Indofarma Jual Anak Usaha Ke Malaysia - Bidik Laba Rp 40 Miliar

NERACA

Jakarta –Perusahaan farmasi milik pemerintah, PT Indofarma Tbk (INAF) akan menjual anak usahanya, PT Indofarma Global Medika (IGM) ke investor Malaysia senilai US$ 20 juta atau sekitar Rp200 miliar,”Kita akan melepas 20% saham, angkanya US$ 20 juta atau sekitar Rp200 miliar,”kata Direktur Utama INAF Arif Budiman di Jakarta, Selasa (2/12).

Disebutkan, calon pembeli Indofarma Global Medika sebelumnya ada dua investor, yaitu dari Malaysia dan Korea. Namun, investor asal Korea mundur dari proses penawaran. Sementara, mengenai waktu eksekusi penjualan, pihaknya belum bisa mengungkapkan, karena masih dalam proses.

Untuk proses penjualan anak usaha ini, lanjutnya, perseroan sudah menandatangani non disclosure agreement dengan Mandiri Sekuritas, nanti dia yang mencari pembeli. Menurutnya, investor tersebut juga akan membawa produk farmasi dan alat kesehatan yang rencananya akan didistribusikan melalui IGM ke seluruh Indonesia.

Tahun depan, Indofarma membidik perolehan laba bersih mencapai di atas Rp40 miliar di 2015,”Insya Allah di Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) kita untuk tahun depan sampai saat ini masih di tangan komisaris, entah dikoreksi, minta tambah oleh komisaris, ya laba tahun depan sekitar Rp40 miliar,”kata Arif Budiman.

Dia mengatakan, jika jajaran komisaris meminta menambah perolehan laba bersih di tahun depan, perseroan akan mengusahakan perolehan laba yang diinginkan oleh jajaran komisaris. Jika laba dikurangin tidak mungkin, karena laba di 2012 saja sudah mencapai Rp40 miliar."Kalau beliau minta nambah kami usahakan, dikurangin tidak mungkin, pokoknya di atas Rp40 miliar. Memang targetnya bisa lebih," jelas Arif.

Perseroan masih akan menambahkan kapasitas beta-laktam di 2015, sehingga pengejaran laba bersih tidak terlalu jauh dibanding perolehan dua tahun sebelumnya. Mungkin laba bersih perseroan bisa melejit di 2016 atau tiga tahun di atas tahun 2015,”Tahun 2015 memang masih Rp40 miliar, nanti di tiga tahun dari sekarang bisa mencapai Rp70 miliar. Tapi sekarang dan tahun depan balik lagi ke 2012, masih di angka Rp40 miliar sekian,”tuturnya.

Kemudian perseroan juga menganggarkan belanja modal (capex) sebesar Rp135 miliar di 2015. Nantinya dana sebanyak Rp95 miliar untuk bangunan dan sisanya Rp40 miliar untuk pembelian mesin dan alat yang akan digunakan perseroan.

Disebutkan, total dana sebesar Rp95 miliar akan digunakan untuk membangun fasilitas FDC-TB, fasilitas beta-lactan, fasilitas steril, fasilitas pilot plan (Lit Bang) dan fasilitas gudang. Semua fasilitas yang dibangun untuk membangun kinerja perseroan yang lebih meningkat untuk kedepannya.

Menurut Arif, dana capex diperoleh dari penerbitan surat utang jangka menengah atau medium term notes (MTN) sebesar Rp160 miliar yang akan cair pada 10 Desember 2014,”Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah setuju dengan MTN ini, perolehan MTN ini untuk dana investasi yang akan dikerjakan perseroan di tahun depan," ujarnya.

Dia menambahkan, MTN perseroan memiliki jatuh tempo selama tiga tahun, dengan kisaran bunga yang mencapai 9%-10%. Adapun serapan dana capex perseroan di 2014 sudah sebesar 80%, dari total capex sebesar Rp100 miliar. (bani)

BERITA TERKAIT

Anak Usaha Lippo Group Siap Perkuat Lini Usaha Logistik

Anak Usaha Lippo Group Siap Perkuat Lini Usaha Logistik NERACA Jakarta - Lippo Group menggandeng Sumitomo Corporation untuk memperkuat bisnis…

Jual Tanobel Sehat Nutrisi - CLEO Raup Dana Segar Rp 11 Miliar

NERACA Jakarta - PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) mengantungi dana segar senilai Rp11 miliar dari penjualan saham perseroan di PT…

Perbesar Pasar Ekspor - Sritex Bidik Pendapatan US$ 1,19 Miliar

NERACA Jakarta – Seiring dengan upaya memperbesar pasar ekspor, PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex tahun ini mengincar…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BPII Terima Dividen Tunai Rp 12,99 Miliar

PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII) pada tanggal 12 Juni 2019 memperoleh dividen tunai tahun buku 2018 sebesar Rp12,99 miliar…

Kerugian Steady Safe Susut Hingga 54%

Meskipun masih mencatatkan rugi di kuartal pertama 2019, PT Steady Safe Tbk (SAFE) mengklaim rugi bersih yang dibukukan senilai Rp1,809…

Volume Penjualan SMCB Masih Terkoreksi

Lesunya pasar semen dalam negeri dirasakan betul oleh PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB). Perusahaan yang dulunya PT Holcim Indonesia…