Desa Wisata Kemiren, Keindahan Budaya Timur Jawa

Sabtu, 06/12/2014

Timur pulau jawa ini memang memiliki keindahan alam yang masih terjaga rapih dan cukup tersembunyi. Ketika kita mengunjungi keindahan alam Banyuwangi maka belumlah lengkap bila belum mengunjungi desa yang satu ini. Sebuah desa bernama Kemiren kini menjadi salah satu tujuan menarik ketika kita berada di Banyuwangi. Mengunjungi desa ini kita dapat melihat keseharian suku Using yang masih menjaga adat dan budayanya dengan baik.

Desa Wisata Kemiren berlokasi di Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Warga desa ini kental memegang teguh adat istiadat nenek moyang mereka. Menjadi istimewa karena gelaran adat yang sudah menjadi kebiasan tersebut didukung oleh Pemerintah Daerah untuk menjadi atraksi dan daya tarik di Banyuwangi.

Upacara adat di Desa Kemiren saat masa panen tiba menjadi pemandangan yang menarik, dalam upacara ini warga akan membunyikan tabuhan angklung dan gendang di pematang sawah. Saat menumbuk padi, wanitanya akan memukul-mukul lesung dan alu sehingga menghadirkan bunyi harmonis.

Suku Using sendiri merupakan masyarakat Blambangan yang tersisa dari keturunan Kerajaan (Hindu) Blambangan yang berkuasa selama dua ratusan tahun sebelum ditaklukkan Kerajaan Mataram Islam pada 1743 M. Suku Using berbeda dengan masyarakat dari suku Jawa, Madura ataupun Bali terutamanya bila dilihat dari budaya maupun bahasanya.

Bagi suku Using kesuburan tanah dan hasil panen bersumber pada penghormatan kepada roh-roh nenek moyang. Apabila terjadi wabah, penyakit ataupun kesusahan pada desa maka dianggap sebagai kemarahan roh-roh nenek moyang terhadap perbuatan atau tingkah laku warga yang kurang sesuai. Oleh sebab itu, masyarakat Using di Kemiren sering, bankan selalu meminta pertolongan dari roh-roh nenek moyang dengan cara mengadakan selamatan.

Selamatan Kampung Sewu Tumpengmenjadi acara adat yang perlu kita lihat langsung dan biasanya dihelat akhir September. Kegiatan ini merupakan ungkapan rasa syukur warga atas apa yang telah diberikan Tuhan setahun sebelumnya. Di dalamnya kita dapat melihat keramaian tumpengan yang diusung dari masing-masing keluarga.

Barong Ider Bumimerupakan upacara tolak bala desa dimana biasanya diadakan tepat hari kedua Idul Fitri. Kegiatannya ditandai arak-arakan barong kemiren beserta perangkatnya dari ujung timur desa ke ujung barat desa. Kemiren Art Performance digelar setiap bulan Juni, didalamnya ditampilkan drama teatrikal yang menceritakan sejarah kota Banyuwangi. Hal unik dari acaranya adalah seni pertunjukan yang ditampilkan diadakan di tengah hutan dan di atas air.

Ngopi Sepuluh Ewuberupa acara minum kopi sekampung di Desa Kemiren yang biasanya dihelat akhir September dan masuk dalam rangkaian Banyuwangi Festival. Upacara lain yang masih sering dilakukan suku Using adalah upacarangaturi dahar. Acara selamatan ini bertujuan untuk membersihkan diri bagi anggota keluarga. Umumnya upacara ini dilakukan setiap keluarga suku Using setahun sekali saat malam Jum’at atau malam Senin.

Jangan lupa untuk mencicipi sayur dan sambal yang memiliki nama sangat unik yaitu “lucu” yang merupakan kuliner khas Using. Itu merupakan sajian kuno asal Banyuwangi ini memiliki cita rasa menggugah serupa sayur asem. Rasa sayuran ini pedas dan segar juga sedikit ada rasa mint. Biasanya sayur lucu diolah bersama potongan daging dan tulangan ayam kampung kemudian diberi kuah dan didampingi ayam kampung goreng dan ikan asin. Sayur dan sambal lucu hanya dijumpai saat acara hajatan seperti pernikahan atau ritual menaikkankilling.