Pengusaha Australia Keluhkan Mafia Zirconium

NERACA Jakarta - Setelah mafia tambang mengacaukan tata niaga timah, kini mulai "menyerang" zirconium (Zr), melalui pelimpahan pengukuran kandungan Zr dari surveyor kepada Balitbang Ditjen Minerba ESDM yang memakan waktu hingga dua minggu, membuat segalanya menjadi biaya tinggi. "Kami tidak habis pikir, pemeriksaan oleh PT Surveyor Indonesia (SI) biasanya 3 sampai 4 hari saja. Sekarang memakan waktu dua minggu, dan kadar pun jadi lebih rendah dari biasanya," ungkap Danny Paulus, seorang pengusaha Australia di Jakarta, Minggu (30/11). Danny Paulus mengatakan, pemeriksaan menjadi dua minggu, membuat biaya demorage (sewa pelabuhan) yang dibayar pengusaha semakin besar. "Bahkan ada kejadian, kadar menjadi lebih rendah dari biasanya (padahal dari peralatan mesin yang sama)," jelasnya. Sementara itu, pengusaha lain mengungkapkan, Tekmira, "balas dendam" kepada pengusaha zircon. Pasalnya, sebelumnya ada sekelompok pengusaha yang meminta agar kadar yang boleh diekspor adalah 65,5% ke atas, dengan imbangan tertentu. "Namun imbalan yang dijanjikan tidak direalisasi, membuat Tekmira menjadi 'balas dendam' dengan menurunkan kadar hasil pemeriksaan menjadi di bawah 65,5%, sehingga jadi gagal ekspor, " jelas pengusaha itu. Pemerintah dan Asosiasi Pertambangan Zirconium Indonesia (APZI), dulu mengusulkan pengolahan zirconium di dalam negeri, jangan mengekspor pasir zircon. Akhirnya Peraturan Menteri (Permen) ESDM membolehkan ekspor pasir zircon dengan kadar minimum 65,5%. "Kadar minimum 65,5% itu adalah hasil negosiasi dengan imbalan, namun janji tak direalisasi, membuat Tekmira jadi 'dendam.' Namun semua pengusaha yang dirugikan bukan hanya yang ingkar janji, tapi semua pengusaha kena batunya," ungkapnya. Danny Paulus  mengatakan, pemerintah hendaknya segera meluruskan pengukuran kadar di pelabuhan. Apakah oleh surveyor yang ditunjuk Ditjen Bea Cukai (Kementerian Keuangan), apakah oleh Tekmira. Kemudian, apakah surveyor wajib membangun laboratorium di pelabuhan, atau sample dikirim ke Tekmira di Bandung. "Bagaimana pun, kirim ke Bandung memakan waktu 2 minggu. Ini tidak merugikan pengusaha, karena sewa pelabuhan jadi bengkak," paparnya. Kalangan pengusaha Zircon menduga, upaya Tekmira menurunkan kadar sehingga gagal ekspor, adalah "hasil kerja" mafia zircon. Dengan tidak bisa diekspor, maka harga zircon dalam negeri menjadi rendah, pengusaha yang mengolah zircon memperoleh bahan baku dengan harga murah.

BERITA TERKAIT

Gubernur Arinal Siapkan Konferensi Budaya Lampung di Australia 2020

Gubernur Arinal Siapkan Konferensi Budaya Lampung di Australia 2020 NERACA Bandar Lampung - Kekayaan alam dan budaya Lampung segera membutuhkan…

Pengusaha Wajib Patuhi Regulasi Kemasan Pangan - POLEMIK PRODUK SUSU KENTAL MANIS

NERACA Jakarta – Anggota Komisi IX DPR Abidin Fikri mengingatkan perusahaan yang mengeluarkan produk makanan dan minuman untuk benar-benar mematuhi…

Pengusaha Makanan dan Minuman Ikut Terdampak - Depresiasi Rupiah

    NERACA   Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar hingga menyentuh angka Rp14.400 per dolar memberi dampak…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Niaga Domestik - Pemerintah Siapkan Intervensi Pasar Jika Harga Telur Bertahan

NERACA Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) berupaya untuk menurunkan harga daging ayam ras dan telur secara bertahap dalam waktu…

China Tanda Tangani Pembelian Kelapa Sawit Indonesia

NERACA Jakarta – Beberapa pengusaha China menandatangani kontrak pembelian kelapa sawit dan produk turunannya dari Indonesia senilai 726 juta dolar…

Gencar Pembangunan, Potensi Bisnis Desain dan Interior Kian Mentereng

NERACA Jakarta - Gencarnya  pembangunan sektor properti baik perumahan, apartemen, ruko, hingga gedung perkantoran dan lainnya memicu demand terhadap kebutuhan…