Aplikasi Teknologi Ikan Hias Mulai Getol Ditransfer ke Daerah

Balitbangdias KKP-Pemkab Blitar Segera Teken Kerjasama

Kamis, 04/12/2014

NERACA

Blitar – Teknologi terapan di bidang ikan hias saat ini mulai getol ditransfer ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk ke Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Khususnya di Blitar, saat ini, Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias (BPPBIH atau biasa juga disingkat Balitbangdias) mentransfer teknologi penggunaan pakan untuk meningkatkan kualitas warna ikan hias koi. Pemerintah daerah setempat mendukung penuh program tersebut.

Wakil Bupati Blitar Rijanto mengatakan, pihaknya menyambut baik sinergi antara pemerintah pusat dalam hal ini Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balitbangdias bersama Pemerintah Kabupaten Blitar, terutama terkait dengan peningkatan kualitas pakan ikan koi untuk meningkatkan warna ikan tersebut.

“Kalau ikan koi ini warnanya lebih cerah, tentunya harganya juga akan lebih mahal,” ujar Rijanto usai memberikan sambutan pada acara Diseminasi Keberhasilan Aplikasi Teknologi Pakan Balitbangdias untuk Meningkatkan Kualitas Warna Ikan Koi di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Selasa (2/12).

Pemkab Blitar, lanjut Rijanto, akan segera membuat dan menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding-MoU) dengan Balitbangdias yang berada di bawah Balitbang KKP untuk memperkuat kerjasama pengembangan ikan hias di daerah itu. “Kita tidak ingin setelah kerjasama ini selesai tidak ada kelanjutannya. Kita sudah bicarakan untuk kita siapkan MoU dengan KKP,” jelas Wakil Bupati.

Seperti menggenapi pernyataan Rijanto, Kepala Balitbangdias Anjang Bangun Prasetio menjelaskan, MoU antara Balitbang KKP dan Pemkab Blitar sangat diperlukan untuk memperkuat kerjasama program diseminasi teknologi budidaya ikan hias di wilayah tersebut. Apalagi, menurut Prasetio, pihaknya kini tengah getol melakukan transfer teknologi pengembangan ikan hias yang dihasilkan para peneliti di balai riset yang dia pimpin ke berbagai daerah. “Kami mempunyai keharusan bahwa hasil-hasil litbang tidak hanya dilakukan di laboratorium. Akan tetapi disampaikan kepada masyarakat luas,” kata dia.

Di mata Prasetio, target utama pengguna hasil penelitian di bidang pengembangan ikan hias adalah masyarakat pembudidaya. Hasil penelitian harus bisa dimanfaatkan oleh pelaku usaha ikan hias. Lantas, apa perlunya MoU? “Kami tidak menginginkan setelah dikasih teknologi lalu bubar. Dengan lamanya waktu perjanjian untuk kami bisa mengawal teknologi itu,” jawab Pras—sapaan akrab Anjang Bangun Prasetio.

Mou Dengan Bupati

Sesungguhnya, jelas Prasetio, hingga saat ini sudah ada 7 Bupati yang menandatangani MoU dengan Balitbang KP untuk mengembangkan ikan hias di daerahnya masing-masing. Misalnya, teknologi budidaya ikan botia di Kabupaten Katingan di Kalimantan Tengah, Kabupaten Musi Banyuasin di Sumatera Selatan, Kabupaten Belitung Timur, dan Jambi. Diseminasi teknologi budidaya ikan hias yang diperkuat melalui MoU juga dilakukan di Kabupaten Magelang untuk ikan balashark, Kabupaten Banggai Kepulauan untuk ikan hias cardinal banggai, Kabupaten Boyolali untuk ikan hias pelangi, dan ikan clown biak di Kabupaten Buleleng di Provinsi Bali.

Di Musi Banyuasin, misalnya, kata Prasetio, pada ekspor perdana ikan hias botia sudah mencapai 20 ribu ekor. Belitung Timur akan ekspor perdana botia pada bulan Februari 2015. Sementara di Katingan pada bulan April 2015 akan ada ekspor perdana ikan botia. “Kita telah membangun sinergitas dengan 7 kabupaten. Mudah-mudahan Blitar menjadi kabupaten yang ke-8,” tegas Prasetio.

Menurut Kepala BPPBIH, pengembangan ikan hias di Blitar, khususnya terkait produksi pakan untuk peningkatan kualitas warna koi sudah bisa dilakukan oleh para pembudidaya setempat dengan kemasan yang menarik. Bahkan, untuk memperkuat gairah para pembudidaya lokal, pakan tersebut diberi label Blitar Koi Feed.

Sementara itu Wakil Bupati Blitar Rijanto menegaskan, Kabupaten Blitar telah ditetapkan sebagai kawasan minapolitan dengan produk unggulan ikan koi. Wilayah ini didaulat sebagai produsen ikan hias koi terbesar di Indonesia. Pada 2013, produksi koi di Blitar mencapai 200.800.000 ekor, dengan jumlah pembudidaya 23.960 orang. Setidaknya ada 5 kecamatan yang punya potensi pengembangan ikan hias, termasuk Nglegok.

Kendati demikian, Wakil Bupati Blitar mengakui, infrastruktur pendukung usaha ikan hias di daerahnya belum maksimal meski sudah banyak perbaikan. Karena sebagian diantara pembudidaya ikan hias tersebar di pelosok, maka perlu perbaikan aspal jalan agar arus logistik semakin lancar. “Ini nanti akan banyak membantu kelancaran di dalam pemasaran ikan koi. Pedagang-pedagang dari luar daerah itu langsung masuk kepada petani-petani,” tandasnya.

Selain perkara jalan raya yang harus diperbaiki, jelas Rijanto, infrastruktur berupa saluran air juga perlu pembenahan. Pasalnya, air adalah modal produksi ikan hias paling utama. “Infrastruktur saluran-saluran air masih perlu pembenahan-pembenahan. Sebagian besar masih alami, masih parit-parit biasa. Ada yang sudah dibangun, tapi kondisinya belum bagus, ada juga yang sudah rusak. Inilah yang masih perlu mendapat perhatian dari kita, dari provinsi dan dari pusat,” beber Rijanto.