Dirjen Slamet: Mandiri Dengan Induk Udang Lokal

Mulai Lepas dari Ketergantungan Impor

Jumat, 28/11/2014

NERACA

Surabaya – Seiring dengan prospek bisnis perudangan nasional yang kian cerah, apalagi udang di Indonesia termasuk yang bebas dari penyakit udang Early Mortality Syndrome (EMS) dan penyakit-penyakit lainnya, kemudian kualitas udang Indonesia paling bagus sehingga penerimaan di pasar dunia sangat luar biasa, maka diperlukan gerakan kemandirian pembudidaya ikan yang diantaranya adalah kemandirian pengunaan induk-induk udang lokal.

"Kita harus mandiri dengan menggunakan induk udang lokal hasil buatan sendiri dikarenakan pada suatu saat nanti akan terjadi persaingan sehingga kita tidak harus mengandalkan atau menggantungkan induk-induk udang impor, kita harus kuat dengan berdikari melalui semangat kemandirian," kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto seusai acara Jejaring Pemuliaan Induk Udang Vaname di Hotel Santika Surabaya, Jawa Timur, Rabu malam (26/11).

Menurut Slamet, kemandirian antara induk udang lokal dan impor harus dijaga perimbangannya, dimana pada saat ini induk udang impor masih cukup besar dengan presentase 95%, sedangkan induk udang lokal hanya 5% saja. Oleh karenanya diharapkan untuk kedepannya perimbangan induk lokal dan impor bisa berimbang dengan persentase 50–50%. "Induk udang lokal kita masih digunakan dalam tambak tradisional dan semi intensif, sehingga untuk selanjutnya diharapkan induk udang ini bisa masuk dalam tambak intensif," jelas dia.

Dia menambahkan untuk mencapai kemandirian induk udang lokal maka dibutuhkan perencanaan yang matang dalam memanfaatkan induk udang lokal ini menjadi induk kebanggaan dalam negeri. Perencanaan perimbangan induk udang lokal dan impor merupakan salah satu yang akan digalakkan untuk kedepannya.

"Induk lokal kan masih 5 persen pada tahun ini maka di tahun yang akan datang bisa 10%, kemudian tahun 2016 sudah bisa 20%, tahun 2017 bisa 40%, lalu tahun 2018 bisa 45%, kemudian puncaknya pada tahun 2019 bisa 50%. Hal ini dilakukan secara bertahap sehingga pada tahun 2019 mendatang bisa banyak menggunakan induk udang dalam negeri atau lokal," ujar Slamet.

Slamet pun menjelaskan melalui forum Jejaring Pemuliaan Induk Udang Vaname ini akan bisa menjadikan suatu pancingan yang menjadikan perbandingan produk induk udang lokal dan luar negeri. Hal ini juga dikarenakan penambahan lahan tambak menjadi lebih luas pada masa yang akan datang.

"Bahkan, hal ini juga berdasarkan atas arahan menteri Kelautan dan Perikanan yang mengharapkan budidaya perikanan menjadi lebih maju lagi dan hal yang terpenting adalah budidaya perikanan berkelanjutan berwawasan lingkungan," imbuh dia.

Perimbangan induk udang lokal dan luar negeri tidak harus dikuasai sepenuhnya, seperti contoh induk udang lokal harus 100% dibandingkan dengan induk udang luar negeri. Hal ini dikarenakan untuk menjaga pasar udang dalam pemasaran di dalam negeri maupun luar negeri. "Apalagi kita akan memasuki era atau zaman pasar bebas yang membebaskan menjual atau membeli suatu produk atau barang, termasuk komoditas udang ini," tandas Slamet.

Komoditas Unggulan

Slamet menjelaskan pihaknya sedang menyiapkan udang sebagai salah satu komoditas unggulan ekspor Indonesia, untuk mampu bersaing di pasar global melalui komoditas udang lokal. Hal ini akan menjadikan Indonesia tidak tergantung lagi pada benih atau induk udang impor, bahkan Indonesia dinilai mampu mengekspor udang lokal, seperti mengekspor udang Vaname Nusantara 1 (VN-1) ke negara ASEAN lainnya.

"Indonesia sebagai negara produsen udang yang bebas dari penyakit udang Early Mortality Syndrome (EMS) dan bebas residu. Indonesia juga berpeluang meningkatkan produksi dengan terus menggunakan produk dalam negeri dan tidak tergantung produk luar negeri. Udang Indonesia lebih sehat dan lebih aman dibandingkan udang dari negara lain," kata dia.

Dia juga mengungkapkan bahwa produksi udang Vaname pada triwulan III tahun ini baru mencapai 70% dari target produksi yang mencapai 350 ribu ton, sedangkan keseluruhan target produksi total keseluruhan komoditas udang seperti udang galah, windu, vaname mencapai 699 ribu ton.

"Pada tahun depan ditargetkan produksi udang vaname meningkat menjadi 400 ribu ton, sedangkan total target produksi komoditas udang mencapai 720 ribu ton. Oleh karenanya, diharapkan target tersebut bisa tercapai melalui kerja keras yang maksimal," ungkap dia.

Kemudian dia menambahkan dalam sektor perikanan budidaya, Indonesia mempunyai peluang Sumber Daya Alam (SDA) yang belum dimanfaatkan sampai saat ini. Indonesia baru memanfaatkan hanya 10 persen potensi SDA perikanan budidaya, oleh karenanya diharapkan pada tahun 2019 bisa dimanfaatkan 26,8 persen potensi SDA perikanan budidayanya.

"Potensi akuakultur kita sangat besar, kita itu seperti ibarat raksasa yang sedang tidur padahal kita sudah bekerja keras dalam mengembangkan akuakultur. Hal ini akan menjadikan tantangan bagi kita semua dan diharapkan kerjasama yang baik dengan masyarakat dan stakeholder terkait," kata Slamet.

Peningkatan Produksi

Dirjen Slamet mengharapkan pada lima tahun yang akan datang atau tahun 2019, produksi total perikanan budidaya bisa mencapai target 33 juta ton. Negara Tiongkok sudah bisa produksi perikanan budidaya mencapai 60 ribu ton, sehingga Indonesia harus meningkatkan kembali produksi perikanan budidayanya.

"Padahal Tiongkok tidak banyak mempunyai potensi seperti kita, namun bisa memproduksi lebih besar dibandingkan kita. Oleh karenanya, teknologi sebagai kunci utama dalam meningkatkan produktifitas, kemudian selain teknologi, maka dibutuhkan juga tingkat efisiensi dan daya saing yang kuat," ujar dia.

Kata dia, potensi perikanan budidaya yang belum banyak digunakan adalah potensi laut Indonesia. Oleh karenanya, sudah saatnya untuk merambah kepada budidaya laut dalam. "Seperti contoh, menambah potensi tuna yang sekarang sudah melalui tahap pembenihan dan penggemukkan, kemudian kekerangan yang dianggap sama dengan komoditas rumput laut dalam menyerap tenaga kerja yang cukup besar dan tidak memerlukan biaya yang mahal alias biaya murah. Sehingga laut kita mempunyai potensi bagus terhadap komoditas kekerangan," tandas Slamet.

Slamet juga mengungkapkan dengan membangun gerakan kemandirian pembudidaya ikan yang maksimal maka akan meningkatkan kesejahteraan nelayan dan pembudidaya. Pemanfaatan sumber daya alam di laut dan kawasan pesisir mengedepankan prinsip yang beriringan antara produktifitas dan kelestasian alam. "Melalui gerakan kemandirian ini maka pemanfaatan kekayaan dan fungsi perikanan budidaya bisa dimaksimalkan dan menguntungkan masyarakat Indonesia," ujarnya.