Harga Minyak Dunia Turun, Harga ICP Ikut Anjlok

Kamis, 04/12/2014

NERACA

Jakarta - Kementerian ESDM mencatat harga minyak Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) pada November 2014 mengalami penurunan yang cukup signifikan yaitu mencapai US$8,33 per barel dibandingkan Oktober 2014. Pantauan Tim Harga Minyak Kementerian ESDM menunjukkan, ICP pada November 2014 mencapai US$75,39 per barel, sementara Oktober masih 83,72 dolar per barel.

Untuk harga minyak jenis minas/SLC pada November 2014 tercatat US$76,33 per barel atau turun US$8,13 per barel dibandingkan Oktober yang US$76,33 per barel. Penurunan ICP pada November disebabkan antara lain keputusan negara-negara OPEC tidak memotong produksi dan mempertahankan kuota produksi sebesar 30 juta barel per hari.

Lalu, laporan International Energy Agency (IEA) menyebutkan, pasokan minyak mentah negara-negara non-OPEC pada Oktober 2014 yakni AS, Kanada, dan Inggris meningkat 165.000 barel per hari. Selain itu, berdasarkan laporan Energy Information Administration (EIA)-USA, tingkat stok minyak mentah komersial Amerika Serikat dan premium selama November 2014 mengalami kenaikan dibandingkan dengan Oktober 2014.

Stok minyak mentah AS di November 2014 naik 2,8 juta barel dibandingkan Oktober 2014 dan stok premium November 2014 naik 4,6 juta barel dibandingkan Oktober 2014. Sementara, perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama pada November 2014 dibandingkan Oktober 2014 adalah WTI (Nymex) turun sebesar US$8,53 per barel dari US$84,34 per barel menjadi US$75,81 per barel.

Brent (ICE) turun sebesar US$8,42 per barel dari US$88,05 per barel menjadi US$79,63 per barel dan basket OPEC turun US$9,14 per barel dari US$85,06 per barel menjadi US$75,92 per barel. Secara lengkap perkembangkan harga ICP adalah Januari 2014 tercatat US$105,8 per barel, Februari US$106,08, Maret US$106,9, April US$106,44, Mei US$106,2, Juni naik US$108,95, Juli turun US$104,63, Agustus 2014 US$99,51, September US$94,97, dan Oktober US$83,72.

Sementara itu, diperdagangan Asia, harga minyak berbalik naik di perdagangan Asia pada Rabu, karena para pedagang mengonsolidasikan posisi setelah aksi jual baru-baru ini menjelang laporan persediaan minyak mentah AS terbaru, kata para analis. Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari, naik 52 sen menjadi US$67,40, sementara minyak mentah Brent untuk pengiriman Januari naik 35 sen menjadi US$70,89 di perdagangan sore.

WTI jatuh US$2,12 di New York pada Selasa, sementara Brent turun US$2,00 setelah Irak mengumumkan rencana untuk meningkatkan ekspor minyak mentah negara itu menyusul kesepakatan dengan wilayah otonomi Kurdi. Penurunan memperparah pukulan pada harga minyak akhir pekan lalu setelah Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) mempertahankan pagu produksinya tidak berubah, meskipun pasokan yang berlimpah telah mendorong harga melemah tajam. “Kami melihat beberapa konsolidasi di pasar saat ini,” Daniel Ang, analis investasi di Phillip Futures di Singapura, mengatakan kepada AFP.

Ia mengatakan bahwa cenderung melihat pasang surut tersebut untuk sisa tahun ini karena pasar minyak mentah menemukan harga yang baik untuk stabilisasi setelah kerugian baru-baru ini. Ang mengatakan para dealer juga sedang menunggu laporan mingguan minyak AS untuk pekan yang berakhir 28 November yang akan dirilis Rabu waktu setempat. Laporan ini akan memberikan indikasi permintaan di negara konsumen minyak terbesar di dunia.

Para analis memproyeksikan laporan akan menunjukkan peningkatan 600.000 barel dalam stok minyak mentah, kata Wall Street Journal. Amerika Serikat memiliki 383 juta barel minyak mentah yang tersimpan saat ini, menurut data resmi. Investor juga mencerna kenaikan indeks pembelian manajer resmi sektor jasa Tiongkok menjadi 53,9 pada November dari 53,8 pada Oktober. Peringkat A di atas 50 menunjukkan pertumbuhan. Data positif Tiongkok pada Rabu menyusul banyaknya angka ekonomi lemah yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan di ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

Minyak Dunia

Harga minyak dunia tetap berada di bawah US$70 per barel, pada perdagangan Selasa atau Rabu, 3 Desember 2014 waktu Indonesia. Harga minyak mentah pengiriman Januari merosot US$2,12 atau 3,1 persen menjadi US$66,88 per barel. Padahal, pada sehari sebelumnya harganya sempat melonjak empat persen.

Minyak dunia jenis Brent telah jatuh hampir 40 persen dalam lima bulan terakhir. Kelebihan pasokan serta keputusan negara pengekspor minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) untuk tetap mempertahankan produksi, turut memukul harga minyak. “Pasar tengah mencari titik keseimbangan,” ujar Olivier Jakob, analis perminyakan di Petromatrix, Swiss, seperti dikutip laman CNBC.

Jakob menambahkan, Brent sedang mencoba mencari tahu apakah akan diperdagangkan pada kisaran US$60-US$70 atau US$70-US$80 per barel. “Arab Saudi dan OPEC tidak lagi memiliki mekanisme untuk menyeimbangkan pasar dari sisi pasokan,”' kata Mark Keenan, Kepala Peneliti Komoditas Asia, Societe Generale.