Dinilai Terlalu Tinggi,Target IPO Dipangkas

Khawatir Tidak Tercapai

Kamis, 04/12/2014

NERACA

Jakarta – Mengingat tahun ini target IPO tidak tercapai sebesar 30 calon emiten dan ditambah kondisi perekonomian yang masih melambat di tahun depan, serta sentiment kebijakan The Fed yang bakal menaikkan suku bunga bank sehingga bakal memicu dana asing keluar, menjadi pertimbangan dan alasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk meminta PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menurukan target IPO tahun 2015 dari 35 menjadi 32 calon emiten.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito mengatakan, target IPO tahun depan dipangkas karena ada permintaan dari OJK,”Kita diminta turunkan target IPO karena dinilai terlalu tinggi,”ujarnya di Jakarta, Rabu (3/12).

Menurutnya, sejauh ini OJK menilai target IPO sebanyak 35 perusahaan tersebut terlalu tinggi, sehingga ada potensi untuk kembali tidak tercapai. Namun demikian, jelas Ito, OJK sangat mendukung upaya-upaya BEI terkait peningkatan jumlah perusahaan yang listing di pasar modal domestik.

Selain itu, lanjutnya, dengan target revisi target IPO tersebut diyakini bisa tercapai karena ekonomi pada tahun depan diperkirakan akan lebih baik dibanding tahun ini. BEI, kata dia, akan terus mendorong makin banyak jumlah perusahaan tercatat.

Sementara jumlah emiten baru tahun ini meleset dari target sebanyak 30 emiten baru. Hingga Desember ini, jumlah emiten baru hanya 20 perusahaan yang mencatatkan sahamnya di lantai Bursa. Ito menuturkan, belum tercapainya target 30 emiten baru pada tahun ini karena ada perusahaan yang menunda aksi rencana untuk melakukan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) di 2014,”Ada 10 perusahaan yang menunda IPO-nya pada tahun ini menjadi tahun depan,”katanya.

Dia menjelaskan, sejumlah perusahaan menunda IPO pada tahun ini karena beberapa alasan, seperti kondisi politik di Indonesia yang tidak stabil seirng perhelatan pemilihan umum (pemilu) pertengahan tahun ini,”Situasi politik pilpres, parlemen membuat perusahaan mengundurkan IPO-nya. Buat BEI, ya wewenang sepenuhnya perusahaan untuk IPO, kita tidak bisa memaksa tapi mengajak bisa,”paparnya.

Diketahui, sudah ada 20 perusahaan yang berhasil mencatatkan saham perdana tahun ini di antaranya, PT Bank Panin Syariah Tbk (PNBS), PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA), PT Asuransi Mitra Maparya Tbk (ASMI), PT Capitol Nusantara Indonesia Tbk (CANI), PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI), PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON), PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ), PT Intermedia Capital Tbk (MDIA), dan PT Eka Sari Lorena Transport Tbk (LRNA).

Selain itu ada juga PT Dwi Aneka Jaya Kemasindo Tbk (DAJK), PT Link Net Tbk (LINK), PT Chitose Internasional Tbk (CINT), PT Magna Finance Tbk (MGNA), PT Batavia Prosperindo International Tbk (BPII), PT Mitrabara Adiperdana Tbk (MBAP), PT Bank Dinar Indonesia Tbk (DNAR), PT Sitara Propertindo Tbk (TARA), serta satu perusahaan tercatat baru yang merupakan relisting dan secondary offering yaitu PT Tunas Alfin Tbk (TALF), PT Blue Bird Tbk (BIRD), dan PT Soechi Lines Tbk (SOCI). (bani)