Dinilai Gagal Bayar, Saham Bumi Resources Anjlok

NERACA

Jakarta – Kejayaan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mulai sirna seiring dengan performance kinerja keuangan yang terus merugi dan beban utang yang besar. Alhasil, kondisi inipun membuat khawatiran para pemegang saham sulit mendapatkan untung dan sebaliknya bisa buntung. Sehingga lambat laut, mulai banyak investor meninggalkan saham tambang tersebut.

Begitu banyaknya tekanan yang dihadapi manajemen BUMI, sehingga membawa aura negatif terhadap perseroan dan hingga sahamnya anjlok hingga 73% dari awal tahun sampai saat ini. Banyak sekali isu negatif yang hinggap di perusahaan tambang Grup Bakrie tersebut. Mulai dari kisruh saham dengan Nathaniel Rothschild di Bumi PLC (sekarang Asia Resource Minerals PLC), sampai jumlah utangnya yang fantastis sebesar Rp 44 triliun.

Dalam siaran persnya di BEI, Rabu (3/12), harga saham BUMI di akhir 2013 berada di level Rp 300 per lembar. Sahamnya terus berada di tren melemah sampai pada penutupan perdagangan hari ini Rp 81 per lembar. Itu berarti sahamnya sudah anjlok 73% sejak awal tahun ini. Harga batu bara yang masih lesu juga memberi sentimen negatif.

Pada perdagangan Rabu (3/12), kabar buruk kembali hinggap di tubuh BUMI. Standard & Poor's (S&P) menurunkan peringkat utang BUMI menjadi default (D) dari sebelumnya selective default (SD). Lembaga pemeringkat internasional itu memprediksi BUMI itu tidak akan menyelesaikan utang-utangnya setidaknya dalam enam bulan ke depan.

Dampak dari penyataan Standard and Poors, akhirnya saham BUMI ditutup di level Rp 81 per lembar, anjlok 5,81% dibandingkan posisi kemarin di Rp 86 per lembar. Sementara Direktur & Corporate Secretary BUMI, Dileep Srivastava dalam siaran persnya mengatakan, perseroan telah menyampaikan bahwa ketiga anak perusahaan perseroan telah mengajukan permohonan agar proses persidangan di Singapura dapat diakui di Amerika Serikat (AS) berdasarkan Chapter 15 Bankruptcy Code Amerika Serikat,”Permohonan ini diajukan perseroan dan anak-anak perusahaan, semata-mata untuk meyakinkan agar proses pengadilan di Singapura dapat berlanjut tanpa adanya hambatan dan risiko litigasi di AS, serta tidak adanya dampak negatif terhadap kegiatan usaha perseroan," ujarnya.

Seperti diketahui, perseroan menyampaikan Pengadilan Singapura mengabulkan upaya restrukturisasi utang tiga anak perusahaan perseroan. Tiga anak usaha ini yakni PT Bumi Capital Pte. Ltd, Bumi Investment Pte. Ltd, dan Enercorp Resources Pte. Ltd.

Ketiga perusahaan ini seluruh sahamnya dimiliki perseroan Bumi Capital Pte. Ltd (penerbit surat berharga bergaransi senior/guaranteed senior secured notes) senilai US$ 300 juta berkupon 12%. Kemudian Bumi Investment Pte. Ltd. (penerbit Secured Notes) senilai US$ 700 juta berkupon 10,75%. Serta Enercoal Resources Pte. Ltd. (penerbit Obligasi Konversi Bergaransi Bonds) senilai US$ 375 juta berkupon 9,25%.

Sebelumnya, ketiga perusahaan ini telah mengajukan permohonan di Singapura untuk mengikuti proses peradilan formal berdasarkan Section 210(10) UU bagian dari upaya untuk merestrukturisasi kewajiban utang. Sebagai langkah awal dalam Proses Pengadilan berdasarkan Section 210 di Singapura tersebut, kemarin telah mengajukan kewajiban pembayaran utang (moratorium) selama enam bulan terhadap upaya hukum dan upaya paksa yang dapat dilakukan oleh kreditur.

Hal tersebut dilakukan dalam rangka memfasilitasi pembicaraan dengan para pemegang surat utang (noteholders) dan pemegang obligasi (bondholders) dalam rangka melanjutkan upaya restrukturisasi. "Perseroan akan senantiasa menyampaikan perkembangan permasalahan ini setelah informasi lebih lanjut," tutur Dileep.

Asal tahu saja, berbagai macam cara di lakukan manajemen PT Bumi Resources Tbk untuk memulihkan kepercayaan investor sebagai pemegang saham guna meningkatkan likuiditas. Belum lama ini, perseroan fokus mengurangi beban utang dengan cara menjual 50% saham PT Fajar Bumi Sakti (FBS), perusahaan tambang batu bara di Kalimantan Timur.

Sesuai rencana, dana hasil penjualan akan digunakan untuk melunasi utang sebesar US$ 130 juta. Manajemen Bumi Resources mengungkapkan, saham Fajar Bumi akan dialihkan kepada Jainson Holding Hong Kong Limited. Pengalihan saham akan dilakukan melalui Bumi Resources Investment dan Leap Forward Resources Limited. bani

BERITA TERKAIT

OPEC Dinilai Perlu Terus Pangkas Pasokan Sampai Akhir 2019

NERACA Jakarta – Arab Saudi mengatakan pada Minggu (17/3) bahwa pekerjaan OPEC dalam menyeimbangkan kembali pasar minyak masih jauh dari…

Bintraco Dharma Stock Split Saham 1:10

Jakarta - Tingkatkan likuiditas harga saham di pasar, PT Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma Tbk (CARS) akan melakukan stock split …

LPPF Agendakan Buyback Saham Tambahan

Menjaga pertumbuhan kinerja harga saham, PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) berencana melakukan tambahan buy back atau pembelian kembali atas…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

KAMPANYE HITAM KELAPA SAWIT - Indonesia Siapkan 5 Sikap Tegas Hadapi UE

Jakarta-Pemerintah Indonesia akan menempuh segala cara untuk menentang rencana kebijakan Uni Eropa tersebut, bahkan akan membawanya ke forum WTO, jika…

JK: Pengawasan APIP Berhasil Jika Koruptor Makin Sedikit

NERACA Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan tolok ukur keberhasilan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) dalam mengawasi lembaga pemerintah…

Iklim Investasi Sektor Industri Perlu Terus Dijaga

NERACA Jakarta – Pemerintah terus berupaya membuat kebijakan strategis untuk semakin menciptakan iklim investasi yang kondusif. Upaya ini salah satunya…