Tunda Order, Penjualan Pan Brothers Turun 4,3%

Selasa, 02/12/2014

NERACA

Jakarta – Perusahaan tekstil, PT Pan Brothers Tbk (PBRX) mencatatkan penurunan penjualan di kuartal tiga sebesar 4,3% menjadi US$ 252,78 juta, dibandingkan perolehan priode yang sama tahun lalu sebesar US$ 264,14 juta.

Kata Wakil Direktur PT Pan Brothers Tbk, Anne Patricia Sutanto, penurunan penjualan 4,3% di sembilan bulan pertama tahun ini dikarenakan adanya penundaan pengiriman, “Penurunan dikarenakan ada beberapa shipment yang seharusnya di deliver September 2014, menjadi ke Oktober, November dan Desember 2014. Ada juga yang ke Januari dan Februari 2015. Sehingga masih berada di inventori dan bukan masuk sales,”ungkapnya di Jakarta, Senin (1/12).

Menurut Anne, hal itu bukan karena keterlambatan, tapi buyer meminta ditunda pengirimannya. Lantaran Shipment Instruction itu datang dari buyer,"Kami tidak bisa memaksakan pengiriman, hal ini kemungkinan buyer tertentu melakukan perubahan strategi marketing. Sehingga jadwal masuknya produk ke toko digeser dan berdampak juga pada pengiriman produsen,”tandasnya.

Dia menjelaskan, dengan terjadinya penurunan, maka laba bersih perseroan mengalami penurunan. Penurunan laba dikarenakan tertundanya pengiriman barang dan ada selisih kurs antara rupiah dan dolar Amerika Serikat,”Dari rugi selisih kurs, karena konversi rupiah ke dollar AS. Ini merupakan unrealized loss, karena berubah seiring pergerakan kurs dan selisih ini bukan riil, karena pencatatan saja. Ini terkait dana hasil PUT 3," tuturnya.

Menurut dia, dari sisi ekspor maupun impor selisih kurs hampir tidak memberikan dampak, karena terjadi natural hedging, impor maupun ekspor menggunakan dollar AS. Selain itu, kata Anne, perseroan juga berencana membangun dua pabrik baru di Jawa Tengah dengan investasi dana sebesar US$ 8 juta-US$ 10 juta.

Bangun Pabrik

Dia menjelaskan, langkah ini merupakan bagian pipeline perseroan dalam membangun tujuh pabrik baru hingga tahun 2016 mendatang,”Untuk dua pabrik efektif operasional di kuartal pertama tahun depan,”tegasnya.

Pada tahun ini, perseroan sudah membangun empat pabrik baru di wilayah Boyolali, dua diantaranya sudah rampung dan dapat beroperasi pada akhir tahun ini. Sedangkan dua lainnya selesai pembangunan fisik di bulan November 2014.

Dia menjelaskan, mengenai pembangunan pabrik, perseroan masih membidik lahan baru untuk nantinya dapat dijadikan alas pembangunan pabrik. Adapun, lahan yang dibutuhkan untuk pembangunan satu pabrik, biasanya sekitar 5-7 hektar (ha).

Kemudian karena perseroan merupakan sektor yang menyerap banyak tenaga kerja, maka wilayah Jawa Tengah dianggap sebagai pilihan yang tepat untuk mengembangkan bisnis inti perseroan kedepannya,”Dengan beroperasinya pabrik baru di wilayah Boyolali, dapat menambah kapasitas produksi perseroan sebanyak 27 juta potong pakaian," tukasnya.

Selanjutnya, untuk penjualan tahun 2015 ditargetkan tumbuh sebesar 20-25%,”Kami targetkan penjualan sebesar 20-25% di tahun depan. Sehingga kami harapkan nilai penjualan sebesar US$ 508,8 juta-US$ 530 juta,”ungkapnya.

Kata Anne, pertumbuhan penjualan di 2015 sama dengan raihan yang ada di tahun ini. Dimana raihan penjualan sebesar 20-25% bisa membukukan penjualan sekitar US$ 407,66 juta-US$ 424,65 juta,”Kapasitas produksi bertambah di awal tahun. Kami harapkan kenaikan penjualan bisa diraih hingga akhir tahun ini," katanya.

Sekedar informasi, hingga akhir tahun, kapasitas produksi perseroan mencapai 42 juta potong pakaian per tahun dan para kuartal tiga tahun ini, perseroan mengalami penurunan laba bersih menjadi US$ 5,31 juta, dari raihan periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar US$ 8,46 juta. (bani)