Indonesia Produsen Cengkeh Terbesar di Dunia

Kamis, 04/12/2014

NERACA

Yogyakarta - Ketua ASEAN Clove Spice Association (ACSA) atau Asosiasi Rempah Cengkeh ASEAN I Ketut Budyman menyatakan bahwa Indonesia merupakan produsen terbesar cengkeh dunia. Pasalnya saat ini produksi cengkeh Indonesia telah mencapai 73.000 ton per tahun dengan luas lahan mencapai 31.450 hektare (ha). Sementara peringkat kedua yaitu Madagaskar yang memproduksi cengkeh sebesar 23.00 ton pertahun. “Selama ini negara kita menjadi produsen cengkeh terbesar di dunia,” kata Ketut di Yogyakarta, Rabu (3/12).

Meskipun menjadi produsen cengkeh terbesar di dunia, bukan berarti produksi cengkeh Indonesia tidak menemui masalah. Ketut menyatakan produktivitasnya masih kalah dengan Tiongkok dengan 11.500 Kg/Ha. Disusul yang kedua, Tanzania dengan produktivitas cengkeh 11.417 Kg/Ha. “Dari delapan negara ini, produktivitas Indonesia nomor tujuh dengan 2.202 Kg/Ha,” katanya.

Sayangnya, kata dia, peran komunitas cengkeh seperti petani, asosiasi pedagang hingga industri pengguna produk turunan cengkeh, belum terorganisir dengan baik. Ini berdampak tidak terdengar suaranya di forum-forum internasional. Untuk itu, komunitas cengkeh dari beragam latar belakang mendeklarasikan organisasi non pemerintah, ASEAN Clove Spice Association (ACSA) atau Asosiasi Rempah Cengkeh ASEAN.

ACSA, kata dia, merupakan organisasi yang mengadvokasi kepentingan pemangku kepentingan komunitas cengah di Indonesia dan ASEAN. Organisasi ini dibentuk guna membantu sektor rempah cengkeh di tingkat ASEAN untuk memperjuangkan kesejahteraan komunitas sektor cengkeh, seperti petani.

Sebagai negara terbesar penghasil cengkeh di dunia,Indonesia memiliki total 331.450 hektar lahan dengan 1,82 juta petani. Selama ini produk utama bunga cengkeh sebagian besar terserap ke industry rokok kretek. Nilai perdagangan cengkeh ke industry rokok memang cukup besar lebih dari Rp 7 triliun per tahun.

Sementara itu, Direktur Tanaman Rempah dan Penyegar Kementerian Pertanian Azwar Abu Bakar mempertegas bahwa rempah Indonesia memiliki kualitas terbaik di dunia. Bahkan, dia mengisahkan era penjajahan sebelum negeri ini merdeka karena komoditas rempah seperti cengkeh. “Kita dulu di jajah karena rempah-rempah kita berkualitas. Kini, kita menjadi negara produsen sekaligus konsumen cengkeh terbesar dunia,” katanya.

Dirjen Perkebunan Kementan Gamal Nasir menyatakan bahwa cengkeh merupakan salah satu dari 15 komoditi yang diutamakan penanganannya dalam pembangunan perkebunan khususnya untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Sebagai tanaman asli Indonesia dengan tetuanya cengkeh AFO, tanaman cengkeh mempunyai peranan strategis karena hampir seluruhnya diupayakan oleh petani (98 % dari total areal) dan hasilnya sebagian besar (Iebih dari 90 %) diserap oleh pabrik rokok.

“Cengkeh juga mempunyai karakteristik spesifik yaitu siklus produksi periodik (4 tahun) yang ditandai panen besar, kecil dan panen raya. Dengan demikian, sering terjadi fluktuasi harga yang relatif tinggi sebagai akibat tidak stabilnya pasokan cengkeh. Sementara, untuk panen dan pengolahan memerlukan tenaga kerja yang cukup banyak dengan biaya upah yang cukup tinggi,” ujarnya.

Namun demikian, lanjut Nasir, selama 3 tahun harga cengkeh relatif tinggi, dengan rata - rata sekitar Rp 50 ribu rupiah per kg. Suatu harga yang cukup layak bagi petani dan perusahaan masih memperoleh keuntungan secara ekonomi dan finansial. Perkembangan cengkeh mengalami pasang surut dari waktu ke waktu. Areal cengkeh pernah mencapai luasan tertinggi pada tahun 1987 yaitu 742 ribu ha, kemudian mengalami penurunan sampai titik terendah pada tahun 2000 dengan luasan 415 ribu ha.

Lebih jauh lagi, Nasir memaparkan bahwa saat ini luas areal cengkeh mencapai sekitar 470 ribu ha dengan produksi 84,8 ribu ton. Dari luasan tersebut, Sulawesi Utara sebagai penghasil utama seringkali dijadikan barometer cengkeh nasional, memberikan kantribusi areal seluas 75 ribu ha atau 16 % dari luasan nasional.

Dengan fenomena-fenomena seperti tersebut diatas, dan adanya kecenderungan peningkatan kebutuhan cengkeh khususnya untuk pabrik rokok yang diperkirakan antara 110.000-120.000 ton, sementara produktivitas rata-rata cengkeh nasional masih dibawah potensinya yaitu antara 260 - 360 kg/ha selama 3 tahun terakhir dari potensi sebesar 500-600 kg/ha.

“Rendahnya produktivitas ini disebabkan banyaknya tanaman tua dan rusak akibat serangan hama dan penyakit, kondisi tanaman kurang optimal (minimnya kepemilikan tanaman, kurangnya pemeliharaan, dan ditanam di lereng melebihi ketentuan), belum intensifnya penggunaan benih unggul, serta mutu belum mampu memenuhi standar yang ditetapkan. Disamping itu, kelembagaan petani belum optimal dan akses pembiayaan terhadap lembaga keuangan rnasih rendah,” tegasnya.