Mempersiapkan Generasi Masa Depan

Oleh: Prof. DR. Imam Suprayogo, Dosen UIN Malang

Selasa, 02/12/2014

Ketika seseorang masuk menjadi mahasiswa di perguruan tinggi, masing-masing sudah memilih bidang ilmu yang dipelajari, misalnya bidang ekonomi, pendidikan, politik, agama, fisika, kimia, teklnik, kedokteranj dan lain-lain. Banyak orang mengira bahwa setelah lulus, pekerjaan yang diperoleh sesuai dengan bidang ilmu yang dipelajari itu. Namun anggapan itu ternyata tidak selalu benar. Orang bisa saja mendapatkan jenis pekerjaan yang sebenarnya jauh dari ilmu yang dipelajari sebelumnya.

Pada tanggal 12 Nopember 2014, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Malang menyelenggarakan pertemuan alumninya. Dari sekian banyak yang datang, profesi yang dikembangkan oleh mereka ternyata beraneka ragam. Memang banyak di antara mereka yang menjadi guru agama, tetapi tidak sedikit pula yang bekerja sebagai wirausaha, birokrat, tentara, politikus, dan menjadi kepala daerah.

Sudah barang tentu, mereka yang menjadi guru agama, terasa bahwa ilmu yang dipelajari sebelumnya relevan dengan tugas sehari-hari yang dikerjakan sekarang. Tetapi bagi mereka yang mengembangkan profesi di luar guru agama, ilmu yang dipelajari sebelumnya seolah-olah tidak ada relevansinya dengan pekerjaannya. Namun anehnya, mereka juga sukses. Para alumni Fakultas Tarbiyah banyak yang sukses dalam menjalani kegiatan wirausaha, politik, dan bahkan juga ketika mereka menjadi kepala daerah.

Di antara alumni Fakultas Tarbiyah yang sukses menjadi kepala daerah itu, misalnya adalah Suyoto, sekarang ini menjadi bupati Bojonegoro. Disebut sukses, setidaknya, dilihat dari jabatannya, bahwa sekarang ini ia sudah pada periode kedua. Dalam masa demokrasi seperti sekarang ini, seseorang tidak akan mungkin bertahan hingga dua periode bilamana tidak dianggap cakap oleh rakyatnya sendiri. Tentu banyak sekali cerita sukses yang bisa dikemukakan selama ia memimpin kabupaten tempat kelahirannya sendiri itu.

Cerita sukses itu tidak saja terdengar di Jawa Timur, tetapi hingga di mana-mana. Anehnya, sekalipun pada waktu kuliah di IAIN Malang, Fakultas Tarbiyah, ia memilih jurusan Bahasa Arab, tetapi ternyata mampu merumuskan konsep dan mengimplementasikan pembangunan daerahnya secara jelas dan akhirnya diakui berhasil memajukan daerahnya. Sebagai bukti pengakuan itu, ia seringkali diundang ke berbagai negara maju, seperti ke Amerika Serikat, Eropa, Rusia, dan lain-lain, untuk mempresentasikan apa yang telah dilakukan sebagai kepala daerah di dalam membangun masyarakat.

Demikian pula beberapa alumni lainnya, yang juga sukses di dalam mengembangkan profesi di luar bidang keilmuannya, seperti pertanian, peternakan, perdagangan, politik, dan lain-lain. Pada suatu saat, saya pernah dikagetkan oleh kedatangan seorang alumni fakultas tarbiyah yang sukses mengembangkan ternak sapi. Ia mengaku memiliki ribuan ekor sapi dan berhasil mempekerjakan puluhan karyawan. Padahal, belum tentu sarjana peternakan sendiri mampu melakukan jenis pekerjaan itu.

Melihat kenyataan tersebut, maka sebenarnya, untuk bidang-bidang tertentu, selain kedokteran misalnya, dalam mengambil kebijakan tidak seharusnya terlalu berpegang pada latar belakang pendidikan seseorang. Masing-masing orang sebenarnya memiliki potensi untuk mengembangkan berbagai bidang ilmu dan ketrampilan. Sebagai buktinya, seorang sarjana tarbiyah ternyata mampu mengembangkan bidang-bidang di luar ilmu yang selama itu dipelajari. Kemampuan seperti itu ternyata juga dialami oleh jenis sarjana lainnya. Dahulu dikenal secara luas bahwa banyak sarjana pertanian mampu mengembangkan profesi perbankan, beraneka ragam jenis bisnis, dan lain-lain.

Contoh tersebut di atas sebenarnya bisa dijadikan alasan untuk mengatakan bahwa bidang ilmu itu tidak pernah ada yang jenuh. Selain itu bahwa tatkala sarjana bidang tertentu mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan, maka diketahui bahwa sebenarnya bukan semata-mata karena jenis ilmunya, melainkan karena kualitas kesarjanaan yang bersangkutan. Sebab terbukti bahwa, banyak sekali sarjana yang sukses berkarya di luar bidang keilmuannya. Hanya saja perlu diketahui bahwa rupanya sukses itu lebih ditentukan oleh semangat, integritas, kemampuan berkomunikasi, termasuk penguasaan bahasa pergaulan bahasa asing misalnya, yang memadai. Bekal kemampuan inilah sebenarnya yang harus diberikan tatkala mempersiapkan generasi masa depan.

Keberhasilan seseorang ternyata tidak selalu tergantung pada jenis disiplin ilmunya, tetapi yang lebih penting adalah pada kualitas kecerdasannya dan kemudian ditunjang dengan beberapa kemampuan sebagaimana disebutkan di muka. Orang yang memiliki kualitas intelektual atau kecerdasan yang tinggi tidak akan sulit mendapatkan pekerjaan. Oleh karena itu, terhadap adanya pandangan, bahwa agar seseorang dalam menempuh jenjang pendidikan harus linier, maka tidak selalu tepat. Sebab ternyata, mereka yang jenjang pendidikannya tidak linier atau bahkan tidak relevan antara latar belakang pendidikan dan jenis profesi yang dikembangkan pun juga banyak yang sukses. Setidaknya, lewat pertemuan alumni tersebut di muka telah membuktikan hal itu. Wallahu a’lam. (uin-malang.ac.id)