United Tractor Kembangkan Bisnis Energi

Bidik Proyek PLTA di Jateng

Senin, 01/12/2014

NERACA

Bogor – Menyadari bisnis alat berat saat ini tengah lesu, seiring dengan lesunya bisnis komoditi, seperti batubara, memaksa PT United Tractor Tbk (UNTR) untuk tidak bergantung lagi pendapatan pada bisnis alat berat. Sebaliknya, kini perseroan tengah melakukan diversifikasi usaha dengan masuk bisnis konstruksi dengan mengakuisisi saham PT Acset Indonusa Tbk (ACST) dan bisnis energi.

Untuk bisnis energi, kata Direktur PT United Tractor Tbk, Edi Sarwono, rencana untuk masuk ke sektor energi telah menginvestasikan dana senilai Rp10 miliar. Menurutnya, bisnis energi adalah baik setelah batu bara,”Seperti kata pak Jokowi, setelah coal, bisnis yang bagus adalah jualan energi," ujarnya di Bogor kemarin.

Anak usahanya PT Pamapersada Nusantara telah diberikan mandat untuk masuk ke sektor hilir. Sehingga saat ini sudah dibentuk tim untuk tender mini hydro 500 MW di Jawa Tengah. Selain itu, lanjutnya, perseroan juga tengah mengkaji kemungkinan tempat untuk membangun PLTA tersebut. Kalaupun ada yang tembus, hal tersebut masih berupa pilot project."Nanti masih bisa dikembangkan," paparnya.

Tahun depan, perseroan mengalokasikan dana belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar US$ 300 juta. Dana tersebut sebagian besar 60% akan dialokasikan untuk pengembangan unit usaha kerja sama pertambangan melalui operator PT Pamapersada Nusantara (PAMA), kontraktor batu bara terbesar dengan penguasaan pasar 45%, sisanya untuk unit bisnis mesin konstruksi 20% dan unit bisnis penambangan batu bara.

Disebutkan, pendanaan capex tersebut masih akan bersumber dari dana kas internal perusahaan. Hingga kuartal-III 2014 posisi kas internal perseroan tercatat berada di angka Rp 8,80 triliun, naik 15,7% dari posisi di periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 7,59 triliun.

Ikut Lelang

Selanjutnya untuk bisnis lainnya, kata Edi, perseroan hingga saat ini masih terus menunggu hasil lelang yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terkait pengadaan bus TransJakarta yang mencapai sebanyak 850 unit.

Edi menuturkan, pihaknya telah mengajukan ke Pemprov untuk masuk ke dalam mekanisme pemesanan TransJakarta yang melalui e-katalog,”Untuk public transport, perkembangannya yang Scania Bus itu kita sudah serahkan ke Pemprov unuk masuk ke e-katalog,”ungkapnya.

Oleh karena itu, sambil menunggu hasil dari lelang di e-katalog, dirinya enggan memprediksikan berapa bus yang akan dipesan oleh Pemprov DKI Jakarta. Seperti diketahui, UNTR mengajukan dua jenis bus Scania untuk kebutuhan TransJakarta. Yang pertama bus Scania gandeng yang menggunakan bodi aluminium yang dibanderol Rp 5,8 miliar. Pilihan kedua adalah bus Scania yang menggunakan bodi baja dengan harga lebih murah, yakni Rp 4,6 miliar.

Sementara itu, terkait dengan penjualan bus asal Swedia tersebut perseroan tidak hanya menjual ke pemprov. Namun juga, melaksanakan penjualan ke perusahaan bus antarkota dan antarprovinsi. "Kita masuk ke perusahaan bus itu kita sudah jual banyak seperti ke Jawa Tengah dan Makassar," ujarnya.

Sekretaris Perusahaan PT United Tractors Tbk Sara K Lubis menerangkan setiap tahunnya perseroan menjual sebanyak 50 unit bus Scania. "Rata-rata penjualan kita setiap tahunnya itu 50 unit. Ini tidak akan bertambah jika infrastruktur jalan masih tidak bertambah," tukasnya. (bani)