Minim Anggaran, Target Wisman Tidak Realistis

NERACA

Jakarta – Ambisi pemerintah mematok target jumlah wisata mancanengara dinilai tidak realistis dengan kesiapan sektor infrastruktur, minimnya anggaran promosi dan keterbatasan sarana prasarana. Tengok saja, target wisman tahun ini sebesar 9,5 juta baru tercapai 7,7 juta orang sepanjang Januari-Oktober 2014 atau tumbuh 8,71%, dibandingkan periode yang sama 7,1 juta wisman. Pada Oktober 2014 sebanyak 808.767 wisman, diklaim angka ini naik 12,34% pada periode yang sama tahun lalu sebanyak 719.903 wisman.

Untuk tahun 2015, pemerintah melalui Kementerian Pariwisata masih mematok target lebih besar lagi sebesar 20 juta wisman. Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah untuk merealisasikan target tersebut ditengah isu masih berlanjutnya perlambatan ekonomi dunia, “Ini menjadi tantangan bagi pemerintah untuk mewujudkannya, ditengah minimnya anggaran promosi,”kata Menteri Pariwisata, Arief Yahya di Jakarta, Senin (1/12).

Untuk itu, upaya menggenjot tingkat kunjungan wisman ke Indonesia, menurut dia, pemerintah kembali meningkatkan peran Country Managers Visit Indonesia Tourism Officer (VITO) yang berjumlah 14 dan tersebar di 13 negara yakni, Singapura, Malaysia, Australia, China, Jepang, Korea, India, Timur Tengah, Inggris, Belanda, Prancis, Jerman dan Rusia. Bahkan rencananya, pemerintah tahun depan juga bakal menambah jumlah VITO jadi 15 untuk di Australia.

Menurut Arief, peranan 14 VITO dalam meningkatkan kunjungan wisman di tahun mendatang diharapkan semakin besar seiring dengan target kunjungan wisman yang besar pada tahun depan. Namun dirinya juga skeptis dengan minimnya anggaran promosi hanya sebesar Rp 20 miliar pertahun mampu menggenjot jumlah kunjungan wisman. Padahal di negara seperti Malaysia, anggaran promosi saja sebesar Rp 10 triliun.

Oleh karena itu, dirinya mengaku berat bicara soal target jumlah wisman dengan dukungan anggaran promosi yang minim. Karena itu, kata Arief, VITO harus membaca skala prioritas kebutuhan wisman yang akan berkunjung ke Indonesia dan termasuk soal promosi dengan memahami betul ketika masuk ke suatu negara,”Hasil pertemuan dengan perwakilan Country Managers Visit Indonesia Tourism Officer, mereka memberikan masukan, rekomendasi dan faktor yang disukai wisman ke Indonesia, seperti sektor budaya, alam, belanja, kuliner dan destinasi lain, “ungkapnya.

Selain itu, diakui Arief, bicara industri pariwitsata dalam negeri masih ada gap yang besar antara realisasi dan potensi. Dimana saat ini, promosi pariwisata masih lemah, serta ditambah aksesibilitas yang terbatas dan destinasi yang belum digarap. Apalagi, saat ini promosi pariwisata di luar negeri di kedutaan besar masih di bawah kordinasi atase kebudayaan.

Dia mencotohkan, negara Thailand yang memiliki konektifitas dengan penerbangan Rusia di 50 kota di Thailand, sehingga memacu peningkatan kunjungan wisman Rusia ke Thailand. Lalu untuk Indonesia bisa meniru kebijakan tersebut. Namun bila terbentur dengan kebijakan resiplokal, lanjutnya bisa share kerjasama dengan penerbangan asing.

Ke depan, kata Arief, disamping kebijakan baru bebas visa bagi wisman dari Australia, Jepang, China, Korea dan Rusia yang berlaku pada 2015 mendatang. Rencananya, dirinya bakal menerapkan aplikasi digital untuk officer promosi di luar negeri,”Kita masih matangkan rencana digital untuk officer, karena ini investasinya tidak besar,”jelasnya.

Menpar juga berharap agar VITO proaktif mensosialisasikan dan mempromosikan kebijakan baru sesuai dengan perannya sebagai brand ambassador pariwisata Indonesia dengan melakukan komunikasi, interaksi dan menciptakan kerjasama strategis bersama pelaku penting di pasar sasaran dalam upaya meningkatkan kunjungan wisman.

Asal tahu saja, pemerintah juga menggandeng kerjasama dengan lembaga PBB, UNESCO untuk pengembangan industri pariwisata dan termasuk kunjungan wisman di dalam negeri. Dimana kerjasama ini akan membantuk dalam konsep pembuatan kebijakan dan keseimbangan dengan tiga lokasi yang diobservasi di Yogyakarta, Lombok dan Wakatobi. Disamping itu, lembaga ini juga akan melakukan sertifikasi untuk wilayah pariwisata yang dinilai memiliki keberlanjutan dengan alam sekitar. bani

BERITA TERKAIT

AKIBAT PERANG DAGANG DAN FAKTOR POLITIK - Asumsi Makro 2019 Diprediksi Meleset dari Target

Jakarta-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memprediksi asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2019 tidak sesuai target. Penyebabnya faktor…

Kasus SAT Tidak Bisa Dikaitkan dengan SN

Kasus SAT Tidak Bisa Dikaitkan dengan SN NERACA Jakarta - Kasus Syafruddin Arsyad Temenggung (SAT) sangat berlainan dan tidak bisa…

KPK Tidak Konsisten dengan Temuan Hasil Audit BPK

Oleh: Maqdir Ismail, Advokat di Jakarta Dalam simpulan “Laporan Hasil Pemeriksaan Investigatif Dalam Rangka Penghitungan Kerugian Negara Atas Dugaan Tindak…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Kejar Ekspor, Benahi Kebijakan Perdagangan Secara Struktural

NERACA Jakarta - Indonesia for Global Justice (IGJ) menilai tidak cukup hanya dengan mengejar nilai ekspor dengan memperbanyak perjanjian Free…

PERANG DAGANG AMERIKA SERIKAT-CHINA - AMRO Nilai Kawasan ASEAN Berisiko Perlambatan

Jakarta-Lembaga riset ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) menilai kawasan ASEAN saat ini tengah menghadapi risiko perang dagang antara Amerika Serikat…

KEBUTUHAN INVESTASI 2020 RP 5.803 TRILIUN-RP 5.823 TRILIUN - Pemerintah Waspadai Ancaman Defisit Perdagangan

Jakarta-Kementerian Keuangan menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,3%-5,6% dalam asumsi ekonomi makro di 2020 dengan kebutuhan investasi sebesar Rp5.803 triliun hingga Rp5.823…