Mimpi Besar BUMN

Senin, 01/12/2014


Oleh: Prof. Firmanzah., PhD
Guru Besar Fakultas Ekonomi UI

Tiongkok telah menjadikan BUMN tidak hanya menjadi aktor strategis dalam perekonomian domestik tetapi juga didorong menjadi perusahaan MNC terkemuka dunia.Di ASEAN, strategi dan kebijakan ini juga ditempuh oleh sejumlah negara seperti Singapura, Malaysia dan Thailand yang terus mendorong BUMN untuk terus melakukan ekspansi baik pasar, penguasaan sumber daya strategis maupun akses teknologi dan keuangan di luar negara mereka.

Indonesia memang sedikit berbeda dibandingkan dengan negara-negara tersebut. Dalam arti potensi pasar dan sumber daya domestik masih terbuka luas untuk dioptimalkan oleh BUMN nasional kita.Namun sejumlah BUMN nasional seperti Telkom, Pertamina, PGN, Semen Indonesia, Pupuk Indonesia, Wika, Bank Mandiri, dan BRI memiliki peluang dan kesmepatan untuk menjadi lebih besar lagi. Terlebih tidak lama lagi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mulai efektif berlaku pada Desember 2015.

Terbukanya peluang dan kesempatan di tingkat ASEAN perlu dimanfaatkan oleh BUMN nasional kita untuk menjadi pemain di tingkat regional.Mimpi besar Tiongkok, India, Singapura, Malaysia, dan Thailand tidak hanya menjadikan BUMN mereka domestic-player saja tetapi juga global-player. Strategi dan kebijakan ‘Go Out Policy’ dilakukan oleh Pemerintah Tiongkok kepada BUMN mereka juga ditujukan untuk memaksa BUMN terus melakukan peningkatan kompetensi manajerial, memaksa peningkatan standar kualitas produk dan jasa berstandar internasional, dan menjadi perusahaan kelas dunia.Tidaklah mengherankan apabila banyak BUMN di sejumlah negara yang masuk dalam 500 Fortune.

Selain itu juga, upaya mendorong BUMN memanfaatkan pasar ASEAN bukan berarti lantas meninggalkan pasar domestik kita. Sejumlah BUMN nasional kita seperti Semen Indonesia, Wika, Bank Mandiri dan Bank BNI telah memiliki unit operasi di sejumlah negara ASEAN.
Hadirnya mereka di sejumlah negara ASEAN justeru semakin mendorong BUMN menjadi lebih kompetitif dalam berproduksi dan kualitas produk. Peningkatan kemampuan ini pada akhirnya juga semakin dibutuhkan oleh konsumen dalam negeri yang juga mendapatkan pilihan produk dari perusahaan-perusahaan dari negara lain di kawasan ASEAN.

Kementerian BUMN perlu segera menyusun rencana strategis dan kebijakan nasional terkait dengan hal ini. Agar kita tidak hanya fokus mengamankan pasar domestik saja tetapi juga secara aktif masuk ke sejumlah negara ASEAN dan memanfaatkan potensi baik pasar, akses sumber daya maupun teknologi produksi. Startegi yang dapat ditempuh bisa melalui investasi langsung dengan mendirikan pabrik ataupun melalui proses merger-akuisisi.

Melalui hal ini maka mimpi besar kita tidak hanya menjadikan BUMN semakin kompetitif dan berdaya saing, tetapi juga menjadi perusahaan berkelas internasional. Selain itu juga, terbukanya pasar ASEAN dapat menjadi pintu masuk BUMN nasional untuk lebih go-internasional dan lebih naik kelas satu tingkat menjadi regional-player yang pada akhirnya diarahkan menjadi perusahaan-perusahaan kelas dunia (global player).