Tiga Faktor Kunci Pengembangan Ikan Hias Nasional

NERACA

Blitar – Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias (BPPBIH) Anjang Bangun Prasetio mengatakan, ikan hias saat ini sudah mulai menjadi isu nasional. Karena itulah, ke depan, dia berharap pengembangan ikan hias, termasuk upaya pembentukan sentra-sentra ikan hias di berbagai daerah, bisa dilaksakan lebih cepat.

“Kita tahu bahwa ikan hias ini sekarang menjadi isu nasional yang penting buat bangsa kita. Ikan hias mudah-mudahan menjadi sesuatu yang sangat penting. Kami diberi tugas untuk mapping (memetakan) potensi ikan hias nasional,” kata Prasetio saat berbincang santai dengan Neraca, di Blitar, Jawa Timur, Selasa (2/12).

Lebih jauh Prasetio menjelaskan, jika hasil pemetaan tersebut kemudian ditindaklanjuti sehingga pengembangan ikan hias menjadi program penting dan strategis pemerintah, maka akan ada dukungan penganggaran, Sumber Daya Manusia (SDM), dan infrastruktur litbang yang lebih besar. Sehingga, pada gilirannya, prospek ikan hias ke depan akan sangat cerah. Apalagi sekarang ini dilihat dari sisi pendapatan para pembudidaya, bisnis ikan hias ini sangat bisa bersaing dan menjanjikan.

“Perhatian dari pemerintah sangat penting. Ketersediaan SDM, litbang, dan anggaran. Itu tiga faktor utama yang menjadi pilar pengembangan ikan hias nasional,” ungkap Prasetio.

Kemudian, secara lebih detail, dia menjelaskan pemetaan yang ditugaskan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kepada balai yang dia pimpin. Pemetaan tersebut, memuat banyak hal. Antara lain bicara masalah potensi ikan hias yang ada di alam, berapa banyaknya, berapa jenisnya, mana yang punya nilai ekonomi namun hampir punah, dan mana-mana yang bisa menjadi aset bangsa.

Prasetio mencontohkan, ikan arwana sebagai identitas bangsa Indonesia. Fakta menunjukkan, ikan hias di alam jumlahnya banyak, namun yang hampir punah tak kalah banyak. Hal ini disebabkan oleh tipikal sebagian orang Indonesia yang lebih senang menghabiskan ketimbang membudidayakan. Sebagai misal ikan pelangi dari Papua, di alamnya sudah mulai punah. Ikan arwana juga sama. “Budidaya adalah solusi satu-satunya. Yang jelas, tidak hanya di atas kertas, tapi kita diseminasikan kepada masyarakat,” sambung Prasetio.

Kecuali bicara soal jenis, pemetaan tersebut juga mengupas tentang potensi pasar dan daya saing ikan hias. Di samping itu, tentu saja mengenai kebijakan atau regulasi yang telah diambil oleh pemerintah. Problem lain yang dia kupas adalah belum bersinerginya semua pemangku kepentingan ikan hias di Indonesia. Termasuk juga melakukan kajian birokrasi perdagangan dan pemasaran ikan hias yang hingga saat ini masih tergolong rumit dibanding negara tetangga.

“Sementara ini ada kendala di eksportir. Birokrasi perdagangan punya rantai yang cukup panjang. Di KKP sendiri kalau tidak salah ada 5 pintu yang harus dilewati. Di Kementerian Perdagangan ada 6 pintu. Belum lagi Kementerian Perhubungan terkait dengan kargo,” jelasnya panjang lebar.

Salah satu negara tetangga yang cukup piawai berdagang ikan hias, sebut Prasetio, adalah Singapura. Dalam catatannya, Negeri Singa hingga saat ini masih menjadi yang terdepan dalam urusan ekspor ikan hias. Selain lihai dalam urusan reekspor dengan mengganti merek dagang, Singapura juga menyiapkan arus logistik seperti kargo di semua penerbangan dengan kapasitas perdagangan internasional yang bagus dan profesional. Yang paling bagus, kata dia, di Singapura ada lembaga yang punya otoritas mengatur kuota ekspor ke negara tujuan, termasuk jenis dan ukuran ikannya.

Peran Litbang

Selain bercerita panjang lebar mengenai pemetaan potensi bisnis ikan hias di Tanah Air, Prasetio juga menggarisbawahi peran penting lembaga penelitian dan pengembangan (litbang) ikan hias nasional. Menurut dia, salah satu ciri negara maju penghargaan terhadap litbang itu tinggi. Litbang di negara maju itu didukung oleh peneliti yang inovatif dan tentunya anggaran. India, Australia, Tiongkok, bahkan Vietnam sekarang sudah memiliki penelitian yang lumayan baik dibanding Indonesia yang lebih lama melakukan riset. “Sebagai contoh di Vietnam itu dibangun nano teknologi sebagai pembangunan bio teknologi. Inovasi kita termasuk rendah jika dibanding litbang di negara maju,” ungkapnya.

Karena itu pula, Prasetio, di kantornya mengaku selalu menggaungkan pentingnya keterkaitan antara dunia riset dan pasar bisnis. “Saya di kantor selalu bilang, bahwa peneliti itu harus baca pasar. Jadi penelitian bukan hanya untuk diri sendiri. Di ikan hias, misalnya, komoditas apa yang ramai di pasar. Itu yang kita kerjakan, sesuai kebutuhan pasar. Bukan kita mengerjakan, katakan ada 5 tren di pasar, tapi kita mengerjakan 6 tren yang tidak dibutuhkan. Jadi hasil riset sekarang ini kan untuk industri,” jelasnya.

Hingga saat ini, sesungguhnya, sambung Prasetio, kualitas peneliti ikan hias di Indonesia sudah lebih baik dibanding masa sebelumnya. “Persyaratan menjadi peneliti kan sulit. Syarat S-1 sudah pasti. Begitu masuk pun diseleksi melakukan diklat peneliti. Dari peneliti muda ke madya itu harus diklat. Sudah semakin ketat. Ke depan, indikator penelitian bukan hanya sekedar tulisan, tapi karya terapan di masyarakat. Saya kira peneliti kita sudah lebih bagus,” tandasnya.

Namun demikian, integrasi dalam penelitian ikan hias juga tak kalah penting. “Penelitian harus terintegrasi,” jelasnya.

Riset ikan hias terkait dengan banyak bidang. “Di ikan hias, terkait dengan pakan, makanya kita harus punya ahli nutrisi. Masalah kualitas air dan lingkungan, makanya butuh ahli lingkungan, masalah pembenihan, kita butuh orang-orang ahli genetika. Belum lagi kalau kita tarik ke aquaculture engeneering, masih jarang di bidang itu,” imbuh Prasetio.

BERITA TERKAIT

Tiga Rekomendasi Untuk Penataan Ulang Regulasi Indonesia

Oleh: Maria Rosari Para pakar hukum tata negara dalam Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara mencatat setidaknya terdapat lebih dari 62.000…

Lagi, Matahari Buka Tiga Gerai di Akhir Tahun

PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) bakal membuka dua gerai department store di  bulan November ini serta satu gerai specialty store Nevada pada  Desember di tahun 2017 ini. …

Menteri Dalam Negeri - Kunci Sukses Pilkada Meningkatnya Angka Partisipasi

Tjahjo Kumolo  Menteri Dalam Negeri Kunci Sukses Pilkada Meningkatnya Angka Partisipasi Bandung - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mengingatkan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Meningkatkan Daya Saing SDM Industri Dengan Program Vokasi

NERACA Kediri - Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengatakan lemahnya daya saing industri dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya adalah Sumber Daya…

Wilayah Jawa Tengah - KKP Beri Bantuan Alat Tangkap Ramah Lingkungan

NERACA Pekalongan - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) kembali menyalurkan bantuan alat penangkapan ikan…

Korea Nilai Indonesia Mitra Penting di Sektor Industri

NERACA Jakarta – Pemerintah Korea Selatan menyatakan bahwa penguatan kerja sama dengan Indonesia pada saat ini menjadi penting. Salah satu…