OJK Bakal Naikkan MKBD Jadi Rp 100 Miliar - Tingkatkan Daya Saing

NERACA

Jakarta – Guna meningkatkan daya saing perusahaan efek anggota bursa, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengkaji rencana kenaikan batasan minimal nilai modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) perusahaan efek dari Rp 25 miliar menjadi kemungkinan Rp 100 miliar,”Modal kerja sangat penting untuk meningkatkan kinerja perusahaan efek atau sekuritas apalagi di tengah persaingan regional maupun global,”kata Kepala Pengawasan Pasar Modal OJK, Nurhaida di Jakarta, Kamis (4/12).

Saat ini pihaknya belum memutuskan detil berapa batasan minimum yang akan digunakan sebagai dasar MKBD. Menurutnya, batasan MKBD bisa saja dinaikkan sampai Rp 100 miliar."Belum ada pembahasan secara detil tentang peningkatan MKBD ini. Tapi pertumbuhan nilai transaksi itu memang tidak terlepas dari permodalan, dan kami lebih melihat secara luar, kemampuan bersaing di regional, arahnya ke situ," paparnya.

Nurhaida juga belum membahas rencana konsolidasi (merger) perusahaan ke depan dalam ranga penguatan modal. Alasannya, usulan ini muncul hanya sebagai alternatif jalan keluar saja dan eksekusinya terserah perusahaan efeknya nanti.

Berdasarkan ketentuan dari Otoritas Jasa Keuangan, minimum MKBD adalah Rp 25 miliar atau tidak boleh lebih dari 16 kali dari total kewajiban. Dari 116 anggota bursa atau perusahaan efek yang tercatat, sekitar 19 perusahaan memiliki modal kerja bersih disesuaikan kecil atau mendekati batas minimal Rp 25 miliar (di bawah Rp 31 miliar).

Sepanjang Agustus 2014, terdapat 17 Anggota Bursa (AB) yang memiliki modal pas-pasan. Samsul Hidayat, Direktur Perdagangan dan Kepatuhan Anggota Bursa Efek Indonesia (BEI) pernah bilang, seluruh perusahaan efek itu memiliki nilai MKBD dengan nilai rata-rata sebesar Rp 27,6 miliar. Adapun, rata-rata nilai kewajiban di Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dalam waktu tiga hari rata-rata Rp 29 miliar. Berarti, rata-rata kewajiban per harinya kurang dari Rp 10 miliar."Rata-rata transaksi mereka kecil, jadi tidak butuh modal terlalu besar juga," ujar Samsul.

Sebelumnya, BEI menyetop aktivitas perdagangan PT Amantara Securities pada 23 April 2014 lantaran MKBD tidak memenuhi syarat. Hal ini dilakukan setelah perusahaan efek berkode YO ini memfasilitasi transaksi tutup sendiri (crossing) saham PT Plaza Indonesia Realty Tbk (PLIN). Ketika itu, pemilik saham PLIN dari Grup Sinarmas, yakni PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) dan PT Paraga Artamida (PAM) melakukan crossing saham senilai Rp 2,03 triliun pada 21 April 2014.

Nah, tiga setelah transaksi (T+3), Amantara terkena ketentuan batas minimum MKBD. Berdasarkan ketentuan dari OJK, minimum MKBD adalah Rp 25 miliar atau 6,25% atau tidak boleh lebih dari 16 kali dari total kewajiban. Nah, ketika itu, nilai rata-rata MKBD YO per April 2014 sekitar Rp 78,8 miliar. Artinya, 17 perusahaan efek bermodal mini ini mengalami kesulitan untuk bisa melayani transaksi serupa. Kalaupun ada, maka mereka akan terkena trading limit dari KPEI. (bani)

BERITA TERKAIT

Transcoal Akuisisi Dua Perusahaan Pelayaran - Tingkatkan Volume Angkutan

NERACA Jakarta – Di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global memberikan dampak terhadap rencana bisnis beberapa perseroan, namun tidak halnya bagi…

TKI Diluar Negeri Sumbang Devisa US$5,8 Miliar

    NERACA   Jakarta – Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang berada di luar negeri telah mendatangkan devisa untuk negara…

Pefindo Naikkan Peringkat Antam Jadi A- - Lunasi Obligasi Jatuh Tempo

NERACA Jakarta - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menaikan peringkat PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan Obligasi I (2011) menjadi…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Model Bisnis Sangat Potensial - Digitaraya Jadi Investor Strategis Pertama Passpod

NERACA Jakarta – Keseriusan PT Yelooo Integra Datanet (Passpod) untuk segera melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), menarik banyak perhatian…

Lagi, BEI Suspensi Saham Mahaka Media

Lagi, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham PT Mahaka Media Tbk (ABBA) pada perdagngan saham Rabu (19/9).…

Obligasi Masih Ramai di Sisa Akhir Tahun

NERACA Jakarta – Meskipun dihantui sentimen kenaikan suku bunga, potensi pasar obligasi dalam negeri hingga akhir tahun masih positif. “Dengan…