis bisa membukukan untung dengan di dukung komitmen untuk terus memperbaikikinerja perseroan,”

"Tahun besok Garuda nggak akan rugi lagi,”tegasnya di Jakarta, Kamis (4/12).

Kendatipun demikian, dirinya juga memproyeksikan pada kuartal pertama tahun depan tingkat isisan penumpang pesawat masih rendah karena siklus tahunan. Namun dia menyakini, kondisi tersebut akan terbayar pada peningkatan penumpang di kuartal berikutnya.

Maka untuk menutupi penurunan jumlah penumpang, lanjutnya, perseroan banyak menjalin kerjasama dengan perbankan, seperti kerjasama yang baru dilakukan dengan PT Bank Mega Tbk dalam pengembangan layanan.

Melalui kerja sama ini maka pemegang kartu kredit Bank Mega dan pelanggan Garuda akan semakin diuntungkan dengan mendapatkan tambahan manfaat antara lain, bonus GarudaMiles hingga 25% untuk penukaran Mega Rewards Point ke GarudaMiles mileage, program diskon hingga 20% untuk pembelian tiket kelas tertentu, program Monday Online Shopping dengan keuntungan diskon 5% untuk seluruh rute domestik dan internasional seluruh kelas melalui pembelian di internet booking dan Call Center Garuda.

Kata Emirsyah, kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sangat mempengaruhi kinerja perseroan, di mana banyak biaya operasional seperti pembelian avtur menggunakan kurs dolar. Oleh sebab itu, dirinya berharap nilai tukar rupiah tetap stabil sehingga bisa memuluskan performance kinerja keuangan menjadi lebih baik lagi. Pasalnya, pembelian avtur dengan dollar menyumbang hingga 50% biaya operasional perseroan,”Saat ini rupiah melemah hampir 18%. Pelemahan rupiah terhadap dolar berdampak ke kita, 55% revenue kita dalam bentuk rupiah, biaya operasional kita dolar dan kita nggak boleh naikkan harga,”ungkapnya.

Untuk bisa menggenjot kinerja perseroan di tahun depan, Emir menyebutkan, pihaknya akan melakukan beberapa langkah seperti meningkatkan utilisasi pesawat, fuel, rotasi cabin crew, dan peningkatan pelayanan. Menurut laporan keuangan kuartal III 2014, Garuda mengalami kerugian sebesar US$ 204,65 juta yang setara Rp2,49 triliun atau membengkak 528,14% dibandingkan jumlah kerugian periode yang sama pada 2013 sebesar US$ 32,58 juta atau Rp397,49 miliar.

Sementara pada Juli, perseroan membukukan kerugian sebesar US$ 42,4 juta dan keuntungan yang hanya US$ 0,4 juta tertolong pada September yang berhasil membukukan keuntungan US$ 22,1 juta. Perseroan menjelaskan, peningkatan kerugian akibat meroketnya biaya operasonal serta depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang mencapai lebih dari 20%. (bani)