Harga Minyak Dunia Capai Titik Terendah

NERACA

Singapura - Harga minyak jatuh ke posisi terendah baru multi-tahun di Asia pada Senin, memperpanjang aksi jual tajam pekan lalu dalam menanggapi keputusan OPEC untuk mempertahankan produksinya meskipun pasokan berlimpah dan harga merosot. Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari, merosot US$1,65 di perdagangan sore Asia menjadi US$64,50, tingkat intra hari terendah sejak Juli 2009.

Minyak mentah Brent untuk pengiriman Januari turun US$1,76 menjadi US$68,39, tinggal di bawah tingkat psikologis penting US$70. Brent telah menyentuh US$67,90 pada Senin pagi, terendah sejak Februari 2010. “Aksi negatif di pasar minyak berlanjut hari ini. Para investor melihat minyak mentah masih rentan setelah pengumuman OPEC pekan lalu,” Michael McCarthy, kepala penyiasat pasar di CMC Markets di Sydney, kepada AFP.

Michael menyatakan bahwa pihaknya belum melihat ada berita atau perkembangan yang bisa memicu sebuah fase 'bottoming-out' (keluar dari posisi terbawah) harga minyak. Penurunan harga berlanjut setelah 12 negara Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada Kamis memilih untuk mempertahankan pagu produksi kolektifnya pada 30 juta barel per hari, yang telah berdiri selama tiga tahun.

OPEC mengabaikan desakan untuk pemangkasan yang telah berkembang karena kelebihan pasokan dan permintaan yang lemah sudah menghapuskan lebih dari sepertiga harga minyak sejak Juni. Analis memperingatkan penurunan lebih lanjut akan terjadi. “Keputusan OPEC membiarkan penyeimbangan kembali permintaan dan penawaran kepada pasar,” kata kelompok perbankan ANZ mengatakan dalam sebuah komentar.

Data Tiongkok tidak membantu Berita OPEC mempertahankan kuota produksinya menyeret WTI turun US$7,54 di New York pada Jumat (28/11), dibandingkan dengan harga penyelesaian pada Rabu, menjadi berakhir pada US$66,15 per barel. Lantai bursa AS ditutup pada Kamis untuk hari libur Thanksgiving. Brent menetap di US$70,15 pada hari Jumat, turun US$2,43 dari penutupan Kamis.

OPEC telah datang di bawah tekanan dari para anggota yang lebih miskin, termasuk Venezuela dan Ekuador, untuk memangkas produksi karena kemerosotan harga mengurangi pendapatan pemerintah dan menimbulkan kekhawatiran atas perekonomian mereka.

Tetapi anggota kartel dari Teluk yang kuat, dipimpin penghasil minyak utama Arab Saudi, menolak seruan tersebut kecuali pangsa pasar mereka dijamin terutama di Amerika Serikat, di mana kenaikan produksi minyak serpih telah memberikan kontribusi terhadap melimpahnya pasokan global. McCarthy mengatakan data manufaktur Tiongkok yang lemah pada Senin pagi. “tidak melakukan apa-apa untuk membantu harga minyak,” ucapnya.

Indeks pembelian manajer resmi untuk sektor manufaktur di ekonomi terbesar kedua dunia itu tergelincir ke tingkat terendah delapan bulan 50,3 pada November, dari 50,8 pada Oktober. Ini adalah angka terlemah sejak angka 50,3 serupa pada Maret. Angka di atas 50 menunjukkan pertumbuhan, sementara berapa pun di bawah 50 menunjukkan kontraksi.

Pemerintah Untung

Ketua Komisi VII DPR Kardaya Warnika mengatakan, anjloknya harga minyak dunia itu menjadi berkah bagi Indonesia yang merupakan net importer minyak. Imbasnya, beban subsidi pun bakal berkurang. “Bahkan, pemerintah bisa untung jual premium,” ujarnya.

Kardaya memperkirakan, untuk harga minyak di bawah US$70 per barel, harga keekonomian BBM dengan angka oktan atau RON 88 jenis premium ada di kisaran Rp 7.000–Rp 7.500 per liter, lebih rendah jika dibandingkan dengan harga premium saat ini yang sebesar Rp 8.500 per liter. “Mestinya ini jadi perhatian pemerintah,” kata dia.

Meski demikian, mantan kepala BP Migas tersebut mengakui bahwa perhitungan harga keekonomian premium bisa memunculkan angka yang berbeda-beda. Sebab, lanjut dia, saat ini BBM dengan angka oktan 88 jarang sekali digunakan di dunia internasional. “Hanya Indonesia yang masih pakai BBM kualitas rendah ini,” ucapnya.

Related posts