Tekan CAD, Investasi Asing langsung agar Diarahkan

Pangkalpinang, Bangka Belitung

Jumat, 28/11/2014

NERACA

Pangkalpinang - Gubernur Bank Indonesia, Agus DW Martowardojo, meminta investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) diarahkan ke industri penunjang, sehingga defisit neraca transaksi berjalan (current account deficits/CAD) dapat terkompensasi dengan pembiayaan sektor produktif, selain besaran defisit yang terkendali di 2,5%-3%.

”Kalau seandainya impor meningkat (karena laju investasi), maka rasio defisit tetap di 2,5%-3%. Namun kontennya untuk yang produktif, bukan untuk yang konsumtif," kata Agus Marto, usai meresmikan Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia di Pangkalpinang, Bangka Belitung, Kamis (27/11).

Dia juga mengaku tidak terlalu khawatir dengan strategi pemerintah yang begitu mengandalkan investasi, untuk menopang pertumbuhan ekonomi 5,8% sesuai target di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015. Dengan upaya pemerintah menggenjot investasi, Agus Marto mengakui, laju impor juga dapat ikut naik karena kinerja industri dalam negeri akan semakin menggeliat, sehingga akan mendongkrak impor barang modal dan bahan baku.

Keterbatasan bahan baku itu karena belum berkembangnya industri penunjang, yang memikiki kapasitas untuk mengolah bahan mentah menjadi bahan baku. "Tapi sebenarnya yang lebih utama itu, impornya jangan sesuatu yang dikonsumsi. Tidak apa-apa itu impornya agak tinggi, tapi harus produktif," jelasnya.

Jika aliran investasi diarahkan untuk mengembangkan industri antara atau pun industri penunjang, diharapkan ketergantungan terhadap bahan baku, bahan penolong impor dapat ditekan, sehingga akan memperbaiki defisit neraca transaksi berjalan. Salah satu sektor industri yang sangat diandalkan pemerintah adalah industri manufaktur dan juga otomotif yang, diharapkan dapat memelihara surplus neraca perdagangan.

Resmikan kantor perwakilan

Agus menekankan bahwa Bank Indonesia tidak muluk-muluk menginginkan neraca transaksi berjalan dapat positif, namun pihaknya lebih mengarahkan ke kisaran ideal 2,5%-3%. Dia meyakini, dengan langkah pemerintah yang telah mengalihkan subsidi bahan bakar minyak, laju defisit transaksi berjalan dapat sesuai target.

"Dan sejak beberapa tahun ke belakang defisit transaksi berjalan kita itu terus tertekan impor BBM yang sangat besar. Dan impor BBM ini adalah untuk subsidi yang konsumtif. Itu tidak baik," ujar Agus Marto.

Selain itu, mantan Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk tersebut meresmikan pembukaan Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Pangkal Pinang.

Sebelumnya, pada 14 November 2014 telah dilakukan penandatanganan berita acara serah terima antara Kepala Perwakilan BI Wilayah VII (wilayah koordinasi meliputi Sumatera Selatan, Kep. Babel, Bengkulu dan Lampung) dengan Kepala KPwBI Provinsi Kep. Babel, yang menandai dimulainya kegiatan operasional KPwBI Provinsi Kep. Babel.

Dalam hal pengelolaan kas yang semula dengan Kas Titipan di Bank Mandiri, sejak beroperasinya KPw Kep. Babel ini, BI dapat langsung melayani masyarakat untuk penukaran uang, setoran dan penarikan uang oleh perbankan, serta pelaksanaan layanan transfer dana antarbank, baik melalui kliring ataupun melalui Real-Time Gross Settlement (RTGS), yang semula diselenggarakan oleh Bank BNI sebagai penyelenggara kliring lokal non BI.

Pembukaan KPw di Prov. Kep. Babel ini merupakan komitmen nyata BI untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara berkesinambungan. KPw Prov. Kep. Babel ini akan berfungsi penuh secara bertahap di bidang moneter, stabilitas sistem keuangan (SSK), sistem pembayaran dan pengelolaan uang rupiah, serta manajemen intern.

Peran BI sebagai advisor strategis Pemda, khususnya untuk mendukung upaya reformasi struktural, diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi daerah. “Kami ingin menjadikan kantor perwakilan Bank Indonesia di daerah sebagai mitra strategis bagi Pemda,” tandasnya. [ardi]