Belanja Modal Untuk Infrastruktur Dinaikkan

NERACA

Jakarta - Pemerintah segera menaikan anggaran belanja modal dalam RAPBN 2012 pada sektor infrastruktur. Adapun alokasi alokasi anggaran belanja modal itu direncanakan Rp161,8,1 triliun atau meningkat Rp27,2 triliun (19,3%) dari APBNP 2011. "Dalam RAPBN 2012, alokasi belanja modal tersebut antara lain difokuskan untuk mendukung program-program penyediaan infrastruktur," kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo di Jakarta,7/9

Lebih jauh kata Mantan Dirut Bank Mandiri ini, pembangunan infrastruktur dimaksudkan mendorong pertumbuhan ekonomi. "Di antaranya untuk pembangunan dasar untuk mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi dan perbaikan kesejahteraan rakyat, pembangunan infrastruktur pertanian untuk mendukung pencapaian program ketahanan pangan serta pembangunan infrastruktur energi dan komunikasi," tambahnya

Menurut Agus, dalam RAPBN 2012 alokasi anggaran untuk belanja infrastruktur saat ini baru direncanakan mencapai Rp156,5 triliun. Sehingga perlu ada tambahan lagi. Anggaran itu akan digunakan, antara lain untuk mendukung program-program penyediaan infrastruktur dasar di berbagai bidang.

"Program tersebut meliputi program penyelenggaraan jalan sebesar Rp30,5 triliun, program pembinaan dan pengembangan infrastruktur pemukiman sebesar Rp12,4 triliun, program pengelolaan sumber daya air sebesar Rp16,3 triliun, program pengelolaan dan penyelenggaraan transportasi laut sebear Rp6,9 triliun dan program pengelolaan dan penyelenggaraan transportasi perkeretaapian sebesar Rp 8,8 triliun," jelasnya.

Ditempat terpisah, Presiden Bank Dunia Robert B Zoellick melalui siarannya mengklaim bisa membantu Republik Rakyat China untuk mencapai pertumbuhan berkelanjutan dan menghindari fenomena "middle income trap" atau pertumbuhan stagnan yang berpotensi terjadi pada masa depan. "Tantangan untuk menyesuaikan model pertumbuhan China akan lebih penting lagi mengingat iklim perekonomian saat ini yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan dan melemahnya tingkat kepercayaan," ujarnya

Namun, menurut Zoellick, China telah membuktikan mampu selama 30 tahun terakhir untuk mencapai kemajuan yang luar biasa dalam hal membawa kemakmuran bagi warganya sekaligus meningkatkan pertumbuhan baik di tingkat regional maupun global.

Presiden Bank Dunia juga menuturkan, potensi pertumbuhan ekonomi China tetap akan tinggi sehingga pihaknya meyakini dapat membantu China untuk mencapai tingkat pertumbuhan yang berkelanjutan sembari menghindari "middle income trap".

China dan Bank Dunia juga telah membuat kemajuan yang nyata dalam membuat laporan bersama mengenai bagaimana negara dengan tingkat perekonomian terbesar kedua di dunia itu dapat menapaki tingkat pertumbuhan yang berkelanjutan.

Isu yang terdapat dalam studi laporan itu antara lain bagaimana China dapat menyelesaikan transisinya secara lengkap menuju ekonomi pasar, bagaimana mempromosikan inovasi terbuka, serta bagaimana membuat kesempatan yang setara dan keamanan sosial bagi warganya.

Selain itu, isu lainnya bagaimana memperkuat sistem fiskal dan bagaimana China menjadi pemangku kepentingan yang bertanggung jawab dalam sistem internasional. Rencananya, Robert B Zoellick mengunjungi China pada 1 - 5 September 2011 untuk meningkatkan kemitraan China - Bank Dunia serta mendiskusikan tantangan jangka menengah negara itu menuju 2030.

Sejak perayaan kemitraan China - Bank Dunia selama 30 tahun yang dirayakan pada September 2010, kedua pihak itu juga telah bekerja sama dalam membuat studi tentang tantangan jangka menengah China menuju 2030. **cahyo

Related posts