Pembudidaya Ikan Mesti Dekat ke Perbankan

Perkuat Akses Modal

Jumat, 28/11/2014

NERACA

Semarang – Sudah saatnya para pembudidaya ikan di Indonesia lebih dekat dengan lembaga keuangan, khususnya perbankan. Hal ini penting untuk mendorong mereka bisa lebih mandiri dalam menjalankan roda bisnisnya. Proses kemandirian ini bisa dilakukan melalui cara mendekatkan pembudidaya dengan pihak perbankan agar masalah permodalan bisa diselesaikan dengan tepat.

"Kita bisa melakukan langkah konkret dengan mensosialisasikan kepada pihak perbankan mengenai budidaya perikanan yang menguntungkan," kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (Dirjen PB) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto seusai acara Forum Evaluasi Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) Perikanan Budidaya tahun 2014 di Hotel Pandanaran Semarang, Jawa Tengah, Kamis (27/11).

Menurut Slamet, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) akan mengidentifikasikan pembudidaya yang mapan dan mandiri sehingga bisa menyodorkan atau mempromosikan mereka kepada pihak perbankan untuk mendapatkan pinjaman permodalan. Direktorat yang dia pimpin akan memberikan rekomendasikan dan memfasilitasi pembudidaya dalam mengakses modal perbankan.

"Tugas kami adalah memfasilitasikan dan mempertemukan pihak perbankan dan pembudidaya dalam permodalan usaha budidaya perikanan. Kami juga akan mengawal apakah pembudidaya yang mendapatkan pinjaman dari perbankan ini menjalankan usahanya dengan sehat. Kemudian kami akan membina pembudidaya mengenai manajemen keuangan dan manajemen pasar sehingga pembudidaya menjalankan usahanya sesuai dengan tujuan yang diharapkan yaitu menguntungkan dalam sisi bisnisnya," tambah Slamet.

Slamet pun menjelaskan pihak perbankan harus diyakinkan dalam memberikan pinjamannya kepada pembudidaya melalui cara menyodorkan suatu usaha budidaya perikanan yang sudah berhasil atau pasti berhasil. Seperti contoh, usaha ikan lele yang bagus, usaha udang yang untungnya mengiurkan, dan usaha rumput laut yang menguntungkan.

"Perbankan harus mengetahui dan paham betul mengenai usaha budidaya ini yang menguntungkan, kemudian pihak perbankan ini juga harus mengetahui kondisi atau faktor-faktor yang menyebabkan kerugian dalam usaha perikanan budidaya ini," jelas dia.

Dia pun menambahkan pembudidaya harus mengetahui mengenai arti penting perbankan atau bank dalam mengucurkan permodalan usaha budidaya perikanan. Masih banyak pembudidaya yang belum mau meminjam kepada bank untuk permodalan usaha mereka.

Bisnis Perikanan Budidaya

Sektor perbankan pada saat ini sudah meminati pembiayaan dalam mengembangkan aktivitas bisnis perikanan budidaya di Tanah Air. "Oleh karenanya, harus ditingkatkan jiwa bisnis kepada pembudidaya dimana pola pikir yang dirubah dari pola tradisional ke pola bisnis. Sekarang ini, pihak perbankan banyak yang mencari nasabah, namun pembudidaya tidak memanfaatkan kondisi ini," ungkap Slamet.

Menurut Slamet, pada saat ini hal yang diperlukan adalah pemahaman kepada pembudidaya untuk memanfaatkan sektor perbankan terkait dengan pembiayaan modal perikanan budidaya. Pembiayaan perbankan diterapkan secara maksimal akan menghasilkan produksi dengan kuantitas tinggi dan kualitas yang memenuhi standar. "Kondisi ini akan mendorong perbankan untuk terus bersemangat dalam membantu," ujar dia.

Dia pun mengatakan kerja sama pembiayaan perbankan dapat terus berkembang pada masa mendatang. Perbankan sangatlah penting peranannya dalam sisi akses modal sehingga pembudidaya bisa menjalankan usahanya dengan baik. "Melalui pembiayaan permodalan dari perbankan ini maka akan mendukung keberlanjutan dari peningkatan produksi perikanan budidaya," imbuh Slamet.

Perbankan nasional, sambung dia, sudah memberikan perhatian terhadap pengembangan sektor perikanan budidaya dengan memberikan kucuran pinjaman bagi investasi di bidang itu. Masalahnya adalah kendala di dunia perbankan yang masih ragu memberi dana bagi investasi di bidang itu.

"Oleh karenanya, kami akan menyakinkan pihak perbankan bahwa bidang perikanan budidaya mempunyai prospek usaha yang menjanjikan, apalagi sektor perikanan budidaya di Indonesia masih memiliki potensi yang sangat luas untuk digarap," tambah dia.

Kemandirian Usaha

Lebih jauh Dirjen Slamet menjelaskan arti penting dari kemandirian perikanan budidaya dimana mandiri itu bukan hanya sekedar mandiri sebagai pengusaha budidaya perikanan yang sukses, melainkan mandiri dalam menggunakan produk-produk dalam negeri dalam menjalankan usaha budidaya perikanan. Mandiri yang dimaksud adalah menggunakan induk unggul dalam negeri seperti contoh menggunakan induk udang lokal yang berangsur-angsur ke arah kemandirian.

"Kemudian mandiri dalam suatu sistem usaha perikanan budidaya seperti sistem hulu dan hilir sudah terbentuk, bahan bakunya sudah mandiri sehingga kemandirian ini bukan diartikan sempit sehingga bisa meluas proses kemandirian perikanan budidaya. Mandiri dalam arti sesungguhnya adalah usaha perikanan budidaya, kelompok, kawasan, produksi, dan peralatan yang sudah mandiri," tandas Slamet.

Slamet menjelaskan membangun sub sektor perikanan budidaya dengan memperkuat koneksi rantai produksi dalam kegiatan usaha dari tingkat hulu hingga ke hilir sangatlah penting. Hal ini dapat memperkuat kegiatan ekonomi dan tentunya mewujudkan kemandirian ekonomi yang kuat. “Kita tentu berharap bahwa perikanan budidaya dapat terus eksis dan menjadi perhatian penuh oleh semua pihak, baik pemerintah, kalangan dunia usaha, perbankan, maupun pelaku usaha,” ujar dia.

Dia pun mengungkapkan masih banyak kelompok-kelompok pembudidaya yang masih berskala kecil, namun sebagian kelompok pembudidaya yang sudah mandiri. Kelompok pembudidaya yang mandiri merupakan kelompok yang tidak hanya mengandalkan bantuan pemerintah saja, melainkan suatu kelompok yang mantap dan kuat sehingga bisa membina kelompok pembudidayaan lainnya. "Budidaya perikanan yang mandiri diberikan bantuan sarana produksi, kemudian dilatih tenaga kerjanya, lalu kawal pasar dan pengolahannya," kata Slamet.