Lagi, Garuda Beli 23 Unit Pesawat Baru - Siapkan Capex Rp 2,4 Triliun

NERACA

Jakarta – Ditengah melorotnya kinerja keuangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), rupanya tidak membuat ciut maskapai penerbangan milik pemerintah untuk konservatif dalam ekspansi bisnisnya. Bahkan perseroan tahun depan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 200 juta atau sekitar Rp 2,4 triliun pada tahun depan.

Kata Direktur Keuangan Garuda Indonesia, Handrito Hardjono, capex tersebut dialokasikan untuk mendatangkan 23 unit pesawat,”Perseroan akan membeli 18 unit pesawat untuk Garuda dan 5 unit pesawat untuk anak usahanya, PT Citilink Indonesia. Dimana pesawat baru nanti akan variatif dari yang besar hingga kelas ATR,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Sesuai rencana, menurut dia, capex tahun depan akan didanai dari kas internal dan eksternal. Selain itu, sisanya perseroan akan mencari pinjaman sekitar US$ 100 juta. Dia menegaskan, perseroan berpeluang besar meraih pinjaman. Sebab, belum lama ini, perseroan telah membayar utang sebesar US$ 62,5 juta kepada ECA dan US$ 210 juta kepada sindikasi Citi.

Asal tahu saja, Garuda sebenarnya membutuhkan investasi sebesar US$ 600-700 juta tiap tahun, sementara yang 'disetujui' oleh pemerintah selaku pemegang saham hanya sekitar US$ 50 juta. Investasi tersebut dibutuhkan untuk menambah jumlah armada dan pengembangan usaha agar bisa bersaing dengan kompetitor yang juga melakukan investasi besar-besaran.

Analis Millenium Danatama Asset Management Desmon Silitonga pernah bilang, pendapatan Garuda sangat dipengaruhi pertumbuhan ekonomi di Tanah Air. Sebab, faktor tersebut menentukan mobilitas barang dan jasa. “Jika ekonomi bagus pendapatan penduduk bagus, orang bepergian dengan pesawat terbang,” kata dia.

Menurut Desmon, secara global, ekonomi secara keseluruhan belum membaik. Kecuali ekonomi AS yang mulai bangkit, ekonomi Eropa dan Tiongkok melambat. Desmon menuturkan, dalam situasi seperti ini, Garuda Indonesia harus mematok strategi yang bagus. Indonesia beruntung, karena masih memiliki pasar yang besar.

Dia menyatakan, harga minyak dunia yang cenderung turun akan membantu Garuda. Sebab, sebesar 60 persen perseroan selama ini habis untuk membeli avtur. “Tahun depan, bisnis penerbangan masih menjanjikan. Pendapatan dan harga saham Garuda bisa naik 15 persen,” jelas Desmon.

Secara terpisah, Kepala Riset Woori Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada mengatakan, kinerja keuangan Garuda Indonesia masih tertekan biaya operasional, terutama masalah harga bahan bakar dan kurs rupiah. Jika kurs bisa ditahan dan harga bahan bakar lebih kompetitif, kinerja Garuda bisa lebih baik,”Garuda juga akan lebih baik, jika lebih selektif membuka rute baru, serta mendapat dukungan dari pemerintah sebagai pemegang mayoritas saham,” ujar Reza.

Menurut laporan keuangan kuartal III 2014, Garuda mengalami kerugian sebesar US$ 204,65 juta yang setara Rp2,49 triliun atau membengkak 528,14% dibandingkan jumlah kerugian periode yang sama pada 2013 sebesar US$ 32,58 juta atau Rp397,49 miliar.

Namun, dia mengatakan kerugian pada Juli sebesar US$ 42,4 juta dan keuntungan yang hanya US$ 0,4 juta tertolong pada September yang berhasil membukukan keuntungan US$ 22,1 juta. Perseroan menjelaskan, peningkatan kerugian akibat meroketnya biaya operasonal serta depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang mencapai lebih dari 20%. (bani)

BERITA TERKAIT

KPK: Miris Adanya Jual Beli Jabatan di Kemenag

KPK: Miris Adanya Jual Beli Jabatan di Kemenag NERACA Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyesalkan adanya kasus tindak pidana…

Tunda Bagikan Dividen - Siloam Hospitals Bangun Lima Rumah Sakit Baru

NERACA Tangerang – Lantaran anjloknya perolehan laba bersih di tahun 2018, menjadi alasan bagi PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO)…

Miliki Investor Baru - Bank Yudha Bhakti Agendakan Rights Issue

NERACA Jakarta – Berambisi naik kelas menjadi Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) dua, PT Bank Yudha Bhakti Tbk (BBYB) terus…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Jasa Marga Bukukan Utung Rp 2,2 Triliun

Sepanjang tahun 2018, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) mencatatkan laba bersih sebesar Rp2,2 triliun atau sama dengan periode yang sama tahun…

Produksi Minyak Sawit ANJT Tumbuh 6,6%

Hingga Februari 2019, PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) memproduksi minyak sawit mentah sebanyak 34.750 ton atau naik 6,6% dari…

Pefindo Beri Rating AAA Obligasi Indosat

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menegaskan peringkat idAAA terhadap Obligasi Berkelanjutan II Tahap III/2019 seri A PT Indosat Tbk (ISAT)…