Akselerasi Pendidikan Tinggi Berbasis Agama - Oleh: Prof Dr H Imam Suprayogo, Dosen UIN Malang

Sebagai bangsa yang majemuk, termasuk agama yang dipeluknya, maka perguruan tinggi berbasis agama seharusnya mendapatkan perhatian khusus. Sejak lama, agama dianggap memiliki peran strategis dalam membangun bangsa. Pandangan itu memang benar. Oleh karena itu pendidikan tinggi berbasis agama seharusnya diposisikan pada tempat strategis. Untuk mengaktualisasikan peran agama itu, perguruan tinggi yang diharapkan melahirkan manusia yang religius dan memahami ajaran agamanya secara lebih baik maka tidak boleh diabaikan.

Peran strategis agama tidak akan mungkin dilaksanakan secara maksimal manakala perguruan tinggi yang berbasis agama tidak mendapatkan perhatian yang cukup. Perguruan tinggi berbasis agama sebenarnya menyandang idealism yang tinggi. Mereka memiliki semangat untuk mengembangkan dirinya. Akan tetapi sementara ini pada kenyataannya masih tertinggal, mereka masih sibuk menyusun konsep, mencari bentuk kelembagaan yang tepat, memenuhi kebutuhan SDM, dan bahkan juga masih menghadapi berbagai problem terkait dengan kepemimpinan dan manajerialnya.

Di Indonesia terdapat 55 PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri), 3 Perguruan Tinggi Agama Hindu, 8 Perguruan Tinggi Agama Kristen Negeri, dan 2 Perguruan Tinggi Agama Budha Negeri. Sementara itu Agama Katholik dan Kong Hu Cu, masing-masing belum memiliki perguruan tinggi negeri. Sekalipun demikian, mereka memiliki perguruan tinggi swasta dalam jumlah yang cukup banyak dan juga telah berkembang. Rupanya persoalan yang dihadapi oleh berbagai perguruan tinggi yang berbasis agama itu adalah sama atau setidaknya serupa, yaitu tentang konsep, kelembagaan, SDM, dan juga menyangkut managerialnya.

Saya sebagai orang yang pernah memimpin perguruan tinggi Islam dalam waktu yang cukup lama (STAIN hingga berubah menjadi UIN Malang), memperoleh pemahaman yang agak jelas tentang banyak perguruan tinggi yang berbasis agama dimaksud. Pengetahuan itu saya peroleh dari selain kunjungan mereka ke UIN Malang, juga saya seringkali diundang dan datang ke hampir semua perguruan tinggi berbasis agama itu, baik Islam, Hindu, Budha, maupun Kristen. Melalui kesempatan itulah, saya berkesempatan untuk berdialog, berdiskusi, dan atau bertukar pikiran menyangkut tentang berbagai hal sebagaimana disebutkan di muka.

Dari apa yang selama ini saya lihat, pahami, dan lakukan secara langsung dalam memimpin STAIN hingga berubah menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, maka saya berpandangan bahwa perguruan tinggi berbasis agama sebenarnya memiliki kekuatan luar biasa untuk dikembangkan lebih jauh. Agama menjadi kekuatan penggerak yang bersumber dari dalam yang luar biasa. Oleh karena itu, manakala pemerintah ingin menjadikan rakyatnya tumbuh dan berkembang secara utuh, baik lahir maupun batin, fisik maupun mentalnya, jiwa dan raganya sekaligus, maka institusi pendidikan tinggi berbasis agama adalah merupakan wahana yang tepat untuk mewujudkan maksud itu.

Perguruan tinggi berbasis agama, pada akhir-akhir ini berusaha untuk bangkit dan ingin berubah. Di kalangan mereka tumbuh suasana yang amat dinamis, terbuka, dan mampu menjalin komunikasi, tidak saja pada intern perguruan tinggi agama yang sama, tetapi juga antar perguruan tinggi agama yang berbeda. Adalah merupakan hal biasa, para guru besar dari perguruan tinggi Islam misalnya, diundang untuk memberikan ceramah atau kuliah tamu pada perguruan tinggi agama Hindu, Budha, maupun Kristen. Saya bersama Prof. Azyumardi Azra dan Prof. Amin Abdullah pernah diundang berceramah di Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja. Selain itu, sebagai bukti keterbukaan itu, dan menurut hemat saya hal ini cukup menarik, bahwa sertifikasi dosen Perguruan Tinggi Hindu dan Budha di seluruh Indonesia selama ini diserahkan kepada UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Atas dasar bacaan terhadap potensi perguruan tinggi berbasis agama selama ini, maka saya berpandangan bahwa seharusnya pemerintah memberikan perhatian lebih kepada institusi pendidikan tinggi itu. Mengembangkan perguruan tinggi berbasis agama akan lebih mudah dan juga menguntungkan, oleh karena pada institusi itu terdapat orang-orang yang tidak saja tergerak oleh motivasi yang bersifat duniawi, melainkan juga memiliki panggilan jiwa atas dasar kecintaannya terhadap agama atau kemanusiaan. Keyakinan dan kecintaannya terhadap nilai-nilai agama yang disandangnya akan menjadi kekuatan yang luar biasa untuk menumbuh-kembangkan institusi itu. Selain itu kiranya, sebagai negara yang berfalsafahkan Pancasila, maka institusi pendidikan berbasis agama seharusnya justru menjadi kebutuhan, dan oleh karena itu sangat logis manakala segera dikembangkan atau diakselerasi secara lebih maksimal. Wallahu a'lam. (uin-malang.ac.id)

BERITA TERKAIT

KIOS Bilang Refleksi Minat Cukup Tinggi - Sahamnya Disuspensi BEI

NERACA Jakarta – Lantaran mengalami kenaikan harga saham dan waran di luar kewajaran, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya melakukan…

Produksi Lele Bioflok Sokong Suplai Pangan Berbasis Ikan

NERACA Sleman- Menteri Kelautan dan Perikanan yang diwakili Sekjen KKP, Rifky E Hardijanto melakukan panen perdana budidaya lele sisitem bioflok…

Tol Pandaan – Malang Ditargetkan Berfungsi Lebaran 2018

  NERACA Jakarta - PT Jasa Marga Tbk melalui anak usahanya, PT Jasamarga Pandaan Malang menargetkan proyek Jalan Tol Pandaan-Malang (37,62…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Perlukah Pemerintah Memberi Tunjangan Profesi Wartawan?

Oleh: D.Dj. Kliwantoro Pemerintah telah memberi tunjangan profesi dan tunjangan khusus guru, baik yang berstatus pegawai negeri sipil maupun bukan…

Solusi Alami Kendalikan Pemanasan Global di Indonesia

Oleh: Genta Tenri Mawangi Pemanasan global telah menjadi masalah masyarakat dunia, karena dampaknya dianggap tengah terjadi di banyak negara. Dalam beberapa…

Budaya Kerja Ala Jokowi

  Oleh : Indah Rahmawati Salam, Peneliti di Lembaga Kajian Arus Pembangunan  Presiden RI ke-7 yaitu Ir.H.Joko Widodo atau biasa…