Sulit Realisasikan Target 1 Juta Bph - Diminta SBY pada 2012

NERACA

Jakarta - Kementerian ESDM tampaknya kebingungan melaksanakan “perintah” Presiden SBY terkait target lifting minyak 1 juta bph sebelum 2013. Karena permintaan itu idealnya baru bisa direalisasikan pasca 2013. "Kelihatannya agak berat ya, karena kalau dari kami kira-kira baru bisa dibukukan rata-rata baru pada 2013, paling cepat," kata Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita Legowo di Jakarta,7/9

Yang jelas, kata Evita, permintaan lifting minyak meningkat pada 2012 bukan hal yang realistis. " Tetapi bisa di 2013, nggak bisa di 2012," tambahnya

Sebelumnya, Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan bahwa untuk menghadapi ketidakpastian harga minyak yang terus meningkat dan kebutuhan dalam negeri, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menargetkan hingga tahun 2013 mendatang, lifting minyak bisa mencapai 1 juta barel. "Dalam waktu singkat, maksimal 2013 Presiden minta lifting minimal 1 juta barel. Jadi Kementrian diminta melaporkan langkah-langkah yang harus dilakukan mencapai itu," ungkap Hatta di Istana Presiden, kemarin.

Untuk mencapai target lifting 1 juta barel, Presiden meminta penurunan karena faktor ilmiah minyak bumi bisa turun dari 12 persen menjadi 3 persen. Sehingga produksi minyak di lapangan sebesar 900.000 barel per hari, bisa dipertahankan. Untuk itu perlu dilakukan berbagai recovery berbagai sumber minyak seperti Blok Cepu, Banyu Urip dan lainnya. "Jadi diharapkan ada optimalisasi sumur, target 44.000 barel per day ditambah 12.000 barel per day harus didapatkan. Investasi juga jangan dihambat untuk kepentingan macam-macam," ujarnya.

Sementara itu harga minyak dunia bervariasi atau "mixed". Hal ini terjadi karena meningkatnya kekhawatiran bahwa Amerika Serikat dan Eropa bisa kembali ke resesi, memukul permintaan energi global.

Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober, ditutup pada 86,02 dolar AS per barel, atau turun 43 sen dari penutupan Jumat. Pasar keuangan AS dibuka kembali dengan merosot tajam Investor merasa cemas tentang krisis utang zona euro dan pertumbuhan rapuh di Amerika Serikat, konsumen minyak terbesar di dunia. Kontrak berjangka acuan WTI telah jatuh lebih dari tiga dolar AS pada awal perdagangan sebelum mengupas kerugian seiring dengan pasar ekuitas.

Di London, minyak mentah Brent North Sea menetap di 112,89 dolar AS per barel, atau melonjak 2,81 dolar AS dari level penutupan Senin. "WTI turun lagi hari ini karena persediaan tetap kuat dan (Badai Tropis) Lee sekarang telah keluar dari Teluk," kata Eric Bickel, analis komoditas di Summit Energy.

Phil Flynn dari PFG Best mencatat bahwa harga minyak telah terpukul keras di tengah-tengah kekhawatiran perlambatan global meskipun fakta bahwa badai tropis Lee telah menyebabkan penutupan sekitar 61% dari produksi minyak dan 46 persen produksi gas alam dari Teluk Meksiko.

"Sementara itu karena permintaan terjun, tarif kapal tanker minyak anjlok. Beberapa maskapai pelayaran memperingatkan kebangkrutan karena biaya tidak dapat mempertahankan operasi. Jika situasi ekonomi dunia memburuk, harga minyak akan terus merosot," Flynn mengatakan.

Investor khawatir tentang krisis utang zona euro dan data ekonomi AS yang lemah, termasuk laporan ketenagakerjaan yang suram pada Jumat lalu yang menunjukkan tidak ada lapangan pekerjaan diciptakan pada Agustus.

Andrey Kryuchenkov, analis komoditas pada kelompok keuangan VTB Capital, mengatakan "kekhawatiran pertumbuhan melambat dan akibatnya permintaan minyak mentah lebih lemah" telah menekan pasar minyak. **cahyo

Related posts