Nasionalisme Konsumen

Kamis, 04/12/2014

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Industri dan Perdagangan

Secara de facto ketergantungan konsumen terhadap barang impor cukup tinggi. Banyak alasan yang menjadi penyebabnya, antara lain dikatakan bahwa harga barang impor harganya relatif murah dan kualitasnya baik. Perilaku konsemen yang seperti itu bisa dianggap wajar karena dampak globalisasi dan liberalisasi pasar telah menawarkan alternatif pencapaian standar hidup yang lebih tinggi.

Masyarakat menjadi sangat konsumtif, boros dan mudah terpengaruh oleh hal-hal yang berbau impor dianggapnya lebih baik. Memakai barang impor menjadi sebuah kebanggaan, meskipun maaf barang yang dibeli adalah dalam keadaan bukan baru alias bekas pakai. Pemerintah tidak bisa berbuat banyak dengan melihat fenomena konsumen yang seperti itu perilakunya, terutama konsumen kelas menengah ke atas yang daya belinya cukup kuat.

Meski nilai impor barang konsumsi hanya sekitar 10% dari total nilai impor Indonesia, para produsen di dalam negeri cukup merasa terganggu karena di luar itu disinyalir banyak barang impor yang masuk secara ilegal. Terhadap praktek ilegal impor ini yang harus ditindak tegas. Sedangkan terhadap barang impor yang masuk secara legal, sikap pemerintah tidak bisa dengan serta merta menghambatnya karena pemerintah terikat dengan berbagai perjanjian internasional dalam rangka perdagangan bebas.

Cukup beralasan ketika kita mengkhawatirkan bahwa pasar dalam negeri akan dibanjiri oleh barang impor, baik yang masuk secara legal maupun ilegal,baik dalam keadaan baru maupun dalam keadaan bekas pakai. Sejak globalisasi berjalan dan sejak demokratisasi berkembang di negeri ini, memang konsumen dan masyarakat pada umumnya secara individu memiliki kebebasan menentukan pilihan apa yang menjadi kebutuhannya.

Dalam menentukan pilihan tentang apa yang dibutuhkan pada dasarnya mereka tidak bisa dipaksa. Paling mungkin adalah dipengaruhi atau diyakinkan dan dimotivasi atau diedukasi agar nalar dan alam bawah sadarnya menjadi terbuka ketika konsumen harus memilih produk yang akan dibeli, apakah pilihannya ke produk buatan dalam negeri atau jatuh ke produk impor.

Seberapa penting membangun nasionalisme konsumen di era globalisasi dan perdagangan bebas, dimana mata, pikiran dan pilihannya sudah banyak dipengaruhi oleh lingkungan yang makin terbuka? Menjawab pertanyaan ini tidak mudah karena sikap konsumen sangat beragam. Gaya hidup dan seleranya juga tidak bersifat tunggal karena konsumen benar-benar memiliki kebebasan untuk memilih apa yang dibutuhkan sesuai dengan kemampuan daya belinya.

Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar, saat ini mencapai sekitar 240 juta jiwa, dan menurut Bank Dunia, pada tahun 2011 terdapat 56,5% masuk kategori kelas menengah adalah pasar potensial yang diperebutkan oleh para produsen barang dan jasa sedunia. Kekuatan daya beli mereka hakekatnya merupakan demand driven yang saat ini menyumbang hampir 60% per tahun terhadap PDB nasional dalam bentuk pengeluaran belanja konsumsi rumah tangga. Nilai budaya kapitalisme global lebih banyak memberikan pengaruh kuat terhadap cara berfikir golongan kelas menengah, yang antara lain dalam perubahan gaya hidup dan pola konsumsi.