Nasionalisme Konsumen

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Industri dan Perdagangan

Secara de facto ketergantungan konsumen terhadap barang impor cukup tinggi. Banyak alasan yang menjadi penyebabnya, antara lain dikatakan bahwa harga barang impor harganya relatif murah dan kualitasnya baik. Perilaku konsemen yang seperti itu bisa dianggap wajar karena dampak globalisasi dan liberalisasi pasar telah menawarkan alternatif pencapaian standar hidup yang lebih tinggi.

Masyarakat menjadi sangat konsumtif, boros dan mudah terpengaruh oleh hal-hal yang berbau impor dianggapnya lebih baik. Memakai barang impor menjadi sebuah kebanggaan, meskipun maaf barang yang dibeli adalah dalam keadaan bukan baru alias bekas pakai. Pemerintah tidak bisa berbuat banyak dengan melihat fenomena konsumen yang seperti itu perilakunya, terutama konsumen kelas menengah ke atas yang daya belinya cukup kuat.

Meski nilai impor barang konsumsi hanya sekitar 10% dari total nilai impor Indonesia, para produsen di dalam negeri cukup merasa terganggu karena di luar itu disinyalir banyak barang impor yang masuk secara ilegal. Terhadap praktek ilegal impor ini yang harus ditindak tegas. Sedangkan terhadap barang impor yang masuk secara legal, sikap pemerintah tidak bisa dengan serta merta menghambatnya karena pemerintah terikat dengan berbagai perjanjian internasional dalam rangka perdagangan bebas.

Cukup beralasan ketika kita mengkhawatirkan bahwa pasar dalam negeri akan dibanjiri oleh barang impor, baik yang masuk secara legal maupun ilegal,baik dalam keadaan baru maupun dalam keadaan bekas pakai. Sejak globalisasi berjalan dan sejak demokratisasi berkembang di negeri ini, memang konsumen dan masyarakat pada umumnya secara individu memiliki kebebasan menentukan pilihan apa yang menjadi kebutuhannya.

Dalam menentukan pilihan tentang apa yang dibutuhkan pada dasarnya mereka tidak bisa dipaksa. Paling mungkin adalah dipengaruhi atau diyakinkan dan dimotivasi atau diedukasi agar nalar dan alam bawah sadarnya menjadi terbuka ketika konsumen harus memilih produk yang akan dibeli, apakah pilihannya ke produk buatan dalam negeri atau jatuh ke produk impor.

Seberapa penting membangun nasionalisme konsumen di era globalisasi dan perdagangan bebas, dimana mata, pikiran dan pilihannya sudah banyak dipengaruhi oleh lingkungan yang makin terbuka? Menjawab pertanyaan ini tidak mudah karena sikap konsumen sangat beragam. Gaya hidup dan seleranya juga tidak bersifat tunggal karena konsumen benar-benar memiliki kebebasan untuk memilih apa yang dibutuhkan sesuai dengan kemampuan daya belinya.

Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar, saat ini mencapai sekitar 240 juta jiwa, dan menurut Bank Dunia, pada tahun 2011 terdapat 56,5% masuk kategori kelas menengah adalah pasar potensial yang diperebutkan oleh para produsen barang dan jasa sedunia. Kekuatan daya beli mereka hakekatnya merupakan demand driven yang saat ini menyumbang hampir 60% per tahun terhadap PDB nasional dalam bentuk pengeluaran belanja konsumsi rumah tangga. Nilai budaya kapitalisme global lebih banyak memberikan pengaruh kuat terhadap cara berfikir golongan kelas menengah, yang antara lain dalam perubahan gaya hidup dan pola konsumsi.

BERITA TERKAIT

31 Kasus Sengketa Konsumen Masuk Ke BPSK Kota Sukabumi - Sepanjang Tahun 2018

31 Kasus Sengketa Konsumen Masuk Ke BPSK Kota Sukabumi Sepanjang Tahun 2018 NERACA Sukabumi - Sepanjang tahun 2018, kasus pengaduan…

Harga BBM Nonsubsidi di RI Lebih Mahal dari AS dan Malaysia: Eksploitasi Konsumen?

Oleh: Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Sejak awal 2018 harga minyak mentah dunia naik pesat…

Pemahaman Masyarakat Mengenai UU Konsumen Dinilai Rendah

Pemahaman Masyarakat Mengenai UU Konsumen Dinilai Rendah NERACA Palembang - Pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Sumatera Selatan menilai tingkat pemahaman masyarakat…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Infrastruktur Berkualitas Rendah - Oleh ; EdyMulyadi, Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Proyek infrastruktur di Indonesia ternyata berkualitas rendah dan tidak memiliki kesiapan. Bukan itu saja, proyek yang jadi kebanggaan Presiden JokoWidodo itu…

Ketika Rakyat Sekadar Tumbal

  Oleh: Gigin Praginanto Antropolog Ekonomi Politik Perekonomian nasional itu ibarat sepeda. Harus selalu dikayuh agar bergerak dan tidak jatuh.…

Relasi Pasar Domestik dan Pasar Internasional

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Fenomena globalisasi dan liberalisasi yang ditopang oleh sistem ekonomi digital yang marak…