Astra Internasional Bidik Pasar Properti - Seimbangkan Bisnis Otomotif

NERACA

Bogor – Menyadari bisnis otomotif sebagai penopang utama pendapatan PT Astra Internasional Tbk tengah mengalami perlambatan tahun ini hingga tahun depan, menjadi alasan bagi perseroan untuk menyeimbangkan bisnis otomotif dan non otomotif. Bahkan perseroan terus melakukan diversifikasi bisnis, teranyar Astra Internasional mulai kembangkan bisnis properti.

Chief Group Treasury & Investor RelationsAstra International, Iwan Hadiantoro mengatakan, perseroan tengah melakukan pengembangan di sektor properti di bawah garapan anak usaha, yaitu PT Menara Astra,”Astra tengah membangun office toweratau Menara Astra setinggi 47 lantai dan Anandamaya Residence Apartment sebanyak 509 unit di Kawasan Sudirman,”ujarnya di Bogor, Kemarin.

Menurutnya, hingga saat ini pihaknya telah berhasil dalam menjual sekitar 500 unit atau sebesar 90% dari total keseluruhan unit apartemen. Rencananya sisanya sebesar 20% lagi ditargetkan sudah dapat laku terjual di penghujung tahun ini. Penggarapan tersebut diharapkan dapat selesai akhir tahun 2017 mendatang."Proyek ini kami seriusi makanya pembangunanoffice towerdan residensial itu dilakukan secara bertahap," tuturnya.

Tercatat, perseroan menginvestasikan dana sebesar US$ 600 juta untuk membangun Menara Astra dan Anandamaya Residence Apartment. Kata Iwan Hadiantoro, bisnis sektor properti ini diharapkan dapat mendorong kinerja di sektor non otomotif meningkat sehingga dapat mengimbangi kinerja sektor otomotif yang lebih mendominasi,”Kita ingin keluar dari ketergantungan dari sektor otomotif, karena sektor itu cukup rentan terkena dampak negatif jika terjadi kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Kita ingin kinerja yang 'sustainable',”ungkapnya.

Ke depan, lanjut dia, perseroan tidak menutup kemungkinan untuk mengembangkan bisnis properti, apalagi saat ini Astra International Tbk memiliki lahan yang ada di lokasi yang cukup strategis,”Kami tidak punya lahan kosong, tapi kami punya lahan yang ada untuk dimanfaatkan agar bisa lebih berguna untuk mendukung sektor properti,”tandasnya.

Kendati demikian, Iwan Hadiantoro mengatakan bahwa Astra International Tbk tetap terus fokus dalam menjalankan bisnis lainnya yakni otomotif, keuangan, alat berat dan pertambangan, agrobisnis, infrastruktur, logistik serta teknologi informasi. Dengan kombinasi bisnis diharapkan kinerja sektor otomotif dan non otomotif memiliki perbandingan sama, yakni 50:50.

Selama kuartal III-2014, Astra berhasil meraup laba bersih sebesar Rp 14,5 triliun atau naik 8% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 13,4 triliun. Sementara, pendapatan tercatat sebesar Rp 150,5 triliun atau tumbuh 6% dibandingkan kuartal III-2013 sebesar Rp 141,8 triliun.

Pertumbuhan pendapatan dan laba bersih ditopang sektor agribisnis dan kontrak pertambangan. Sementara, divisi otomotif justru melemah akibat penurunan penjualan mobil. Penjualan mobil Astra secara nasional turun 1% menjadi 476.000 unit. Hal ini menyebabkan penurunan pangsa pasar dari 53% menjadi 51%. Di sisi lain, penjualan sepeda motor mengalami peningkatan sebesar 9%. (bani)

BERITA TERKAIT

Industri Tekstil Indonesia Bidik Ekspor Senilai US$14 Miliar - Sepanjang 2018

NERACA Jakarta – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional diyakini mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan devisa dari ekspor…

HK Metals Bidik Dana IPO Rp 337,33 Miliar - Tawarkan Harga Rp 190-230 Persaham

NERACA Jakarta -PT HK Metals Utama menawarkan harga saham perdana antara Rp 190-230 per saham. Nantinya, dana  hasil IPO akan…

Mahaka Media Klaim Sentimen Positif Pasar - Harga Saham Melesat Tajam

NERACA Jakarta – Keluar masuknya saham PT Mahaka Media Tbk (ABBA) dari suspensi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membuat kekhawatiran…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Transaksi Saham di NTB Tetap Tumbuh

Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Mataram, Nusa Tenggara Barat, I Gusti Bagus Ngurah Putra Sandiana menyatakan, transaksi pembelian saham…

Tawarkan Harga Rp 190-230 Persaham - HK Metals Bidik Dana IPO Rp 337,33 Miliar

NERACA Jakarta -PT HK Metals Utama menawarkan harga saham perdana antara Rp 190-230 per saham. Nantinya, dana  hasil IPO akan…

Siapkan Sanksi Tegas - BEI Ingatkan Soal Aturan Free Float Saham

NERACA Jakarta - Meskipun meleset dari target, pihak PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mengingatkan emiten untuk memenuhi kewajiban aturan…