Investor Bursa di Sulut Tumbuh 45,41%

NERACA

Manado – Tercatat hingga Oktober 2014, investor pasar modal di Provinsi Sulawesi Utara mengalami pertumbuhan hingga sebesar 45,41% dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2013,”Peningkatan jumlah investor pasar modal di Manado memang cukup signifikan pada 2014 menjadi 2.440 investor yakni tumbuh 45,41% dibandingkan tahun 2013 hanya 1.678 investor," kata Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Cabang Manado, Fonny The, di Manado, Rabu (3/12).

Fonny mengatakan sebanyak 2.440 investor tersebut dengan rata-rata transaksi pada tahun 2014 sebesar Rp88 miliar dan di akhir tahun 2013, katanya, nilai transaksi sebesar Rp1,048 miliar dari 1.678 investor. Menurut Fonny, pertumbuhan jumlah investor itu dinilai membuktikan tingkat kesadaran masyarakat daerah tersebut semakin tinggi terhadap pasar modal.

Dia menjelaskan, sejak membuka kantor perwakilan di sini pada 2007, rata-rata pertumbuhan jumlah investor sekitar 100% per tahun. Selain tingginya minat masyarakat, kata Fonny, sejumlah regulasi yang dikeluarkan BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dinilai mampu menggenjot jumlah investor di sejumlah daerah.

Meskipun perkembangan pasar modal di Kota Manado dan sekitarnya cukup baik, Fonny menegaskan masih terdapat berbagai hal yang perlu dikembangkan lagi. "Salah satunya, menjadi investor cerdas," kata Fonny.

Dia mengatakan, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi mengenai pasar modal untuk menggaet lebih banyak lagi investor. Selain itu, menurutnya, sosialisasi akan terus dilakukan sehingga masyarakat lebih paham mengenai manfaat besar berinvestasi di pasar modal. "Investasi cerdas yakni berinvestasi di pasar modal,”paparnya.

Pertumbuhan jumlah investor tidak diimbangi dengan volume transaksi saham yang mengalami penurunan sebesar 9,4% dari Rp963,17 miliar pada Januari-Oktober 2013 menjadi hanya Rp880,37 miliar pada Januari-Oktober 2014.

Sebelumnya, Fonny juga pernah bilang, beberapa perusahaan potensial di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) masih takut untuk berinvestasi di pasar modal, padahal menawarkan potensi keuntungan cukup besar,”Kelihatannya, perusahaan-perusahaan di daerah Sulut masih takut masuk ke pasar modal,”ujarnya.

Fonny menambahkan, banyak perusahaan daerah yang takut akan keterbukaan, karena dengan masuk di pasar modal perusahaan tersebut harus terbuka. Memang, diakuinya, untuk masuk ke pasar modal harus ada syarat-syarat yang perlu dipenuhi dengan ketentuan yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan.

Kata Fonny, di Sulut, sampai saat ini belum ada perusahaan daerah yang masuk ke pasar modal, namun akan terus di dorong melalui serangkaian sosialisasi tentang keuntungan bergabung di pasar modal. Rencananya, dalam waktu dekat ada PT Bank Sulut yang akan masuk pasar modal pada tahun depan dan ini akan menjadi perusahaan pertama di daerah yang masuk pasar modal. (ant/bani)

Related posts