Memacu Sektor Maritim Lewat Pasar Modal - Pendanaan Masih Minim

NERACA

Jakarta – Keseriusan pemerintahan Jokowi dan Jusuf Kalla untuk menggali potensi ekonomi di sektor kemaritiman menjadi peluang pasar bagi bisnis pelayaran atau turunannya yang bersentuhan dengan industri tersebut. Namun sayangnya, pendanaan industri kemaritiman saat ini belum banyak menyentuh pada industri pasar modal ketimbang perbankan.

Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad mengatakan, pendanaan pasar modal bidang kemaritiman masih minim, yakni sebesar 0,8%,”Kira-kira hanya sebesar 0,8% dari total nilai penerbitan efek yang tercatat sebesar Rp1.092 triliun," katanya di Jakarta, Kemarin.

Dia mengatakan, dari sektor pasar modal hingga September 2014 tercatat 17 emiten di sektor kemaritiman dari total 845 emiten, yang memperoleh pendanaan dari pasar modal lebih dari Rp9 triliun. Pendanaan itu berbentuk saham dan surat utang. Sebelumnya, Muliaman mengimbau agar sektor jasa keuangan memprioritaskan pemberian kredit dan modal bagi pelaku ekonomi kemaritiman khususnya nelayan pada Rencana Bisnis Bank (RBB) tahun depan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kata Muliaman, pihaknya akan mendorong sinergi seluruh elemen sektor jasa keuangan dalam memberikan kontribusi dukungan terhadap peningkatan kesejahteraan di bidang ekonomi, khususnya ekonomi kemaritiman. Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Nurhaida mengatakan, pihaknya mendorong perusahaan kemaritiman untuk dapat memperoleh dana di pasar modal demi kelangsungan bisnis,”Kita selalu dorong, dengan peraturan yang lebih mudah untuk mendapatkan modal usaha," ujarnya.

Wakil Ketua Umum Kading Bidang Kelautan dan Perikanan Kamar Dagang Indonesia (Kadin), Yugi Prayanto pernah berujar, optimismenya bila bisnis sektor kelautan dan perikanan menggiurkan terlihat dari keinginan investor asing yang ingin menancapkan modalnya di Indonesia,”Sebenarnya banyak yang investasi seperti Thailand," kata dia.

Bukan hanya itu, salah satu hal yang membuat usaha sektor industri perikanan dan kelautan menjadi incaran investor karena di Indonesia banyak terdapat unit pengolahan ikan (UPI),”Kita lihat, unit pengolahan UPI sampai 560 itu perusahaan menengah,”tuturnya.

Namun saat ini, masih banyak pengusaha sektor kelautan dan perikanan yang menggantungkan permodalan dari perbankan. Berdasarkan data OJK, saat ini nilai pendanaan sektor kemaritiman di pasar modal terbilang kecil, sekitar 1% dari total kredit perbankan. Maka guna meningkatkan jumlah perusahaan yang tercatat di pasar modal, OJK mengajak pengusaha sektor kelautan dan perikanan atau kemaritiman untuk memanfaatkan pasar modal.

Selain itu, pelaku usaha juga bisa memanfaatkan dana dari penerbitan surat utang. Dimana surat utang pun terbagi menjadi beberapa macam, dari konvensional sampai surat utang syariah atau sukuk. Namun begitu, sejauh ini kinerja pendanaan dari perbankan untuk sektor maritim pun masih belum memuaskan.

Berdasarkan laporan industri perdagangan per September 2014, jumlah kredit perbankan untuk bidang kemaritiman sebesar Rp 67,33 triliun. Jumlah ini hanya sekitar 1,85% dari total keseluruhan kredit perbankan yang jumlah totalnya mencapai Rp 3.561 triliun. Jumlah tersebut memang meningkat dari posisi akhir 2013, Rp 61,19 triliun. Namun, kredit macet (non performing loan, NPL-nya) juga meningkat. NPL kredit kemaritiman per September 2014 14,19% dan akhir tahun 2013 13,05%. (bani)

BERITA TERKAIT

Pangkas Beban Utang - Sidomulyo Cari Modal Lewat Rights Issue

NERACA Jakarta -Perusahaan jasa angkutan kimia PT Sidomulyo Selaras Tbk (SDMU) berencana mencari pendanaan di pasar modal lewat aksi korporasi…

Ekonomi Global Melambat - Fund Rising di Pasar Modal Masih Rendah

NERACA Jakarta – Kendatipun minat perusahaan untuk mencatatkan sahamnya di pasar modal cukup besar dan berbagai aksi korporasi berupa penerbitan…

Sektor Produksi - Industri Galangan Kapal Ingin Bea Masuk Komponen Diturunkan

NERACA Jakarta – Industri galangan kapal menginginkan bea masuk komponen diturunkan dari 5-12 persen menjadi hingga nol persen untuk meningkatkan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BPII Terima Dividen Tunai Rp 12,99 Miliar

PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII) pada tanggal 12 Juni 2019 memperoleh dividen tunai tahun buku 2018 sebesar Rp12,99 miliar…

Kerugian Steady Safe Susut Hingga 54%

Meskipun masih mencatatkan rugi di kuartal pertama 2019, PT Steady Safe Tbk (SAFE) mengklaim rugi bersih yang dibukukan senilai Rp1,809…

Volume Penjualan SMCB Masih Terkoreksi

Lesunya pasar semen dalam negeri dirasakan betul oleh PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB). Perusahaan yang dulunya PT Holcim Indonesia…