Industri Ikan Hias Siap Sambut Pasar Bebas ASEAN

Kamis, 04/12/2014

NERACA

Blitar – Industri ikan hias di Indonesia kini tengah bersiap menyambut era Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community) yang bakal berlaku efektif pada akhir 2015. Di antara hal penting yang mesti diperkuat adalah daya saing para pembudidaya ikan hias yang tersebar di berbagai daerah di Tanah Air. Transfer teknologi terapan ke para petani ikan menjadi salah satu kata kunci memenangi persaingan di pasar bebas tingkat regional Asia Tenggara tersebut.

“Kita tahu bahwa yang terpenting dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN, adalah mutu, kualitas, kuantitas, dan produktivitas harus terus digenjot,” ujar Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias (BPPBIH) Anjang Bangun Prasetio kepada pers pada acara Diseminasi Keberhasilan Aplikasi Teknologi Pakan Balitbangdias untuk Meningkatkan Kualitas Warna Ikan Koi di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Selasa (2/12).

Menurut dia, diseminasi teknologi kepada para pembudidaya ikan hias perlu terus digalakkan melalui sinergi antara pihak terkait. Untuk di Kabupaten Blitar, kata Prasetio, transfer teknologi pengembangan ikan hias telah menginjak tahun kedua, dimulai pada 2013 silam.

Di samping pendampingan aplikasi teknologi pakan ikan koi untuk meningkatkan kualitas warna di Kabupaten Blitar, BPPBIH juga mulai memperkenalkan teknologi vaksin ikan dan hormon pertumbuhan yang bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya dan Institut Pertanian Bogor. Harapannya, ke depan, industri ikan hias semakin siap menghadapi pasar bebas ASEAN.

“Bahwa kegiatan ini adalah sinergitas di antara tiga lembaga, Badan Litbang Kelautan Perikanan melalui Balitbangdias, kemudian Dinas Kelautan Perikanan Kabupaten Blitar dan kita dapat dukungan dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya,” kata Prasetio.

“Dengan sinergi ini, para pembudidaya bisa betul-betul puas. Paling tidak, mau konsultasi ada pihak yang terkait. Dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN, para pembudidaya ikan di tahun 2015 sangat mungkin datang dari Vietnam,” tambahnya.

Dijelaskan Prasetio, pihaknya selalu siap membantu daerah dalam peningkatan mutu ikan hias di seluruh Indonesia, termasuk membantu sarana dan teknologi. “Kami siapkan teknologi, teknologi resirkulasi, teknologi pakan, dan kami libatkan perguruan tinggi,” tandasnya.

Wakil Bupati Blitar Rijanto menambahkan, ikan hias koi yang menjadi produk andalan di daerahnya dia yakini siap menghadapi pasar bebas ASEAN. “Tahun 2015 kita akan menghadapi pasar bebas. Salah satu yang bisa bersaing adalah ikan koi. MoU akan kita buat agar daya saing ikan koi kita menjadi luar biasa. Ikan koi Blitar yang sudah sangat terkenal, tidak hanya di tingkat nasional bahkan ke bebeberapa negara, ini akan lebih bagus lagi,” papar Rijanto menjelaskan soal rencana MoU (nota kesepakatan) antara Pemkab Blitar dengan Badan Litbang Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mengembangkan ikan koi di daerahnya.

Terkait peluang ekspor, lanjut Wakil Bupati, dia dan Prasetio sudah bicara banyak. Ke depan ekspor koi asal Blitar tidak hanya diarahkan ke pasar Asia Tenggara, namun juga ke Timur Tengah. “Tadi diinformasikan oleh Pak Pras juga, akan dijajaki sampai ke Timur Tengah. Harapan kita ke sana,” imbuh Rijanto.

Dia juga mengatakan, Kabupaten Blitar sudah sering mendapat penghargaan terkait industri ikan hias koi di tingkat nasional maupun daerah. “Selain Kita pernah mendapat juara pertama di desa Sumber Ringin, satu tahun yang lalu. Berikutnya penghargaan dari BPPT. Saya disuruh presentasi dan dialog dengan pakar-pakar. Ternyata unggulan Kabupaten Blitar itu adalah ikan koi. Ini luar biasa,” urainya.

Rijanto mengaku, kehidupan para petani ikan di daerahnya selalu menjadi prioritas pemerintah daerah. Itu sebabnya, Pemkab Blitar siap mengalokasikan anggaran untuk meningkatkan daya saing para pembudidaya. “Saya kira kalau sudah menyangkut kehidupan para petani perikanan ini akan selalu menjadi prioritas. Tidak ada masalah untuk penganggaran. Prinsipnya adalah bagaimana petani ikan koi yang ada di Kabupaten Blitar ini lebih berdaya saing menghadapi pasar bebas nanti,” tukas Rijanto.