Meski Naik, Kuota BBM Bersubsidi Diprediksi Jebol

Selasa, 02/12/2014

NERACA

Jakarta – Meskipun pemerintah telah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi sebesar Rp2.000 per liter, namun hal itu tidak akan membuat kuota BBM akan cukup. Hal itu seperti dikatakan oleh Kepala Badan Pengatur Kegiatan Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Andy Noorsaman Sommeng di Jakarta, Senin (1/12).

Andy memperkirakan dengan kenaikan BBM, kuota yang telah dipatok sebesar 46 juta kilo liter akan terlampaui sebesar 1 juta kilo liter (kl). Ia menuturkan, akan ada tren pengalihan penggunaan ke BBM nonsubsidi. Dari tren pengalihan ini, diperkirakan akan ada penurunan konsumsi BBM bersubsidi. “Ada sekitar 4%-6% yang pindah ke Pertamax. Itu kan pasti ada kepotong. Jadi kalau hitungan kasa ya bisa saja 1 juta kl,” ujarnya.

Ia melanjutkan, pemerintah hanya mematok kuota BBM bersubsidi sebesar 46 juta kl. Dari jumlah ini pihaknya optimistis kecenderungan adanya over kuota bisa diminimalisir dengan tren pengalihan penggunaan ke BBM nonsubsidi. “Maunya jangan sampai 1 juta kl. Cuma yang agak ngeri konsumsi solar,” ujarnya.

Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir mengatakan saat ini ketahanan stok BBM yang dikelola oleh Pertamina mencapai sekitar 18 hari untuk Premium dan sekitar 19 hari untuk Solar. Pertamina, tuturnya, telah mempersiapkan ketersediaan BBM yang cukup untuk mengakomodasi kemungkinan lonjakan konsumsi setelah pengumuman resmi kebijakan penyesuaian harga BBM bersubsidi oleh pemerintah.

Berdasarkan pantuan penyaluran harian dalam sebulan terakhir, terjadi peningkatan konsumsi harian BBM bersubsidi yaitu Premium dari semula 81.500 KL per hari menjadi sekitar 87.000 KL per hari atau naik sekitar 7%, serta Solar dari 44.500 KL per hari menjadi sekitar 47.000 KL per hari atau naik sekitar 6%. Tren kenaikan tersebut juga pernah terjadi pada saat menjelang pengumuman kebijakan penyesuaian harga BBM bersubsidi pada tahun 2013.

Sementara itu, Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (Persero) Hanung Budya mengatakan jika harga BBM naik pertengahan November, maka defisit kuota BBM hanya 1,6 juta kiloliter. Sedangkan jika harga BBM tak dinaikkan defisit kuota BBM akan mencapai 1,9 juta kiloliter. “Jika harga BBM naik pertengahan November, maka defisit hanya 1,6 juta kiloliter. Jadi ada pengurangan sekitar 250 ribu kiloliter,” ujarnya

Hanung mengatakan pengurangan defisit kuota itu terjadi karena konsumen cenderung lebih berhemat jika harga BBM naik, dan beralih ke BBM non subsidi. “Jika BBM lebih mahal, pola konsumsi berubah,” katanya. Dari segi stok, Pertamina menjamin keamanan pasokan BBM. Stok premium sudah terjamin selama 16 hari. Sedangkan untuk solar stok BBM masih aman hingga 19 hari. Dia meminta masyarakat tidak berspekulasi tentang harga BBM. “Setiap hari ada tambahan di tangki-tangki kami, baik yang dihasilkan di kilang maupun impor,” kata Hanung.

Hingga akhir tahun, Pertamina akan menyalurkan 45,35 juta kiloliter BBM untuk semua jenis BBM. Menjelang kenaikan harga BBM, Hanung mengatakan penjualan tercatat mengalami peningkatan. Pada hari normal, penjualan premium hanya 81 ribu kiloliter per hari. Namun pada Selasa (4/11) penjualan premium mencapai 96 ribu kiloliter. “Saya pikir karena isu kenaikan harga, selama dua pekan terakhir,” pungkasnya.

Konsumsi Pertamax

Usai kenaikan harga BBM bersubsidi yang selisih dengan BBM non subsidi makin kecil, konsumsi pertamax mengalami kenaikan signifikan sebesar 36%. “Dalam beberapa hari terakhir ini penjualan Pertamax dan jenis BBM non subsidi lainnya meningkat cukup signifikan. Per hari kemarin data penjualan Pertamax dan Pertamax Plus naik dari biasanya 25.000 kilo liter menjadi naik 34.000 kilo liter/hari," ujar Vice President Fuel Marketing and Distribution PT Pertamina (Persero) Suhartoko.

Suhartoko mengatakan meningkatnya konsumsi BBM non subsidi sekitar 36% tersebut salah satunya karena disparitas harga yang makin kecil antara BBM subsidi dan BBM non subsidi. Masyarakat berasumsi, lebih baik membeli BBM dengan RON tinggi seperti Pertamax (RON 92) daripada membeli BBM RON 88, dengan selisih harga yang tak berbeda jauh.

“Karena disparitasnya kecil, Premium Rp 8.500 per liter sedangkan Pertamax hanya Rp 9.950 per liter, dengan selisih harga yang tidak terlalu jauh ini masyarakat lebih pilih Pertamax 92 atau 95, karena walau lebih mahal sedikit tapi mendapatkan BBM yang kualitasnya jauh lebih baik,” ungkapnya. Ia menambahkan kenaikan permintaan Pertamax mulai terasa sejak Rabu (19/11) atau 1 hari setelah kenaikan harga BBM subsidi. Misalnya pada Rabu, konsumsi meningkat dari 25.000 KL/hari menjadi 33.000 KL/hari, kemudian naik lagi hingga 34.000 KL/hari pada Kamis hingga Sabtu kemarin.