Berat, Tekan Defisit Perdagangan - KUMULATIF DEFISIT JANUARI-OKTOBER US$1,64 MILIAR

Jakarta – Kalangan pengamat menilai tekanan defisit perdagangan hingga akhir 2014 masih menghantui perekonomian Indonesia. Selain penyebabnya berasal dari warisan pemerintahan lama, faktor kecenderungan harga minyak dunia menurun dan melemahnya permintaan produk ekspor RI dari negara mitra juga melambat belakangan ini akibat turbulensi ekonomi global.

NERACA

DirekturEksekutif Indonesia for Global Justice (IGJ)M. Riza Damanik mengatakan, pemerintah baru memang diwarisi defisit oleh pemerintah lama mulai dari defisit neraca perdagangan, defisit transaksi berjalan, bahkan defisit APBN jika pemerintah baru tidak bisa keluar dari zona itu maka akan menimbulkan defisit yang berkepanjangan. “Pemerintah baru harus mewaspadai defisit neraca perdagangan, maupun defisit yang lain,” ujarnya kepada Neraca, Senin (1/12).

Meski data BPS menyebutkan pada Oktober 2014 neraca perdagangan nasional surplus US$ 0,02 milliar, tapi patut dicatat secara akumulatif dari Januari hingga Oktober 2014 masih mengalami defisit sekitar US$ 1,64 milliar, maka perlu diwaspadai. “Makanya pemerintah harus bekerja ekstra, jangan sampai ke depan defisitnya malah kian lebar,” ujarnya.

Untuk itu langkah yang harus dilakukan pemerintah baru yaitu Presiden Jokowi adalah dengan mendorong agar perdagangan international agar produk Indonesia yang masuk ke luar negeri seperti di Eropa dan Amerika atau pun negara lain dipermudah dan diberikan insentif pajak yang murah. “Selama ini produk nasional sangat sulit tembus dipasar International, oleh karenanya pemerintah baru harus mampu agar produk kita mudah masuk ke negara luar dan bea masuknya lebih murah,” ujarnya.

Selain itu juga optimalisasi produk dalam negeri, dimana peran serta dari BUMN harus lebih optimal agar produktivitas produk dalam negeri lebih baik ketergantungan impor bisa ditekan tapi kemampuan untuk ekspor lebih ditingkatkan sehingga defisit neraca perdagangan bisa lebih ditekan. “Ada optimalisasi dan menjadikan nilai tambah dari produk nasional, jika tidak Indonesia hanya akan menjadi negara importir,” tuturnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data neraca perdagangan Oktober 2014 yang mengantungi surplus US$23,2 juta, dimana kinerja ekspor mencapai US$15,35 miliar dan impor sebesar US$15,33 miliar. “Pada Oktober 2014 neraca perdagangan mengantungi surplus sebesar US$23,2 juta, karena surplus dari non-migas lebih tinggi dari defisit migas,” kata Kepala BPS Suryamin kepada pers di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, neraca perdagangan non-migas pada Oktober 2014 mengalami surplus sebesar US$1,13 miliar, sedangkan neraca perdagangan migas mengalami defisit sebesar US$1,11 miliar. Sementara jika jika dilihat dari sisi volume perdagangan, pada Oktober 2014 juga mengalami surplus sebesar 30,66 juta ton, dimana surplus non-migas sebesar 31,18 juta ton dan defisit migas sebesar 520 ribu ton.

Suryamin menjelaskan bahwa kinerja ekspor untuk periode Oktober 2014 yang mencapai US$15,35 miliar mengalami kenaikan sebesar 0,49% dibandingkan dengan September 2014. “Ekspor mengalami kenaikan 0,49% dibandingkan September 2014, dan ekspor Oktober mencapai US$15,35 miliar. Namun jika dibandingkan dengan Oktober 2013, maka mengalami penurunan sebesar 2,21%,” ujarnya.

Suryamin mengatakan untuk ekspor non-migas pada Oktober 2014 mencapai US$12,88 miliar, atau mengalami kenaikan sebesar 1,8% jika dibandingkan dengan September namun mengalami penurunan sebesar 0,78% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2013. Sementara untuk ekspor migas mengalami penurunan 5,84%, dari US$2,6 miliar pada September menjadi US$2,46 miliar pada Oktober 2014.

Sementara pada September 2014 lalu, nilai ekspor Indonesia mencapai US$15,28 miliar yang mengalami peningkatan sebesar 3,87% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2013 lalu. Ekspor non-migas September 2014 mencapai US$12,65 miliar, yang naik 6,48% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, dan naik 2,94% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2013 lalu.

Secara kumululatif Januari-Oktober 2014, nilai ekspor Indonesia mencapai US$148,06 miliar atau mengalami penurunan jika dibandingkan dengan periode yang sama 2013. Hal tersebut juga dialami ekspor non-migas yang mencapai US$122,19 miliar atau turun 0,81%.

Jangka Pendek

Secara akumulatif, neraca perdagangan Januari-Oktober 2014 masih terjadi defisit US$1,64 miliar, dimana defisit migas tercatat sebesar US$10,73 miliar dan surplus non-migas sebesar US$9,08 miliar. Kinerja ekspor pada periode Januari-Oktober 2014 mencapai US$148,06 miliar, atau menurun 1,06% jika dibandingkan periode yang sama pada tahun 2013 lalu. Dan ekspor non-migas juga mengalami penurunan sebesar 0,81% atau nilai ekspor mencapai US$122,19 miliar.

Pengamat ekonomi Sunarsip menilai, neraca perdagangan 2014 akan tetap defisit. Sebabnya impor migas masih tinggi. Inilah yang menyebabkan surplus akan sulit terjadi. “Jangka pendek agak berat pemerintah dapat menekan defisit neraca perdagangan," ujarnya.

Sunarsip menjelaskan penyebab defisit sulit terhindarkan karena produksi minyak turun. Benar saja menurut dia, target lifting minyak bakalan terkoreksi. Pada APBN-P 2014 target lifting minyak mencapai 870 ribu barel per hari. Namun satuan kerja khusus migas akan merevisi menjadi 804 ribu barel per hari.

Oleh karena itu, menurut dia, ke depannya pemerintah sudah harus membangun kilang minyak baru untuk menggenjot target lifting. “Cuman pemerintah punya opsi jangka panjang dengan membangun kilang dan membenahi infrastruktur pada jalur migas,” katanya.

Selain itu, Suryamin mengakui perdagangan RI dengan negara-negara di kawasan ASEAN pada Oktober 2014 masih mengalami defisit US$ 58,6 juta. Secara kumulatif Januari-Oktober 2014, defisit neraca perdagangan dengan negara-negara di ASEAN mencapai US$1 miliar.

“Kita kalahnya dengan Thailand. Dengan lainnya, seperti dengan Malaysia, Vietnam, Laos, Kamboja, Myanmar, kita surplus baik Oktober maupun kumulatif Januari-Oktober,” ujarnya.

Sementara itu, neraca perdagangan dengan negara-negara Uni Eropa mengalami surplus baik pada Oktober 2014 sebesar US$387,7 juta, maupun kumulatif Januari-Oktober 2014 yang mencapai US$3,46 miliar. “Ini membuktikan UE sudah membaik. Mudah-mudahan berdampak positif pada ekspor kita. Tapi secara kumulatifnya dengan Jerman dan Prancis kita masih defisit,” kata Suryamin.

Adapun neraca perdagangan dengan mitra dagang utama seperti Tiongkok, Jepang, AS, India, Australia, Korea Selatan, serta Taiwan mencetak defisit US$231,2 juta pada Oktober 2014. Secara kumulatif Januari-Oktober 2014 juga mengalami defisit US$2,8 miliar. agus/mohar/bari

Related posts