Neraca Perdagangan Oktober Catat Surplus US$23,2 juta

Selasa, 02/12/2014

NERACA

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa neraca perdagangan Oktober 2014 mengantongi surplus sebesar US$23,2 juta, dimana kinerja ekspor mencapai US$15,35 miliar dan impor sebesar US$15,33 miliar. “Pada Oktober 2014 neraca perdagangan mengantongi surplus sebesar US$23,2 juta, karena surplus dari non-migas lebih tinggi dari defisit migas,” kata Kepala BPS, Suryamin, pada jumpa pers di Jakarta, Senin (1/12).

Suryamin mengatakan, neraca perdagangan non-migas pada Oktober 2014 mengalami surplus sebesar US$1,13 miliar, sedangkan neraca perdagangan migas mengalami defisit sebesar US$1,11 miliar. Sementara jika jika dilihat dari sisi volume perdagangan, pada Oktober 2014 juga mengalami surplus sebesar 30,66 juta ton, dimana surplus non-migas sebesar 31,18 juta ton dan defisit migas sebesar 520 ribu ton.

Suryamin menjelaskan bahwa kinerja ekspor untuk periode Oktober 2014 yang mencapai US$15,35 miliar mengalami kenaikan sebesar 0,49% dibandingkan dengan September 2014. “Ekspor mengalami kenaikan 0,49% dibandingkan September 2014, dan ekspor Oktober mencapai US$15,35 miliar. Namun jika dibandingkan dengan Oktober 2013, maka mengalami penurunan sebesar 2,21%,” kata Suryamin.

Suryamin mengatakan untuk ekspor non-migas pada Oktober 2014 mencapai US$12,88 miliar, atau mengalami kenaikan sebesar 1,80% jika dibandingkan dengan September namun mengalami penurunan sebesar 0,78% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2013. Sementara untuk ekspor migas mengalami penurunan 5,84%, dari US$2,6 miliar pada September menjadi US$2,46 miliar pada Oktober 2014.

Penurunan ekspor migas tersebut disebabkan oleh menurunnya ekspor minyak mentah sebesar 32,83% menjadi US$708,7 juta, sedangkan ekspor hasil minyak mengalami peningkatan sebesar 29,16% menjadi US$397 juta, dan ekspor gas mengalami peningkatan sebesar 8,22% menjadi US$1,36 miliar. Peningkatan ekspor non-migas Oktober 2014 paling besar terjadi pada lemak minyak hewan/nabati sebesar US$495 juta atau 29,73%, sementara penurunan terbesar terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$198 juta atau 11,60%.

Berdasarkan negara, Jepang menduduki peringkat pertama dengan nilai US$1,35 miliar, Amerika Serikat sebesar US$1,34 miliar, dan India berada di peringkat ketiga dengan total nilai ekspor sebesar US$1,23 miliar, dan kontribusi untuk ketiga negara tersebut mencapai 30,45%. Sementara untuk negara tujuan Uni Eropa tercatat sebesar US$1,43 miliar.

Sementara pada September 2014 lalu, nilai ekspor Indonesia mencapai US$15,28 miliar yang mengalami peningkatan sebesar 3,87% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2013 lalu. Ekspor non-migas September 2014 mencapai US$12,65 miliar, yang naik 6,48% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, dan naik 2,94% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2013 lalu.

Secara kumululatif Januari-Oktober 2014, nilai ekspor Indonesia mencapai US$148,06 miliar atau mengalami penurunan jika dibandingkan dengan periode yang sama 2013. Hal tersebut juga dialami ekspor non-migas yang mencapai US$122,19 miliar atau turun 0,81%.

Masih Defisit

Secara akumulatif, neraca perdagangan Januari-Oktober 2014 masih mengantongi defisit US$1,65 miliar, dimana defisit migas tercatat sebesar US$10,73 miliar dan surplus non-migas sebesar US$9,08 miliar. Kinerja ekspor pada periode Januari-Oktober 2014 mencapai US$148,06 miliar, atau menurun 1,06% jika dibandingkan periode yang sama pada tahun 2013 lalu. Dan ekspor non-migas juga mengalami penurunan sebesar 0,81% atau nilai ekspor mencapai US$122,19 miliar.

Sementara untuk impor pada periode yang sama, mencapai US$149,70 miliar atau mengalami penurunan sebesar 4,05% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2013 lalu. Nilai tersebut turun 3,68% dibanding impor golongan barang yang sama pada September 2014.

Pada September 2014 lalu, tercatat defisit neraca perdagangan sebesar US$270,3 juta, yang dipicu oleh tingginya nilai impor terhadap angka ekspor nasional. Nilai ekspor tercatat US$15,28 miliar, atau naik sebesar 3,87% dibandingkan periode yang sama tahun 2013 lalu. Sementara nilai impor tercatat mencapai US$15,55 miliar.

Dilain sisi, Pengamat Ekonomi Sunarsip menilai bahwa neraca perdagangan 2014 akan tetap defisit. Sebabnya impor Minyak dan Gas (Migas) masih tinggi. Inilah yang menyebabkan surplus akan sulit terjadi. “Jangka pendek agak berat pemerintah dapat menekan defisit neraca perdagangan," ujar Sunarsip.

Sunarsip menjelaskan penyebab defisit sulit terhindarkan karena produksi minyak turun. Benar saja menurut dia, target lifting minyak bakalan terkoreksi. Pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2014 target lifting minyak mencapai 870 ribu barel per hari. Namun Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas (Migas) akan merevisi menjadi 804 ribu barel per hari.

Sontak saja revisi target tersebut menjadi beban untuk mengangkat neraca perdagangan dari defisit. Alih-alih menjadikan surplus, justru yang ada masih defsit neraca perdagangan Indonesia. "Faktor defisit karena Migas agak berat karena produksi turun dan konsumsi naik, jadi dari situ berat," jelasnya.

Oleh karena itu, menurut Sunarsip ke depannya pemerintah sudah harus membangun kilang minyak baru untuk menggenjot target lifting. “Cuman pemerintah punya opsi jangka panjang dengan membangun kilang dan membenahi infrastruktur pada jalur migas,” katanya.