Pertamina Klaim akan Bangun Dua Kilang Minyak

NERACA

Jakarta – Direktur PT Pertamina (Persero) Ahmad Bambang menyatakan bahwa pihaknya tengah merencanakan untuk membangun dua kilang minyak baru. Hal itu dalam rangka mengurangi impor minyak yang selama ini membuat neraca perdagangan semakin defisit. Bambang menyebutkan saat ini, kilang yang ada di Indonesia hanya mampu menampung minyak sebanyak 800 ribu barel per hari, padhal kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional mencapai 1,6 juta barel per hari.

“Disini makanya ada selisih yang cukup besar. Maka dari itu, kita (Pertamina) berkeinginan untuk membangun kilang minyak baru yang berlokasi di Bontang Kalimantan Timur dan Tuban, Jawa Timur. Lokasinya ada di Bontang bersampingan dengan fasilitas kilang LNG Bontang. Kedua, lokasinya di Tuban yang memanfaatkan fasilitas kilang Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI),” ungkap Bambang di Jakarta, Rabu (3/12).

Lebih lanjut dia menuturkan, rencana pembangunan kilang minyak baru dilakukan lantaran kilang yang ada sudah berusia 20 tahunan dan tidak efisien sehingga mengakibatkan total impor BBM yang mencapai 52%. Selain itu, lanjut dia, perseroan juga akan membangun kilang kecil yang tersebar di wilayah Timur Indonesia, untuk pendistribusian BBM di wilayah timur. “Untuk mengefisienkan distribusi BBM ke daerah timur Indonesia,” tandasnya.

Menurut dia, untuk permasalahan kilang minyak ini dapat dijalankan dengan dua skenario yaitu yang pertama adalah kilang-kilang tua harus di extend modernisasi, sehingga complexity index-nya naik. “Secondary process-nya dimodernisasi, primary process cdu (crude distillation unit)-nya ditambah dengan complexity indexnya jauh lebih bagus ke arah angka 9. Dan itu bisa bersaing. Dari produksi yang rata-rata dulu 100 lebih misalnya 104-an misalnya akan drop ke 94-an. Kita bisa bersaing tanpa ongkos angkut,” jelas dia.

Ia melanjutkan dengan proses itu sudah dua kali lipat dari 800 ribu bph jadi 1,6 juta bph. Hal itu cukup untuk kebutuhan BBM sekarang, akan tetapi antisipasi ke depan itu perlu bangun lagi. “Proyek itu cukup untuk sekarang pun jadinya bukan sekarang. Artinya, akan nambah dua kilang lagi baru," tambah dia. Menurutnya penambahan kilang ini, harus dibicarakan lebih lanjut karena membangun kilang tidak semudah melakukan modernisasi. Dia mengatakan, masalah utama dalam membangun kilang adalah pembebasan lahan. "Bukan masalah itu (uang). Pertama masalah lahan. Bukan masalah gampang itu," jelasnya.

Menurutnya, pembangunan kilang di Bontang, Kalimantan Timur memang tengah dikaji lebih dalam. Pasalnya harus melihat potensial konsumen dengan keberadaan wilayah tersebut. “Konsumennya kan konsentrasinya daerah Jawa, Indonesia Barat dan timur. Ada tanah tapi kalau ongkos angkutnya mahal ini yang lagi dikaji. Kita juga punya Tuban kan. Tuban bisa untuk wilayah yang Indonesia Barat. Yang timur, harusnya sekitar Sulawesi, Lombok, masuk ke sana. Jadi kira-kira ke sana yang complex,” tukas dia.

Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto berjanji akan menciptakan nilai tambah atau added value dalam bisnis Pertamina. Salah satu caranya adalah dengan pembangunan kilang minyak. “Kita harus mengambil added value sebanyak-banyaknya. Revitalisasi kilang yang ada, dan membangun yang baru. Termasuk oil tank,” jelas Dwi.

Bila tidak ada peremajaan atau pembangunan kilang baru, Dwi khawatir Indonesia mengalami krisis energi. "Revitalisasi dan membangun kilang baru sangat penting. Jadi kita tidak terlalu dipepet posisi krisis," tegasnya. Untuk membangun kilang, tambah Dwi, bisa saja dananya berasal dari kocek Pertamina sendiri. Atau bisa juga bekerja sama dengan pihak lain. “Kalau bisa Pertamina bisa berinvestasi sendiri, ya dilakukan. Kalau tidak, kita harus menggandeng mitra strategis,” tuturnya.

Sebelumnya, Menko Perekonomian Sofyan Djalil menyebutkan bahwa pembangunan kilang memang menjadi pekerjaan Pertamina ke depan. Pasalnya, saat ini kilang milik Pertamina sudah berusia tua. Akibatnya, efisiensi menjadi berkurang. “Contoh saja avtur. Avtur produksi Pertamina jauh lebih mahal karena kilangnya sudah tua. Seandainya Pertamina punya kilang baru yang bagus, maka yang diimpor adalah minyak mentah (bukan BBM),” papar Sofyan.

Kilang Mini

Disisi lain, pengusaha kilang mengusulkan untuk memperbesar produksi minyak dalam negeri dengan cara pemerintah membangun kilang minyak mini. Mengingat, pembangunan kilang skala besar membutuhkan biaya yang sangat besar. “Bikin saja kilang yang kecil-kecil. Daripada sekarang apa? Kilang yang besar nggak kebangun-bangun kan,” ujar Direktur Utama PT Tri Wahana Universal Rudy Tavinos.

Rudy Tavinos mengatakan pembangunan kilang mini memiliki prospek yang cukup baik. Mengingat kapasitas kilang yang ada di Indonesia tidak mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Hal ini membuat usaha kilang mini semakin menguntungkan. Bahkan menurut Rudy, usaha kilang mini cukup mudah mendapat pembiayaan dari perbankan. Terlihat dari banyaknya bank yang mulai menawarkan diri kepada perusahaannya. “Sekarang saja kami mau dapat pinjaman dari bank asing. Jadi efisiensi itu bisa kita lihat, secara bankable kita menyebutnya,” kata Rudy.

BERITA TERKAIT

Menaker Klaim Fasilitasi Penempatan Kerja 8 Juta Orang

    NERACA   Bekasi - Kementerian Ketenagakerjaan mengklaim telah memfasilitasi penempatan kerja kepada delapan juta lebih angkatan kerja dalam…

Tri Palma Siap Distribusikan Anjungan Minyak Goreng Higienis

Tri Palma Siap Distribusikan Anjungan Minyak Goreng Higienis NERACA  Bandung - PT Tri Palma Indonesia sebagai exclusive agent Anjungan Minyak…

Pemerintahan Baru di Bandung Utara Akan Dibentuk

Pemerintahan Baru di Bandung Utara Akan Dibentuk NERACA Bandung - Gubernur Jawa Barat M. Ridwan Kamil mengatakan akan segera membentuk…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Niaga Online - Regulator Terus Dorong Usaha Mikro Terapkan Usaha E-Commerce

NERACA Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengajak pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) turut membangun dan menggerakkan…

RI-Ceko Incar Peningkatan Investasi dan Ekspor di Sektor Industri

NERACA Jakarta – Indonesia dan Ceko tengah menjajaki peluang kerja sama ekonomi khususnya di sektor industri. Potensi kolaborasi kedua negara…

CIPS: Lindungi Petani, Waktu Impor Beras Harus Tepat

NERACA Jakarta – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakan, pemerintah perlu mempertimbangkan waktu impor beras…