MEA Disebut Peluang IKM Nasional Rambah Pasar ASEAN

Pengembangan Industri Kecil dan Menengah

Senin, 01/12/2014

NERACA

Jakarta – Sekertaris Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM), Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Busharmaidi menyebutkan, tidak sedikit publik menilai pagelaran Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan digelar pada akhir Desember 2015 dan aktif pada awal 2016 nanti menjadi ancaman bagi Indonesia. Namun, sesungguhnya, MEA merupakan peluang bagi IKM nasional bisa merambah pangsa pasarnya lebih luas ke negara ASEAN lain.

“MEA peluang buat IKM nasional bisa menjual produknya ke negara ASEAN lain lebih mudah,” katanya kepada wartawan saat konferensi pers menyambut acara Swarna Fest, di Jakarta, Jumat (28/11).

Menurut dia, selama ini pangsa pasar IKM 75% baru merambah pasar dalam negeri. Sehingga pada pagelaran MEA nanti, diproyeksikan pangsa pasar ke luar negeri bisa lebih besar, minimal bisa mencapai 50%. “Produk IKM lebih besar untuk dalam negeri, MEA nanti harapannya bisa lebih besar mengisi pasar luar negeri terutama negara ASEAN,” imbuhnya.

Namun begitu dirinya menyadari salah satu tantangan dari IKM nasional adalah kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) yang masih rendah. Oleh karenanya salah satu program dari Kemenperin memberikan edukasi dan pendampingan guna peningkatan kemampuan SDM IKM nasional. “Jika ingin memaksimalkan produksi lebih besar dan berkualitas tinggi, maka harus mampu mengaplikasikan tekhnologi tinggi. Masalahnya SDM kita mayoritas berpendidikan Sekolah Dasar, maka dari itu langkah yang harus ditempuh tentu memberikan pelatihan kepada mereka terutama yang berbasis dengan tekhnologi,” ujarnya.

Tapi, lanjut dia lagi, produk IKM nasional saat ini secara kualitas tidak kalah dengan produk luar negeri. Hanya saja memang kebanyakan produk IKM nasional tidak terlalu banyak diekspos dan jarang dikenal oleh masyarakat. Maka, salah satu upaya yang dilakukan adalah membantu mereka mempromosikan produknya dengan menggelar pameran. “Produk IKM kita tidak ada anggaran untuk promosi, makanya kami yang memberikan wadah promosinya buat mereka,” ucapnya.

Gelar Swarna Fest 2014

Salah satu wadah para IKM nasional melakukan promosi adalah lewat pameran IKM seperti Festival Serat dan Warna Alam (Swarna Fest) 2014 yang akan digelar di Bali 4-7 Desember 2014. “Swarna Fest adalah salah satu ajang promosi untuk mengenalkan produk IKM nasional kepada masyarakat,” ujarnya.

Kenapa Bali yang dipilih, menurut dia, mengingat produk menggunakan pewarna alam merupakan produk untuk kalangan menengah ke atas. Di samping itu agar produk ini bisa dikenal oleh turis mancanegara. “Pada akhir tahun biasanya di Bali banyak turis mancanegara yang berlibur disana, maka dari itu kami pilih Bali sebagai tempat pagelaran ini,” tuturnya.

Namun demikian, sebenarnya produk menggunakan pewarna alami mempunyai potensi besar di pasar dalam negeri, yang mana sekitar 60 juta masyarakat kalangan menengah merupakan pasar yang potensial bagi industri tekstil pewarna alam ini. “Potensi ekonomi tenun warna alami ini sangat tinggi, diproyeksikan pertumbuhan penduduk Indonesia kalangan menengah ke atas adalah 60 juta orang, dan ini bisa menjadi target potensial bagi industri ini,” terangnya.

Pada kesempatan yang sama, Anastasia Inne Adhi dari Yayasan Batik Indonesia (YBI) menambahkan, produk tradisional seperti tenun asli Indonesia pangsa pasarnya begitu besar baik di dalam maupun luar negeri. Sampai dengan saat ini masih belum bisa ditiru oleh negara lain. Tapi perlu dicatat dengan tenun menggunakan tulis atau tradisional secara harga lebih mahal dibandingkan tenun cetak yang banyak dilakukan oleh industri.

Oleh karena itu, untuk lebih mempopulerkan produk perlu gencar melakukan promosi baik di domestik maupun ke luar negeri. “Swarna Fest salah satu ajang yang diharapkan mampu mengenalkan produk asli Indonesia,” ujarnya.

Alasannya, perlu diwaspadai jika bicara masalah tenun atau batik, industry besar sekarang sudah mengusai pasar international. Celakanya, negara produksi tenun maupun batik yang terbesar bukan dari Indonesia, tapi dari Tiongkok dan India. “Bicara industri, Indonesia kalah dengan Tiongkok bahkan India, padahal tenun maupun batik berasal dari Indonesia. Itulah yang harus diwaspadai, makanya promosi ini dilakukan guna mengenalkan kepada dunia produk tenun maupun batik nasional yang menggunakan pewarna alami asli Indonesia,” tegasnya.

Sementara itu, menurut Direktur Jenderal IKM, Kemenperin, Euis Saedah menyambut baik dan mendukung adanya pagelaran Swarna Fest yang mengusung tema “Nusantara Blue” langkah ini dilakukan untuk mengembangkan dan mempromosikan industri kreatif nasional terutama yang berkaitan dengan pemanfaatan bahan baku ramah lingkungan pada industry tekstil, sekaligus untuk melestasrikan kekayaan adat dan kearifan lokal Indonesia melaui penggunaan serat dan warna alam.

“Kami mendukung penuh pengembangan dan pemanfaatan serat dan pewarna alam yang telah terbukti lebih ramah lingkungan, mampu membangkitkan ekonomi kerakyatan serta diterima oleh pasar global,” kata Euis dalam keterangannya.