Sampoerna Rampungkan Pabrik di Karawang

Produksi Sigaret Kretek Mesin

Selasa, 02/12/2014

NERACA

Jakarta –Setelah menutup pabrik sigaret kretek tangan (SKT) yang berada di Jember dan Lumajang dengan pemutusan hubungan kerja (PHK) sebanyak 4.900 pekerja, ekspansi bisnis perseroan terus berlanjut. Bahkan PT HM Sampoerna Tbk mengklaim telah membangun pabrik di Karawang, Jawa Barat sebagai pengembangan investasi,”Kami baru saja merampungkan pabrik baru di Karawang, baru lima bulan lalu," ujar Presiden Direktur HM Sampoerna, Paul Janelle di Jakarta, Senin (1/12).

Dia menjelaskan bahwa pabrik rokok di Karawang merupakan bentuk investasi baru yang akan fokus untuk meningkatkan ekspor dan domestik dari pabrik di Indonesia. Pabrik di Karawang hanya fokus pada Sigaret Kretek Mesin, tidak pada olahan tangan."Mesin saja. Ada kretek Sampoerna Mild dan Marlboro juga. Ada rokok putih, ada untuk jual di Indonesia dan ekspor," katanya.

Di sisi lain Head of Ragulatory Affairs, Internasional Trade and Communications HM Sampoerna Elvira Lianita menambahkan bahwa pihaknya telah memilik lima pabrik SKT di Surabaya, Malang, Probolinggo, Pandaan dan Karawang.

Namun, ketika dikonfirmasi tentang nilai investasi untuk pabrik di Karawang. Pihak Sampoerna tidak mau menjelaskan detail tentang nilai investasinya,”Saya engak bisa beberkan angkanya, itu kebijakan perusahaan. Yang pasti kami punya kapasitas yang sangat besar. Karena Indonesia adalah salah satu pasar rokok terbesar di dunia," paparnya.

Sebagai informasi, Corporate Secretary HM Sampoerna Maharani Djody Putri pernah bilang, rencana restrukturisasi operasional pabrik SKT tersebut tidak memiliki dampak material bagi kinerja keuangan dan operasional perseroan, “Imbas penutupan dua pabrik dan PHK masal tidak akan berdampak bagi bisnis perseroan,”ujarnya.

Dirinya menuturkan, pihaknya terus berkomitmen untuk mempertahankan kempimpinannya di industri sigaret Indonesia dengan memproduksi dan memberikan produk dengan kualitas terbaik. Tidak hanya itu, perseroan mempertegas akan terus memperkuat posisi sebagai pengekspor rokok Asia Pasifik di beberapa tahun yang akan datang.

Disamping itu, lanjutnya, perseroan akan tetap menjalankan operasional bisnisnya walaupun hanya dengan 33.500 karyawan yang bekerja di lima pabrik SKT, tiga pabrik sigaret mesin dan 105 kantor area penjualan di seluruh Indonesia.

Sebelumnya, produsen rokok yang terkenal dengan produk kreteknya ini telah memutuskan untuk menghentikan kegiatan produksi pabrik SKT yang berlokasi di Jember dan Lumajang per tanggal 31 Mei 2014. Penutupan pabrik ini dilakukan karena adanya penurunan pangsa pasar di produk SKT,”Kami mengambil keputusan yang sangat sulit ini karena adanya penurunan pangsa pasar segmen SKT secara terus menerus hingga 23,1% di tahun 2013 dari 30,4 di tahun 2009," ujar Maharani.

Penurunan tersebut, lanjutnya, terjadi karena perubahan preferensi perokok dewasa dari SKT ke sigaret kretek mesin dengan filter. Penurunan yang terjadi di tahun 2013 merupakan penurunan yang sangat besar dan tidak pernah terjadi. (bani)