Pertumbuhan Ekonomi 5,3% - Tahun Depan

NERACA

Jakarta - Pengamat ekonomi Bank Danamon Anton Hendranata memproyeksikan ekonomian Indonesia pada tahun 2015 diperkirakan hanya bisa tumbuh pada level 5,3 persen.

Menurut Anton, tahun 2015 bukanlah tahun yang mudah bagi perekonomian, ibaratnya seperti kapal berlayar yang siap diterjang angin dari arah depan. "Pada tahun 2015, Amerika Serikat saja yang diharapkan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi global karena mesin mesin pertumbuhan lainnya melambat," katanya.

Bank Sentral Amerika Serikat mulai mengetatkan kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga global di kuartal kedua. Jika suku bunga naik, maka ada potensi terjadinyacapital outflowdi negara berkembang termasuk Indonesia.

Selain itu pada 2015, perekonomian Tiongkok diperkirakan melemah dari biasanya tumbuh 10 persen menjadi tujuh persen. Melemahnya perekonomian Tiongkok menyebabkan harga komoditas mengalami penurunan, sehingga mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia.

Faktor penopang perekonomian Indonesia tahun depan masih didominasi sektor konsumsi dan proyek investasi di sektor infrastruktur.

Anton mengatakan, BI rate pada level 7,75 persen harus dipertahankan karena sudah cukup aman menjangkar inflasi. "Tahun depan BI tidak perlu lagi menaikkan suku bunga," ujarnya.

Pada kesempatan berbeda, Bank Pembangunan Asia (ADB) dalam laporan terbarunya, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan membaik dari 5,3 persen pada paruh pertama 2014 menjadi 5,8 persen pada 2015.

Deputy Country Director ADB Indonesia Edimon Ginting menjelaskan membaiknya perekonomian di Indonesia sebagian besar akan berasal dari reformasi mendasar yang dilakukan oleh pemerintahan baru.

"Asumsi kami pemerintah baru akan lebih reformis, melakukan beberapa perbaikan di sisi infrastruktur, memperbaiki iklim investasi, reformasi birokrasi, dan akan sedikit punya ruang lebih besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan fiskal," ujarnya.

Perkiraan tambahan pertumbuhan sebesar 0,5 persen di 2015 didasari oleh asumsi membaiknya perekonomian berbagai negara industri utama yang diharapkan mampu memicu sektor ekspor serta investasi.

Pertumbuhan konsumsi swasta diproyeksikan tetap kuat. Inflasi yang rendah mendukung konsumsi tahun ini dan pemerintah diperkirakan akan menggunakan kebijakan transfer dana untuk kelompok berpenghasilan rendah yang terdampak oleh kenaikan harga bahan bakar pada 2015.

Investasi swasta diprediksi akan membaik didukung oleh keberhasilan proses pemilihan umum dan harapan bahwa pemerintah baru akan mereformasi kebijakan. Pertumbuhan pinjaman investasi akan tetap tinggi sebesar 30 persen meskipun kebijakan moneter diperketat. [agus]

BERITA TERKAIT

Pacu Pertumbuhan Investor di Sumbar - BEI dan OJK Edukasi Pasar Modal Ke Media

NERACA Padang - Dalam rangka sosialisasi dan edukasi pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Padang bekerja sama dengan…

Pertimbangkan Kajian Pelaku Pasar - Soal Saham Gocap Ditunda Hingga Tahun Depan

NERACA Jakarta – Menuai banyak penolakan, rencana PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghapus saham gocap atau penurunan batas minimal harga…

Konsistensi Kebijakan Ekonomi

Ketika Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan Ombudsman RI mengendus kebijakan impor berbagai komoditas pangan tampaknya terdapat  kekurangsinkronan antara Kementan,…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Data Eksplorasi Migas Indonesia Masih Lemah

  NERACA   Jakarta - Anggota legislatif Komisi VII DPR Tjatur Sapto Edy menilai bahwa sistem data eksplorasi minyak dan…

Imperva Bangun Scrubbing Center di Jakarta

    NERACA   Jakarta - Imperva Inc, perusahaan cybersecurity mengumumkan hadirnya DDoS Scrubbing Center pertama di Indonesia. Menurut Wakil…

Pemda Diminta Lapor Penggunaan Dana DBHCT

  NERACA   Karawang - Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan menegaskan bahwa pemerintah daerah harus melaporkan penggunaan dana…