Realisasi Penerimaan Pajak Baru 75%

NERACA

Jakarta - Realisasi penerimaanpajakhingga 14 November 2014 baru mencapai 75,73 persen, atau Rp812,1 triliun dari total target Rp1.072,38 triliun.

Walau begitu, realisasi penerimaanpajaktersebut mengalami kenaikan 6,61 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, Rp761,73 triliun,” seperti dikutip dalam keterangan tertulis Direktorat JenderalPajakKementerian Keuangan, di Jakarta, Kamis (27/11).

PPh migas tercatat sebesar Rp74,5 triliun, atau 88,8 persen dari target yang sebesar sebesar Rp83,89 triliun. Sementara dari PBB tercatat sebesar Rp14,9 triliun, atau 68,56 persen dari target Rp21,7 triliun.

Sementara untuk PPh nonmigas tercatat Rp389,16 triliun, atau 80,08 persen dari target di APBNP 2014 yang sebesar Rp485,98 triliun.

Terbesar, disumbang dari PPh pasal 25/29 badan sebesar Rp124,7 triliun, atau 68,64 dari target. PPh pasal 25/29 badan ini mengalami penurunan 6,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, Rp133,4 triliun.

Lalu dari PPh pasal 21 tercatat Rp93,097 triliun, atau 88,1 persen dari target. PPh pasal 24 impor tercatat Rp35,35 triliun, atau 82,5 persen. Dan PPh final tercatat Rp73,8 triliun, atau 88,01 persen dari target.

Selanjutnya, PPN dan PPnBm tercatat Rp328,49 triliun, atau 69,07 persen dari target Rp467,59 triliun. Terbesar, PPN dalam negeri tercatat Rp186,3 triliun, atau 67,8 persen dari target. Sementara PPN impor tercatat Rp128,7 triliun, atau 72,84 persen dari target.

Namun begitu, Menteri KeuanganBambang Brodjonegoro percaya diri penerimaan pajak dan cukai jika ditotal akan melewati Rp1.000 triliun pada akhir tahun 2014. Walaupun pada penerimaan pajak sendiri sampai saat ini di bawah Rp1.000 triliun. " Meski belum memenuhi target, tapi ini pencapaian sangat baik," kata Bambang.

Namun untuk di tahun 2015, target yang akan dicapai akan cukup sulit karena mencapai Rp1.400 triliun untukpenerimaan pajakdan cukai.

Untuk capai target berat ini, butuh dukungan penuh dari pimpinan negara dan rekan-rekan menteri. Dan satu lagi, kami di Kemenkeu termasuk di cukai berkomitmen berikan yang terbaik dalam memenuhi kebutuhan APBN. "Karena baik tidaknya APBN, besar kecilnya defisit sangat dipengaruhi dari kemampuan kita penuhitarget," tuturnya.

Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Fuad Rahmany menyatakan menumpuknya kendala yang dihadapi lembaganya menjadi faktor penghambat melesetnya target pendapatan yang diamanatkan negara dalam APBN. "Perbaikan-perbaikan kita banyak, tapi kendalanya juga banyak masalah," ujarnya.

Menurut Fuad, persoalan yang dihadapi lembaganya dalam merealisasikan target pendapatan negara cukup banyak. Selain persoalan sistem yang belum semuanya terkoneksi menggunakan IT atau teknologi informasi, minimnya kantor pajak, biaya operasional, serta kurangnya jumlah pegawai saat ini menjadi faktor lain penghadang raihan target tersebut. "Akhirnya, ya, kita kerja semaksimal mungkin dengan yang ada saat ini," kata dia. [agus]

BERITA TERKAIT

Hingga November 2017, Realisasi KUR 85,6%

  NERACA   Jakarta - Pemerintah mencatat realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga akhir November 2017 telah mencapai Rp91,3 triliun…

New Honda Vario eSP Dapat Sentuhan Tampilan Baru

PT Astra Honda Motor (AHM) merilis tampilan anyar untuk skutik andalan mereka, New Honda Vario eSP, yang disemati pembaruan pada…

Infiniti Perkenalkan All New QX50 Dengan Mesin Baru

Infiniti memperkenalkan medium sport utility vehicle (SUV) kelas premium, All New QX50, yang menggunakan mesin bensin terbaru VC Turbo dengan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

PII Dorong Pemda Manfaatkan Skema KPBU

  NERACA   Jakarta - PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII) mendorong agar Pemerintah Daerah (Pemda) memanfaatkan skema Kerjasama Pemerintah dan…

IIF Dapat Kucuran Rp1 triliun dari JICA - Untuk Bangun Infrastruktur

    NERACA   Jakarta - PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) menandatangani perjanjian pinjaman sebesar ¥ 8.000.000.000 atau sekitar Rp…

Pasar Tekstil Tanah Abang Melesu

  NERACA   Jakarta - Penjualan tekstil di Pasar Tanah Abang masih lesu, sehingga beberapa pedagang pakaian jadi pun terpaksa…