Menakar Performance Kinerja Emiten Pelayaran - Pilih Konversi Utang Ke Saham

NERACA

Jakarta – Komitmen pemerintah menggejot sektor kemaritiman, belum memberikan dampak secara langsung terhadap industri pelayaran yang sebaliknya terbebani utang akibat pelemahan nilai tukar rupiah. Bahkan cerita kelam, beberapa perusahaan pelayaran yang gagal bayar menjadi pengalaman pahit.

Hal inipun mulai dirasakan beberapa emiten transportasi pelayaran yang tengah mencari alternatif pembayaran untuk melunasi utang. Salah satu langkahnya adalah konversi utang, seperti yang dilakukan PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk (HITS), PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA), dan PT Zebra Nusantara Tbk (ZBRA) yang akan mengkonversi utang menjadi saham melalui aksi Penawaran umum terbatas (PUT) tanpa Hak Memesan Efek terlebih Dahulu (non-HMETD).

Rencananya, HITS akan menerbitkan 2,33 miliar saham baru atau setara 34,33% total saham ditempatkan perseroan. Private placement perusahaan transportasi laut itu akan dieksekusi pada harga Rp 700,”Penambahan modal senilai total US$ 133,89 juta,” ucap Daryono, Sekretaris Perusahaan HITS di Jakarta, kemarin.

Nantinya, pihak yang menerima saham HMETD adalah PT Menara Cakra Buana. Ini merupakan kendaraan Athens Investment Funds SA untuk mengambil saham HITS. Adapun, pencatatan sahamnya akan dilakukan 15 Desember mendatang. Emiten yang bergerak di bisnis angkutan laut bermuatan bahan bakar cair, BLTA pun mengalami kesulitan yang sama. BLTA akan menerbitkan 4,27 miliar saham baru atau setara 27% modal ditempatkan dan disetor penuhnya di harga Rp 62,5 per saham. Aksi ini bernilai Rp 266,87 miliar ini dilakukan untuk keluar dari lilitan utang.

Dia menjelaskan, tujuan penerbitan saham baru ini adalah memenuhi kewajiban perusahaan di bawah rencana restrukturisasi. Dengan konversi utang jadi saham ini, Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ akan mengempit 0,1% kepemilikan di BLTA, para pemegang obligasi rupiah akan meraih 2,6%, pemegang obligasi Yuan Hongkong akan mendapat 9,6%, pemegang obligasi konversi 6,2%, kreditur sewa akan mempunyai 5,7%, dan kreditur lainnya 2,8%.

Namun lain ceritanya dengan PT Soechi Lines Tbk yang bakal listing pada perdagangan Rabu (3/12) yang optimis sahamnya diserap pasar. Hal inipun didukung dengan kajian dari PT Daewoo Securities, penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) PT Soechi Lines akan disambut positif pelaku pasar.

Dalam risetnya diungkapkan, alasan IPO PT Soechi Lines bakal diserap pasar karena kondisinya saat ini cukup tepat. Dimana hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintahan baru melaksanakan lima pilar guna mengembangkan industri kelautan. Kelimanya adalah menata ulang industri kelautan di Indonesia, menjaga dan menumbuh kembangkan sumber daya kelautan, prioritas pengembangan infrastruktur dan konektifitas, memperkuat diplomasi tata kelautan serta memperluas dan memperkuat pertahanan kelautan. Maka dengan rencana pemerintah itu, Soechi di perkirakan akan menjadi salah satu penerima keuntungan. (bani)

BERITA TERKAIT

Modal Asing Keluar, Utang Indonesia Melambat

    NERACA   Jakarta - Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia tumbuh melambat pada akhir Mei 2018 seiring arus dana…

Kinerja BPR Di Sulsel Tumbuh 11,30%

    NERACA   Makassar - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional VI Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) menyatakan kinerja Bank…

KINERJA BOSCH INDONESIA

Managing Director Bosch Indonesia Andrew Powel (kanan) meninjau salah satu stand pameran produk Bosch, usai memberikan penjelasan tentang perkembangan Bosch…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Penjualan HEXA Capai 22,95% Dari Target

Di kuartal kedua 2018, PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) membukukan penjualan alat berat sebanyak 495 unit atau 22,95% dari target…

Penjualan Kabelindo Murni Turun 29,45%

NERACA Jakarta - PT Kabelindo Murni Tbk (KBLM) membukukan penjualan bersih konsolidasi sebesar Rp221,7 miliar sepanjang kuartal I/2018. Capaian tersebut…

BTPN Bukukan Laba Bersih Rp 1,09 Triliun

NERACA Jakarta – Semester pertama 2018, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) membukukan laba bersih Rp 1,09 triliun atau…