Indonesia Masih Jadi Negara Tujuan Investasi

Selasa, 02/12/2014

NERACA

Jakarta - Menteri Perindustrian Saleh Husainmenilai sampai dengan saat ini Indonesia masih menarik bagi investor asing yang mau menanamkan investasinya dibandingkan negara ASEAN lain seperti Thailand dan Malaysia. “Indonesia masih punya daya tarik tersendiri bagi Investor Asing,” katanya kepada wartawan sesaat setelah membuka acara Business Matching Indonesia-Jepang, di Kantor Kemenperin, Jakarta, Senin (1/12).

Rasa menariknya itu, karena saat ini Indonesia membuka diri terhadap negara lain yang ingin menanamkan investasinya disini. Disamping itu, kondisi politik yang kondusif juga menjadi pertimbangan dan memunculkan rasa kepercayaan tinggi investor terhadap Indonesia. “Investor ingin kenyamanan dalam berinvestasi, dan mereka mendapatkan di Indonesia makanya mereka lebih memilih Indonesia dalam berinvestasi dibandingkan negara lain,” ujarnya.

Namun demikian disinggung mengenai tingginya biaya produksi di Indonesia, seperti upah buruh, kenaikan BBM, dan kebijakan lain menurutnya investor yang masuk ke Indonesia pasti sudah memperhitungkan plus minusnya. Meski demikian, yang jelas pastinya kami dari pemerintah (Kemenperin) memberikan jaminan kepada investor, tentu kita berbicaa dalam bentuk upah tenaga kerja, bagaimana permasalahan ini tidak terlalu berdampak kepada investasi di Indonesia.

“Kami sudah menjamin arah kebijakan kami (Kemenperin) ke depan menyeimbangkan antara keinginan investor dan para pekerja. Dengan begitu negara yang belum masuk berinvestasi bisa masuk, dan yang sudah bisa memperbesar investasinya,” terangnya.

Pada kesempatan sebelumnya, mantan Kepala Badan Koordinasi Penananam Modal (BKPM), Mahendra Siregar, mengatakan stabilitas ekonomi dan politik Indonesia masih menjadi daya tarik asing dalam menanmkan investasinya di Indonesia.

Menurutnya, Indonesia masih menjadi radar investasi asing saat ini, sebab berdasarkan survei yang dirilis Japan Bank for International Cooperation (JBIC), tahun ini Indonesia masuk pada peringkat pertama negara yang diminati untuk berinvestasi. Peringkat tersebut lebih tinggi dari Thailand dan beberapa negara Asean lainnya.

"Terlepas dari apa yang terjadi di Thailand dan Filipina saya rasa investasi ke Indonesia menjadi salah satu yang terpenting buat para investor saat ini, bahkan JBIC memberikan peringkat pertama Indonesia dan ada di atas dua negara yang sedang bermasalah tersebut," jelasnya.

Dengan semakin besarnya investasi yang masuk ke Indonesia tahun depan, pemerintah tidak terlalu berharap ada relokasi industri Thailand dan Filipina. "Memang di ASEAN ada dua negara yang bermasalah dan kita tidak hidup dari masalah itu. Jadi tanpa itu kita bisa tarik investasi lebih banyak," tegasnya.

Sedangkan,realisasi investasiPenanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA)kuartal III/2014 sebesar Rp119,9 triliun. Nilai ini kembali memecahkan rekor tertinggi. Pasalnya, nilai ini mengalami peningkatan sebesar 19,3% dibandingkan periode sama 2013.

"Realisasi PMDN mencapai Rp41,6 triliun. Angka itu meningkat 24,2% dibandingkan periode sama tahun lalu. Sedangkan PMA mencapai Rp78,3 triliun atau mengalami pertumbuhan 16,9%," ujarnya.

Mahendra menjelaskan, kinerja investasi di triwulan ketiga tahun ini tetap berlangsung baik dan meningkat di tengah-tengah proses pilpres dan transisi pemerintahan. Sementara, terkait prospek tahun depan, Mahendra juga mengungkapkan, kinerja investasi selama sembilan bulan pertama tahun ini yang tumbuh 16,8% memberikan optimisme.

Dia mengungkapkan, dengan kepercayaan ekonomi dalam negeri tahun 2014 realisasi investasi diperkirakan tetap tumbuh 15% dari tahun ini, bahkan mungkin bisa melebihi target sebesar Rp 506 triliun. Realisasi tersebut akan didorong oleh peningkatan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang lebih besar dari tahun ini.

Sementara itu, menurut Josua Pardede, Ekonom PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BNII), mengatakan ada peluang relokasi industri dari Thailand dan Filipina ke Indonesia, tetapi diperkirakan tidak terlalu besar. Namun, dilihat dari potensi dan faktor fundamental dalam jangka panjang Indonesia memiliki prospek yang baik.

Prospek tersebut bisa dilihat dari pasar domestik yang cukup besar atau 40% dari total populasi ASEAN, bonus demografi dan sumber daya alam yang melimpah. Prospek tersebut bisa berjalan baik dengan dukungan infrastruktur, efisiensi birokrasi dan korupsi yang terus dibenahi. "Indonesia punya prospek yang baik, tapi dalam jangka waktu pendek pebisnis sebenarnya juga masih melihat masalah yang harus dibenahi seperti potensi kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) dan kenaikan Tarif Tenaga Listrik," tegasnya. [agus]