Tahun 2015, Bisnis Otomotif Lebih Konservatif

NERACA

Bogor – Masih berlanjut lambatnya penjualan industri otomotif dalam negeri di tahun 2015, menjadi alasan bagi PT Astra Internasional Tbk (ASII) untuk memasang target penjualan di sektor otomotif lebih konservatif, “Tahun depan ada isu kenaikan tingkat suku bunga The Fed yang membuat penjualan mobil anjlok dan kita tidak terlalu optimis dengan penjualan di tahun 2015, karena mungkin pasarnya masih flat,”kata Chief Group Treasury and Investor Relations PT Astra Internasional Tbk, Iwan Hadiantoro di Bogor, kemarin.

Maka guna mensiasati bisnis kedepan, kata Iwan, Astra Internasional akan menyeimbangkan bisnisnya antara sektor otomotif dan non otomotif. Menurut dia, bisnis yang ideal ke depan tidak lagi bergantung pada sektor otomotif karena sifatnya bisnis tersebut siklus tahunan yang bergantung pada isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsisi.

Berikutnya, agar sektor otomotif tidak mendominasi, Astra Internasional akan juga menggenjot bisnis sektor infrastruktur dengan harapan pertumbuhan Grup ke depan berkelanjutan. Mengembangkan bisnis yang seimbang 50% otomotif dan 50% non otomotif menjadi pilihan. Apalagi, kata Iwan, saat ini kondisi industri otomotif terutama mobil memiliki tantangan akibat persaingan dan kelebihan "supply" kapasitas,”Nantinya diharapkan, bisnis otomotif dan non otomotif 'balance'. Tetapi, poinnya kita tidak menurunkan kinerja di sektor otomotif, yang di luar otomotif akan kami pacu untuk mengejar keseimbangan itu," ujarnya.

Industri otomotif, lanjut dia, akan terus mengalami pertumbuhan karena penetrasi pasar saat ini masih relatif rendah sekitar 1,2 juta dibandingkan jumlah penduduk. Dia mengemukakan, pada 2012 kontribusi bisnis otomotif terhadap laba bersih mencapai 64%, lalu pada 2013 sebesar 68% dan pada kuartal III 2014 menjadi 59%.

Kendatipun terjadi penurunan, lanjutnya, perseroan masih beruntung karena mampu memiliki market share terhadap penjualan otomotif sebesar 50%. Padahal tahun lalu market share Astra Internasional terhadap penjualan otomotif nasional sebesar 53% dan ditahun ini turun hanya 51%. Dimana penurunan ini akibat kompetisi yang terjadi sejak dua tahun lalu.

Maka untuk mensiasati persaingan ketat ditengah lambatnya lesunya pertumbuhan industri otomotif nasional, Astra Internasional, lanjut Iwan, tidak hanya jualan saja. Akan tetapi juga memperkuat industri komponennya, manufaktur dan terus menambah dealer tiap tahunnya sebesar 10 sampai 15 dealer dengan nilai investasi satu dealer sebesar Rp 50 Miliar.

Menurut Iwan, ada tiga pilar untuk menggenjot porsi bisnis non otomotif, yakni dengan memerbesar bisnis yang sudah ada, melakukan akuisisi untuk memerkuat bisnis, dan terus mendorong proyek "green field" seperti membangun jalan tol,”Diharapkan kinerja Astra lebih 'sustainable' sehingga kinerja Grup tidak terpengaruh oleh satu sektor saja,”tandasnya.

Sebelumnya, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memperkirakan, tren perlambatan penjualan mobil masih terjadi tahun depan. Makanya Gaikindo memprediksi volume penjualan tahun depan masih sama dengan tahun ini, yakni 1,2 juta unit.

Ketua Umum Gaikindo Sudirman M Rusdi pernah bilang, kenaikan harga BBM dan suku bunga the Fed (Fed rate) akan mempengaruhi penjualan. "Karena kami melihat (kondisi perekonomian) sekarang agak berat. Terutama dalam 3 bulan belakangan ini," ujarnya.

Menurutnya kenaikan harga BBM dapat membuat penjualan mobil menurun. Apalagi kenaikan harga ini terjadi saat perekonomian Indonesia sedang melemah, sehingga daya beli masyarakat menurun. Namun, ada kemungkinan penurunan penjualan tersebutmasih bisa ditutupi oleh mobil murah dan irit bahan bakar (low cost and green car/LCGC). Mobil jenis ini diperkirakan masih bisa tumbuh hingga 13-14% saja tahun depan. Sementara porsi penjualannya pun tidak jauh berbeda dengan tahun ini sekitar 14% dari total penjualan mobil.

Sementara Head of Public Relations Astra Yulian Warman mengatakan, menyikapi ketatnya bisnis otomotif memaksa Astra Internasional terus menggenjot aktivitas ekspor. Saat ini, Astra tercatat mengekspor sebanyak 200.000 unit mobil ke berbagai negara seperti Timur Tengah, Afrika, Amerika Selatan, dan wilayah ASEAN,”Saat ini porsi ekspor kami mencapai 70-80%. Kami akan berusaha menggenjot pasar ekspor lebih besar lagi pada 2015,”tandasnya. (bani)

BERITA TERKAIT

Menkeu: Penerimaan Negara Harus Lebih Besar - MASIH ADA 4 POIN PROSES NEGOSIASI RI-FREEPORT

Jakarta-Menkeu Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, pemerintah masih harus memastikan empat poin dalam proses negosiasi dengan Freeport tercapai. Salah satunya soal…

Wika Bitumen Perkuat Bisnis Pengolahan Aspal - Gandeng Investor Asal Cina

NERACA Jakarta – Melengkapi bisnis di sektor konstruksi dan infrastruktur, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) melalui anak usahanya PT…

Walikota Depok: STNK Nunggak Dua Tahun, Data Dihapus dan Dilarang Operasional

Walikota Depok: STNK Nunggak Dua Tahun, Data Dihapus dan Dilarang Operasional NERACA Depok - Walikota Depok Dr. KH M. Ideis…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Akademisi: 'Permainan' Pedagang Atas Lonjakan Harga Telur

NERACA Jakarta - Penyebab melonjaknya harga bahan pangan, seperti telur ayam yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia dapat terjadi…

KURS RUPIAH MELESAT HINGGA Rp 14.442 PER US$ - BI Tahan Suku Bunga Acuan 5,25%

Jakarta-Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan (7 Days Reverse Repo Rate-7DRRR) tetap 5,25%. Sementara itu, nilai…

Perundingan Dagang Indonesia-UE Bahas Isu Khusus

NERACA Jakarta – Perundingan perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif atau "comprehensive economic partnership agreement" (CEPA) antara Indonesia dan Uni Eropa…